<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rienayesha&#039;s Raindrops &#38; Hi Heels</title>
	<atom:link href="http://rienayesha.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rienayesha.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Dec 2009 06:42:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Keajaiban bernama &#8216;Sang Waktu&#8217;</title>
		<link>http://rienayesha.com/2009/12/10/kejaiban-bernama-sang-waktu/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2009/12/10/kejaiban-bernama-sang-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 04:47:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Keajaiban]]></category>
		<category><![CDATA[Maya]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[&#160; 
Kehidupan memang penuh keajaiban. Apa yang ada di genggaman kita saat ini bisa saja hilang hanya dalam hitungan detik dan juga sebaliknya, dalam tempo yang sama apa yang bahkan tak pernah terpikir untuk bisa kita miliki&#160; tiba-tiba sudah di tangan. Betapa berartinya detik demi detik itu, tapi nyatanya kita [terutama aku pribadi] jauh lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#160;<img style="border-right-width: 0px; margin: 0px auto; display: block; float: none; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="11112009404" border="0" alt="11112009404" src="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2009/12/11112009404.jpg" width="162" height="215" /> </p>
<p align="justify">Kehidupan memang penuh keajaiban. Apa yang ada di genggaman kita saat ini bisa saja hilang hanya dalam hitungan detik dan juga sebaliknya, dalam tempo yang sama apa yang bahkan tak pernah terpikir untuk bisa kita miliki&#160; tiba-tiba sudah di tangan. Betapa berartinya detik demi detik itu, tapi nyatanya kita [terutama aku pribadi] jauh lebih sering mengabaikannya. Detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun-tahun di belakang banyak yang berlalu begitu saja tanpa <em>greget</em> apa-apa.</p>
<p> <span id="more-230"></span>
<p align="justify"></p>
<p align="justify">Puisi ini adalah sebuah monumen untuk mengingat satu waktu yang pernah aku lewati di pertengahan tahun 2008, saat dimana keajaiban menyapa sejenak dalam bentuk waktu sepanjang tujuh jam dan sebuah tantangan kecil yang terlontar di sela-selanya. Aku yakin itu bukan ‘keajaiban’ yang ada di kepala kebanyakan orang tapi kejaiban itu mampu membawakan sebuah pembelajaran baru untukku. Sebuah pelajaran bahwa definisi sedih, bahagia, harapan, keputus-asaan, maya, nyata, waktu, dan entah berapa banyak hal lain yang ada di sekitar kita tak akan pernah berhenti bertransformasi bersama waktu dan apa yang kita lewati di dalamnya.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="center">[My notepad, ketika tiba2 kutemukan ironi.. tepatnya Rabu,170908]</p>
<p align="center"><strong>7 JAM BERSAMAMU</strong></p>
<p align="center">Sungguh&#8230;    <br />Menulis tentang 7 jam bersamamu terasa seperti siksa     <br />membuat jemariku kaku dan seolah hilang kewajarannya     <br />lalu ia juga membawakanku atmosfer yang gelisah memenuhi udara     <br />dan memaksaku terduduk diam, tak mampu bersuara</p>
<p align="center">Kucoba membenamkan diriku dalam rentetan memori    <br />Mengais-ngais, mencoba menemukan kesadaran yang saat itu kumiliki     <br />Terus saja mencari makna diantara deretan gambar yang pernah tercipta     <br />tapi&#8230; lagi-lagi     <br />7 jam seolah tak mampu memberikanku jawaban apa2</p>
<p align="center">Tak akan berani kupinta 7 jam yang sama    <br />menyadari bahwa kadang kehidupan tak selalu seindah keinginan kita     <br />dan mungkin&#8230; karena keputusasaanlah,     <br />Kuputuskan untuk tak berkata2     <br />Diam dan tak pernah berani melangkah lagi untuk mencoba</p>
<p align="center">Menulis 7 jam bersamamu seperti berjalan dalam maya    <br />Mengukir keindahan yang akhirnya hilang ketika mata terbuka     <br />Terkikis kesadaran, anugrah yang tiba-tiba terasa bagai bencana     <br />menghapus tiap harapan yang telah tersemat diantara baris yang ada</p>
<p align="center">Kusyukuri hari ini    <br />Saat 7 jam bersamamu kadang terasa seperti air yang mengobati     <br />Menuangkan untukku secangkir dingin dalam panas yang tak terkira     <br />Meski tak kumengerti bagaimana ia bekerja</p>
<p align="center">Tetap saja&#8230;    <br />Tak kuyakini kebenaran akan datang pada kita     <br />Tapi kepercayai bahwa sebenarnya ia ada..     <br />Entah menunggu,     <br />Entah memang tak ingin diganggu..     <br />Tak pernah kutahu     <br />Yang ada dalam benakku,     <br />bahwa harapan akan selalu menemukan jalannya     <br />Mungkin berakhir dengan kalah     <br />Mungkin juga suatu ketika berlangsung indah</p>
<p align="center">Haruskah kuukir lagi??</p>
<p align="center">7 jam bersamamu,    <br />Mungkin,itu memang hanya mimpi..</p>
<p>&#160;</p>
<p align="justify"><em>&#8211;&gt; Terimakasih telah memberiku ‘keajaiban’ itu. Menyadarkanku bahwa kemanapun kulangkahkan kakiku, akan selalu ada sahabat untukku</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2009/12/10/kejaiban-bernama-sang-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bintang Pentas</title>
		<link>http://rienayesha.com/2009/11/16/bintang-pentas/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2009/11/16/bintang-pentas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 08:35:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Bintang]]></category>
		<category><![CDATA[Orkes]]></category>
		<category><![CDATA[Pentas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[Saya&#8230;      Sang bintang pentas       Bekerja bila malam tiba       Malam kujadikan siang       Siang berlalu penuh mimpi
Dari pentas satu ke pentas yang lain       Aku nyanyikan suara hati….

Aku menyanyikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p align="center">Saya&#8230;      <br />Sang bintang pentas       <br />Bekerja bila malam tiba       <br />Malam kujadikan siang       <br />Siang berlalu penuh mimpi</p>
<p align="center">Dari pentas satu ke pentas yang lain       <br />Aku nyanyikan suara hati….</p>
</blockquote>
<p align="justify">Aku menyanyikan lagu yang sama, entah untuk keberapa ratus kalinya.. Masih juga diiringi orkes melayu pimpinan Mas Jarwo, orkes melayu yang sama juga. Apakah salah kalau akhirnya aku benar-benar merasa bosan. Ya.. meskipun pada awalnya lagu ini adalah lagu yang paling aku sukai. Tapi Mas Jarwo bilang banyak penonton yang meminta aku tampil dengan lagu itu, katanya suaraku sangat mirip dengan si empunya lagu. Pujian yang tadinya sempat membuatku begitu tersanjung.</p>
<p> <span id="more-213"></span>
<p align="justify">Lagu ini memang dulunya seperti curahan hatiku, penyanyi kampung yang hidup dari pentas terbuka dan panggung yang tak pernah sama. Penyanyi kampung, begitu orang-orang terbiasa menyebut profesiku . Sebutan yang aku terima dengan senang hati karena memang aku belum pernah tampil di <em>tivi</em> atau menyanyi di depan ribuan penonton seperti mereka yang disebut dan menyebut dirinya sebagai &quot;artis&quot;, yang katanya dibayar dengan jumlah uang yang bisa dipakai untuk membuat pesta meriah untuk orang sekelurahan. Aku cuma berpindah dari kampung satu ke kampung lain, hajatan satu ke hajatan lain dengan bayaran yang tak tentu.</p>
<p align="justify">Aku, seorang gadis yang bekerja sebagai <em>greeter</em> di sebuah restoran&#160; di siang hari dan&#160; kemudian menjelma menjadi seorang penyanyi di malam harinya. Bukan mauku.. tapi gaji tujuh ratus ribu sebulan dikurangi dengan kewajiban membayar kost dan makan tak pernah cukup dipakai untuk mengurangi beban ibuku di kampung, membantu mewujudkan cita-cita adik lelakiku meminang istri Pak Kamituwo.&#160; Lewat menyanyi inilah keuanganku bisa terbantu, bermodal baju pinjaman Mbak Yuli yang memang cuma itu-itu saja, aku bisa menabung untuk ibu dan adikku.</p>
<p align="justify">Aku hanya tidak ingin pengalaman dan nasibku terulang pada adik. Dulu Mas Hermawan dilarang menikahiku karena keluargaku tidak mampu menyediakan sejumlah uang untuk pesta pernikahan kami bahkan setelah &quot;dibantu&quot; dengan jumlah yang cukup besar dari pihak Mas Hermawan. Entahlah apa memang itu hanya sebuah rekayasa agar pernikahan kami tak pernah terlaksana, atau memang benar keluargaku sungguh tak pantas karena ketidakmampuannya menyelenggarakan pesta yang ‘pantes’ untuk mengimbangi acara mas hermawan yang memang anak seorang lurah. Peristiwa itu sungguh menyakitkan untukku meskipun aku sadar bahwa aku cuma seorang Ranti, anak piatu dari seorang buruh tani miskin. Rasa sakit itulah yang akhirnya membawa langkahku sampai di kota ini. </p>
<p align="justify">Malam ini rasanya benar-benar mengesalkan, penyanyi baru bernama Ratna yang matanya kadang menjelma seperti mata ular itu mulai berulah lagi. Kemarin dia tidak menyampaikan pesen mas Jarwo yang akhirnya mengira aku malas latihan. Dia juga pernah berbohong dengan mengatakan pada mas Jarwo bahwa aku tak perlu jemputan sehingga aku terlambat datang ke pentas. Beberapa minggu yang lalu, dia juga menyebarkan isu bahwa aku akan bergabung ke grup orkes lain hanya karena aku beberapa kali terlihat bersama salah seorang penyanyi mereka yang mulai dekat denganku sejak ketidaksengajaanku bertemu dengannya di rumah mbak yuli. Padahal tidak… sungguh aku tak ingin meninggalkan mas Jarwo dan grup-nya. Mas Jarwo-lah yang sudah mengalirkan rejeki yang tak sedikit, melatihku, mengajariku dan sekaligus menjagaku. Malam ini dia membuat aku hampir tak bisa tampil karena bajuku basah karena air yang katanya ‘nda sengaja’ ia tumpahkan.</p>
<p align="justify">Inilah duniaku, dunia kecil yang tak kalah keras dengan dunia malam diluar sana. Demi beberapa lembar lima puluh ribuan banyak yang bersedia melakukan segala hal. Mulai dari menciptakan goyangan yang aneh-aneh, mencari pengasihan ke dukun, melontarkan fitnah atau bahkan guna-guna pada teman sendiri, dan banyak lagi hal gila lain yang jauh dari nalarku. Bagi sebagian dari penghuni dunia kecil ini, spapun akan dilakukan demi sebuah kesempatan manggung. Ya.. kesempatan yang kadang juga berarti ajang ‘menggelar dagangan’ begitu istilah sebagian teman-temanku. Disebut ‘menggelar dagangan’ karena tidak sedikit yang juga berjualan tubuh sambil menyanyi. Aku sendiri, bukan sekali atau dua kali aku menerima tawaran semacam itu.</p>
<p align="justify">Duh gusti… tak pernah putus aku berdoa semoga cita-citaku untuk membahagiakan orang-orang yang kusayangi tak akan membawaku kepada para pencari kepuasan yang menawarkan lebih banyak lembar uang itu. Semoga keinginanku tetap berada disini tak akan membawaku ke dukun, tak membuatkau perlu menjegal teman-temanku sendiri. Karena aku hanya ingin menjadi penyanyi kampung yang sederhana, bintang pentas kecil yang bisa membahagiakan keluarganya.. itu saja…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2009/11/16/bintang-pentas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lelaki bisu dan perempuan sepi</title>
		<link>http://rienayesha.com/2009/03/19/lelaki-bisu-dan-perempuan-sepi/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2009/03/19/lelaki-bisu-dan-perempuan-sepi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2009 08:15:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/2009/03/19/lelaki-bisu-dan-perempuan-sepi/</guid>
		<description><![CDATA[
&#8211;Perempuan Sepi&#8211;
Memuakkan, membayangkan bahwa esok aku tak bisa menemuimu lagi. Bukan sayang.. bukan menyedihkan, tapi memuakkan. Bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun kita bersama akhirnya kita harus berpisah dengan cara yang jauh dari sekedar menyakitkan, cara yang amat sangat tidak pantas.

Aku tak bisa menerima ini, tapi segenap suaraku sudah kuteriakkan, segenap energiku sudah kukeluarkan, berbulan-bulan sayang… tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong></strong></p>
<p align="justify"><strong>&#8211;Perempuan Sepi&#8211;</strong></p>
<p align="justify">Memuakkan, membayangkan bahwa esok aku tak bisa menemuimu lagi. Bukan sayang.. bukan menyedihkan, tapi memuakkan. Bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun kita bersama akhirnya kita harus berpisah dengan cara yang jauh dari sekedar menyakitkan, cara yang amat sangat tidak pantas.</p>
<p><span id="more-216"></span></p>
<p align="justify">Aku tak bisa menerima ini, tapi segenap suaraku sudah kuteriakkan, segenap energiku sudah kukeluarkan, berbulan-bulan sayang… tapi tetap saja semuanya dikalahkan oleh sebuah coretan dengan tinta murahan itu. Tinta yang dibeli dengan kelicikan para penguasa. Kadang aku bertanya tak bisakah mereka membelinya dengan cara lain selain penghancuran seperti yang kita hadapi sekarang.</p>
<p align="justify">Bicaralah sayang… sekali saja, jika memang senja ini adalah terakhir kali kita bersama. Ingin sekali aku mendengar suaramu, sekali saja… bukankah hampir setiap hari aku datang padamu dengan banyak cerita yang mungkin bisa kujadikan puluhan novel baru jika kutuangkan diatas kertas. Lelakiku sayang, betapa setianya dirimu menemaniku…. mendengarkan semua keluh kesah dari sedih dan bahagiaku… tentang lalu lintas yang menghabiskan waktuku tiap hari, tentang udara yang membuatku terbatuk-batuk, tentang limpahan air yang menggenangi setiap sudut kota ini, tentang musim yang tak juga kunjung berganti, tentang anak anjing kecil milik tetanggaku yang menyebalkan, tentang novel-novel baruku, tentang buku-buku bacaan lusuh hasil perburuanku di pasar loak, ahh.. coba ingatlah, ternyata begitu banyak yang sudah aku bagi denganmu sayang…</p>
<p align="justify">Dan lihatlah betapa aku tak bisa menyelamatkanmu, menyelamatkan kita dari perpisahan ini, betapa bersalahnya aku…</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong>&#8211;Lelaki bisu&#8211;</strong></p>
<p align="justify">Perempuanku terkasih, aku sedih.. tahukan kau?? esok aku tak akan bisa menemanimu lagi. Tahukah kau betapa bahagianya diriku ketika setiap senja kau datang dengan semua cerita-ceritamu. Ingin aku membagi cerita-cerita serupa juga atau sekedar berkomentar tentang jalanan yang penuh amarah, tentang udara yang kotor, tentang banjir yang meluas, tentang musim penghujan yang katamu tak kunjung berhenti, tentang anak anjing kecil yang jorok, tentang novel-novel karanganmu, tentang buku-buku bekas yang lusuh, dan tentu saja tentang senja-senja kita.. Tapi kau tahu aku bisu kasih…</p>
<p align="justify">Sesekali aku ingin sekali memelukmu dan meredakan segala gundah yang mengelilingimu, membuat udara di sekitarmu begitu menyesakkan untuk kau hirup. Tapi aku tak pernah bisa… yang ku mampu hanya meminjamkan lenganku yang katamu selalu dingin, menyediakan bahuku yang katamu terlalu keras, membiarkanmu bersandar sambil memandangi anak-anak kecil yang berebut bola, mengamati gelandangan yang mengais-ngais sampah, atau sekedar berandai-andai menjadi pedangang keliling yang kadang mencuri-curi kesempatan mencari beberapa lembar ribuan di sudut taman ini sebelum lelaki-lelaki berbadan tegap itu berpatroli.</p>
<p align="justify">Dan sore ini, sungguh… yang kuinginkan adalah memelukmu, mengatakan beberapa kata saja. Aku sungguh menyayangimu perempuanku terkasih… sungguh… dan aku akan rela menjadi kepingan-kepingan kecil atau bahkan debu. Tak akan ada penyesalan lagi.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong>&#8211;Pedagang keliling&#8211;</strong></p>
<p align="justify">Aku begitu heran dengan perempuan itu, sudah beberapa bulan Ia selalu duduk dibangku itu dengan mata berkaca-kaca bersama komputer jinjingnya. Aku tak tahu namanya, yang kutahu sudah bertahun-tahun di setiap senja Ia akan duduk di bangku panjang dibawah pohon di sudut taman itu. Sesekali aku melihatnya tertidur menyandar pada patung lelaki yang duduk diujung bangku. Lelaki yang tampan aku kira, tak serupa dengan badut yang juga duduk di bangku yang hampir sama di restoran cepat saji di belokan lampu merah didepan.</p>
<p align="justify">Aku tak tahu namanya dan apa yang sebenarnya ia lakukan disana, tapi sesekali ia tersenyum ketika kami kami cukup dekat untuk saling bertegur sapa. Tentu saja pedagang keliling seperti aku tak berani bertanya… Yang aku tahu perempuan itu adalah penghuni apartemen menjulang di seberang jalan. Tempat yang bahkan halamannya tak boleh aku lewati. Pernah aku sakit hati karena satpam-satpam yang siaga disana memaki-maki aku ketika aku berhenti sebentar memperbaiki roda gerobakku. Jauh lebih menyakitkan dibandingkan saat-saat aku harus berkejaran dengan tramtib yang suka berpatroli dan melarang pedagang-pedagang sepertiku mangkal di seluruh penjuru kota ini.</p>
<p align="justify">Kasihan perempuan itu tampaknya Ia begitu sedih, dan senja ini aku melihatnya menangis. Matanya memerah dan bengkak. Mungkin karena taman ini akan diratakan dengan tanah besok.. mau dibangun mall katanya. Ia menggandeng lengan dan meletakkan kepalanya di bahu patung itu. Kenapa tiba-tiba aku seolah melihat patung itu bersedih juga. Wajahnya tak setampan biasanya… seperti mau menangis.</p>
<p align="justify">Ahh, mungkin aku terlalu berlebihan. Tapi memang seharusnya taman yang tak banyak lagi di kota ini dipertahankan, terutama yang satu ini… tapi katanya penguasa-penguasa kota ini tampaknya haus uang. Begitu katanya.. toh meskipun banyak demo yang menolak alih fungsi taman ini, tetap saja akhirnya papan pengumuman itu berdiri tegak disitu…  dan perempuan itu, pasti ia akan sangat kehilangan…</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong>&#8211;Perempuan sepi&#8211;</strong></p>
<p align="justify">Sayang, hari ini aku akan keluar kota… aku sungguh tak ingin melihatmu di hantam martil-martil itu sampai kau menjadi debu. Melihat pohon-pohon besar yang biasanya menaungiku dicerabut dari tanah. Melihat rumput-rumput hijau itu dikuliti. Mungkin, setelah itu ketika aku kembali ke kota ini aku tak akan pernah menengok lagi ke sudut dimana taman kita ini pernah begitu asri dan menyediakanku tempat untuk melepaskan diri sejenak dari semua hiruk-pikuk kota metropolitan yang penuh polusi ini.</p>
<p align="justify">Sungguh bagiku kau tak hanya sekedar adonan semen yang menjadi penghias bangku taman, bagiku.. kau adalah lelakiku tersayang…</p>
<p align="justify">Maafkan aku.…  selamat tinggal…</p>
<p align="justify">
<p align="justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2009/03/19/lelaki-bisu-dan-perempuan-sepi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepotong DeJaVu Untuk Asti</title>
		<link>http://rienayesha.com/2009/02/11/elevasi-2/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2009/02/11/elevasi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 22:55:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[DeJeVu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/2009/02/11/elevasi-2/</guid>
		<description><![CDATA[Asti, bagaimana kabarmu disana?? tidak terasa lima tahun sudah aku tak lagi mendengar papaun tentangmu kecuali bahwa tanah yang kita pijak saat ini tidaklah sama. Sejujurnya, lima tahun juga sesekali aku dipaksa berusaha semampuku melupakanmu, berjuang memendam kerinduan yang mengalir dan mengarus di ruang-ruang jiwaku, mencoba melawan semua kegelisahan yang sering kali menyusup diam-diam diantara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Asti, bagaimana kabarmu disana?? tidak terasa lima tahun sudah aku tak lagi mendengar papaun tentangmu kecuali bahwa tanah yang kita pijak saat ini tidaklah sama. Sejujurnya, lima tahun juga sesekali aku dipaksa berusaha semampuku melupakanmu, berjuang memendam kerinduan yang mengalir dan mengarus di ruang-ruang jiwaku, mencoba melawan semua kegelisahan yang sering kali menyusup diam-diam diantara hariku As. Sering.. aku berhasil menepikanmu, tapi tetap saja tempat-tempat yang dulu kita singgahi, makanan-makanan yang dulu kita nikmati, jalan-jalan yan dulu kita susuri dan entah berapa banyak hal lagi yang dulu pernah kita bagi.. selalu saja datang dan menarikku kepada ingatan akanmu. </p>
<p> <span id="more-209"></span>
<p align="justify"></p>
<p align="justify">Memang benar apa kata aji As, kau berbeda dengan makhluk-makhluk indah lain yang pernah kami temui. Entahlah apakah kau pernah tahu, kami sering mengamatimu dari kejauhan.. ketika kau berlompatan di taman sambil sesekali membelai kelopak bunga aneka warna, ketika kau menikmati hembusan angin di balkonmu dengan mata terpejam, ketika kau menyapa semua orang yang kau temui dengan senyuman, ketika kau mempesona semua klien kita dengan matamu yang penuh keyakinan, juga ketika kau menari di tengah hujan. </p>
<p align="justify">Dulu.. aku, kamu dan aji seperti legenda ya As. Belum pernah ada yang bisa menyamai rekor kita untuk urusan proyek-proyek besar untuk perusahaan kita yang selalu berakhir dengan gemilang. Aku dengan segudang konsep dan ide, aji dengan kemampuannya mewujudkannya diatas kertas, dan kau dengan kemampuanmu meyakinkan orang lain yang luar biasa. Aku pernah bilang kan keberhasilan itu benar-benar berkah untukku. Ya…&#160; karena dengan bgitu aku berkesempatan mengunjungi banyak tempat, dan itu bersamamu. </p>
<p align="justify">Bersamamu As, momen-momen itu benar-benar seperti sebuah masa penuh keajaiban. Hidupku yang sudah lengkap menjadi lebih dari sekedar sempurna sejak kau hadir. Meskipun yang aku mampu hanya memandangimu dari kursi di seberangmu, sambil seolah-olah melihat adegan yang hanya kita temui di film-film. Konyol, tapi aku seperti melihat roh-ku yang melangkah keluar dari raga ini lalu menuju sisimu.. membelai rambutmu.. merasakan hangat pipimu.. dan masuk ke dalam matamu. Rasanya seperti potongan scene yang tak berhenti diputar berulang kali dan aku tak pernah bosan menontonnya. Aku tahu kau tahu….. dan seperti katamu pada akhir kebersamaan kita bahwa sebenarnya bukan aku sendiri yang mengalaminya, karena kau juga punya adegan sendiri disebrang sana.</p>
<p align="justify">Asti, melihat pancaran matamu seperti menemukan oase yang menjadi tempatku membasuh segala kegelisahan. Mata yang seolah selalu berbicara dan meyakinkanku bahwa tak ada apapun yang perlu aku risaukan. Mata yang menghentikan anganku yang awalnya sering kelelahan dalam pencariannya, memberi sebuah jawaban dari setiap pertanyaan yang meskipun samar… anehnya selalu meyakinkan dan menenangkan. Entahlah apa sebenarnya yang kau punya, tapi bersamamu membuatku tidak ngoyo meraih mimpi-mimpi setinggi langit yang memang jauh dari jangkauan, membuatku merasa cukup dan bahkan berlebih dengan yang kupunya denganmu.</p>
<p align="justify">Aku memuja caramu bercanda dan mengalihkan topik pembicaraan kita dari urusan hati yang tak pernah membuatku mengeryitkan kening. Kau juga selalu berhasil meredam gundah yang sesekali muncul mengganggu langkahku. Aku tahu ada rasa yang sama dari mata itu As, aku yakin sekali saat itu. Tapi tak pernah tidak… humormu [dan akhirnya dilengkapi dengan humorku juga] membawa skor kita ke 0-0 lagi.</p>
<p align="justify">Malam ini adalah malam yang sama dengan malam itu, malam terakhir dari perjalanan bisnis kita di bandung.&#160; Malam yang akhirnya&#160; juga menjadi malam terakhir aku melihatmu yang ternyata diam-diam pergi, mengundurkan diri dari perusahaan ketika esok harinya kita kembali ke Surabaya dan aku terbang untuk tugas di negeri tetangga sampai 2 minggu setelahnya. Malam ketika aji berpura-pura ingin sendiri karena ia ingin memberi kesempatan bagi kita untuk berdua saja. Ah, dia tahu kau akan pergi kan??? dulu aku sempat begitu marah dengan kalian karena tampaknya hanya aku yang tak tahu perihal kepindahanmu.</p>
<p align="justify">Kau begitu cantik dengan cocktail dress warna&#160; merah marun itu As, baju yang seolah dibuat memang hanya untukmu saja. Kesederhanaan yang kau sempurnakan dengan rambut yang kau biarkan tergerai tanpa hiasan apapun. Aku sempat terhenyak melihatmu ktika itu. Penampilan yang tak biasa untuk seorang asti.&#160; Ya malam itu… di restoran dengan city view luar biasa itu, akhirnya segalanya mewujud menjadi kata-kata juga. Ketika kau tak lagi mematahkan kataku dengan humormu, saat skor kita bergerak dari angka nol,&#160; saat kau membiarkan kita membahas tentang perasaan aneh ini. Masih kuingat jawabmu ketika kupertanyakan diammu,</p>
<p align="justify"><em>“Mas… cinta berhak memilih kan?! Cintaku datang dan memilih untuk tak merusak apapun mas, tidak juga dirimu… Aku percaya untuk membuat sebuah kesempurnaan, kita tak perlu mengorbankan kesempurnaan yang lain. Aku selalu berpikir perasaan yang kudapat adalah anugrah, bukan untuk menciptakan kesalahan-kesalahan baru karena sejatinya ia tidak salah… tapi cara kita menyikapinya-lah yang akhirnya menentukan dimana kita berdiri”</em></p>
<p align="justify"><em>“malam ini, maukah kau berdansa denganku??”</em> tanyamu akhirnya.</p>
<p align="justify">Tahukan kau betapa bahagianya aku&#160; malam itu. Genggaman tanganmu, pelukanmu, begitu menenangkan. Bukan gejolak ombak laut bergemuruh yang memenuhi dada dan kepalaku yang malam itu, tapi gelombang tenang sebuah permukaan danau yang menyelimuti jiwa dan ragaku. Hangat dan wangimu tak membuatku tenggelam, tapi justru membawaku ke dalam sebuah kesadaran bahwa cinta memang tak semata tentang memiliki. </p>
<p align="justify">Malam itu kau berikan sebuah kejutan untukku ketika kau melangkah sendiri ke panggung, berbisik sebentar kepada pemain piano yang sejurus kemudian membawakanmu sebuah gitar. Aku masih terheran-heran dengan adegan itu&#160; ketika suaramu terdengar di mic.</p>
<p align="justify"><em>“malam ini adalah malam istimewa untuk sahabat saya, Arya.. dan saya ingin mempersembahkan sebuah lagu untuknya. Ku yakin Cinta”</em></p>
<p align="justify">Lalu kaubiarkan suaramu mengalun bersama petikan jemarimu sendiri menyanyikan lagu indah itu yang kemudian disambut tepuk tangan seluruh tamu yang ada disana. Demi tuhan, setahun bersamamu tak pernah aku tahu bahwa kau bisa memainkan jemarimu diatas gitar dengan begitu lincahnya. </p>
<p align="justify">Penutup malam itupun begitu luar biasa. Kau biarkan aku menggenggam jemarimu ketika kita meninggalkan tempat itu. Di depan kamarmu kau berikan lagi tatapan dan senyuman itu. Tapi kali ini kulihat ada genangan bening disana. Betapa inginnya aku memelukmu As, dan aku tahu kau menginginkan yang sama. Tapi kau hanya bergerak membisikkan sesuatu. Aku masih merasakan hangat nafasmu ketika kau berbisik As,</p>
<p align="justify"><em>“Aku yakin cinta sejati punya cara misterius yang indah untuk kembali lagi mas, suatu hari nanti…”</em> </p>
<p align="justify">Senyummu lagi-lagi mengembang, sekali lagi… meyakinkanku sedetik sebelum kau menghilang di balik pintu. </p>
<p align="justify">Malam ini, setelah lima tahun belalu aku membuktikannya. Aku dan keluargaku memilih liburan di Bandung, di hotel yang sama dengan yang pernah kita tempati dulu. Dan disini di restoran yang sama juga, aku seolah mengalami deja vu. Aku sedang memandangi&#160; kerlip kota bandung ketika seorang gadis maju kepanggung. </p>
<p align="justify"><em>“malam ini adalah malam istimewa untuk sahabat saya, Arya..”</em></p>
<p align="justify">Aku terhenyak mendengar namaku disebut</p>
<p align="justify"><em>“Saya ingin mempersembahkan sebuah lagu untuknya, sebuah lagu dari D’Cinnamon”</em></p>
<p align="justify">ucapnya mantap sambil memandang seorang pemuda tampan yang terpisah 3 meja dariku. Bukan aku yang ia sebutkan tadi. Kulihat mata pemuda yang dipanggil arya itu berbinar terang, senyumnya melukiskan kebahagiaan tak terkira. Gadis itu memainkan jemarinya, menyanyikan lagu yang sama denganmu, bergaun hitam dengan rambut tergerai. Adegan itu membuat mataku menghangat, aku bisa melihat ekspresi yang sama dengan ekspresimu 5 tahun yang lalu di wajah gadis itu. Dan aku rasa ekspresiku ketika itu sama persis dengan pemuda itu. Mungkin namanya bukan Asti… tapi kini aku percaya sepenuhnya…</p>
<p align="justify">CINTA SEJATI SELALU PUNYA CARA MISTERIUS YANG INDAH UNTUK KEMBALI…</p>
<p align="justify">Tiba2 ketika aku sadar, seorang gadis kecil dengan baju marun sudah berdiri di sebelahku&#160; memandangiku dengan heran.. entah sudah berapa lama dia disana. Disodorkannya Handphone yang biasa menemaniku selama ini,</p>
<p align="justify">“<em>papa kenapa??? handphonenya berbunyi terus di kamar, jadi mama minta adek&#160; untuk mengantarkannya ke ayah”</em></p>
<p align="justify">Aku hanya menggeleng kepadanya dan tersenyum. Gadis yang sudah menginjak usia SD itu membawaku ke alam nyata As, ahh… anakku sayang perwujudan cinta sejatiku yang lain.</p>
<p align="justify">Semoga kau bahagia dimanapun kau berada Asti…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2009/02/11/elevasi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepiring Nasi Mentega</title>
		<link>http://rienayesha.com/2009/01/19/sepiring-nasi-mentega/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2009/01/19/sepiring-nasi-mentega/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jan 2009 06:25:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/2009/01/19/sepiring-nasi-mentega/</guid>
		<description><![CDATA[Aia tergugu di depan layar komputer-nya, menangis karena luapan amarah tak terkira yang sudah&#160; dibendungnya selama 12 jam terakhir. Sudah berkali2 Ia mencoba menemukan kejanggalan, keanehan,dan kekurangan di deretan kode2 itu tapi tetap saja Ia tak berhasil mencari tahu apa yang salah. Matanya perih karena terus terpaku pada layar resolusi besar di hadapannya, sementara pergelangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Aia tergugu di depan layar komputer-nya, menangis karena luapan amarah tak terkira yang sudah&#160; dibendungnya selama 12 jam terakhir. Sudah berkali2 Ia mencoba menemukan kejanggalan, keanehan,dan kekurangan di deretan kode2 itu tapi tetap saja Ia tak berhasil mencari tahu apa yang salah. Matanya perih karena terus terpaku pada layar resolusi besar di hadapannya, sementara pergelangan tangannya nyeri karena terlalu banyak mengoperasikan tetikus cantik miliknya. Untuk beberapa saat tubuhnya bergetar hebat, tangannya terangkat dengan cepat dan..</p>
<p> <span id="more-204"></span>
<p align="justify"><em>Prakkkk</em></p>
<p align="justify">tetikus mungil menghantam dinginnya marmer di ruang kerja minimalis itu,&#160; hanya dalam hitungan detik&#160; dan bentuk aslinya tak lagi terlihat, berganti menjadi entah berapa puluh kepingan2 kecil. Ia yang beusaha berdiri juga tak kuasa menahan berat tubuhnya hingga akhirnya terjatuh di antara kepingan2 kecil itu.</p>
<p align="justify">Jauh di lubuk hatinya Ia tahu benar, kode2 itu bukan akar masalah yang membuat amarahnya meledak. Mereka hanyalah pilihannya untuk lari dari kegalauan yang menyelimuti hatinya hari itu. Hari ulang tahunnya yang ke 25, ulang tahun pertamanya tanpa rayyan&#8230; </p>
<p align="justify">Aia memang masih sangat muda untuk menanggung kegalauan itu. Ia baru saja mengecap manisnya pernikahan bersama kekasih yang setia disisinya selama 7 tahun terakhir. 4,5 tahun rayyan setia menunggunya siap melangkah ke dalam ikatan pernikahan dan hanya beberapa hari sebelum genap 3 tahun pernikahan mereka, rayyan dipanggil yang Maha Kuasa karena kanker otak yang terlambat disadari oleh keduanya. </p>
<p align="justify">Cinta selalu menyala dengan dua sisi sekaligus, membangun dan terkadang juga menghancurkan. Dan itulah yang di hadapi Aia sekarang, cintanya pada rayyan membuatnya bgitu rapuh. Meskipun sudah berbulan2 tapi Ia tetap saja belum bisa melepaskan bayangan rayyan dari hidupnya. Ia yang dulu penuh dengan keceriaan berubah 180 derajat menjadi seseorang yang tak pernah lagi tersenyum. Ia yang dulu bgitu senang bertemu dengan orang2 baru sekarang lebih memilih menutup diri dan menghindari kesempatan bertemu dengan siapapun. </p>
<p align="justify">Dini hari tadi Ia terbangun, penuh kesedihan karena sebuah kesadaran menelusup ke ruang bathinnya tepat ketika dia membuka mata.. Ingatannya melayang, di hari yang sama di tahun2 sebelumnya selalu ada pelukan hangat atau setidaknya telpon rayyan yang membisikkan ucapan selamat ulangtahun dengan suara yang membahagiakannya. Tapi di kegelapan pagi tadi, tak ada keduanya… hanya lamat2 didengarnya gema suara rayyan yang Ia tahu pasti hanyalah sepenggal kenangan yang tertinggal dalam memory otaknya, kerinduannya yang mewujud menjadi suara sang kekasih.</p>
<p align="justify">Sadar bahwa harinya akan penuh duka dilarikannya semua konsentrasi dan energinya ke baris2 kode untuk proyek terbarunya meskipun sebenarnya Ia tak punya keharusan untuk menyelesaikannya hari ini. Barisan kode, yang ternyata.. setelah 12 jam disusun tetap tak juga kunjung bekerja. Padahal itu hanyalah program sederhana serupa puluhan program yang pernah Ia buat sebelumnya.&#160; Konsentrasinya tetap kacau dan meskipun telah Ia coba, usahanya selalu berakhir kebuntuan.</p>
<p align="justify">Pelan2 Ia bangun dan beranjak ke ruang tengah, dibiarkannya rasa nyeri yang menyusup di beberapa bagian tubuhnya karena benturan dengan lantai dan serpihan2 tetikustadi. Ia menatap kosong meja yang dulu menjadi saksi hari2 bahagianya. Di meja itu hampir setiap hari tersaji masakan rayyan, sang penguasa dapur yang memang tak lain adalah seorang manager muda di sebuah restoran ternama di kota tempat mereka tinggal yang mempunyai hobi memasak. Masakan favorit Ia yang selalu tersaji di hari ulang tahunnya tiba2 membayang, indra penciumannya seolah dipenuhi aroma masakan itu membuatnya limbung. Kepalanya terasa berputar dan bayangan nasi hangat berwarna kuning pucat yang masih mengepulkan uap di meja seolah melayang2 diatasnya. Untunglah kali ini Ia bisa menguasai diri, ditariknya pelan tubuh lemahnya ke atas satu dari 6 kursi rotan yang mengelilingi meja makan.</p>
<p align="justify">Ia mencoba memejamkan matanya, menghadirkan lagi bayangan nasi kuning puccat yang tadi sempat memenuhi kepalanya. Masakan itu adalah ciptaan rayyan sendiri yang dulu selalu disebut2nya sebagai NASI MENTEGA. Diingatnya kembali saat2 ketika pertama kali Ia mencicipi nasi itu, Ia juga masih ingat betul ketika setelah itu.. hampir setengah hari ia berdebat tentang nama masakan itu dengan rayyan. Ia merasa bahwa NASI KEJU lebih sesuai mengingat unsur keju yang begitu kuat dan lagi, menurutnya aneh jika disebut nasi mentega karena Ia tahu dari rayyan bahwa sebenarnya tak sedikitpun ada mentega yang dipakai dalam proses pembuatannya. Tapi rayyan tak bergeming, menurutnya tetap saja Ia yang berhak menentukan karena dialah pemilik resepnya dan akhirnya Ia mengalah.&#160; Pertengkaran yang manis karena pada akhirnya sepanjang sore mereka berdua justru tak berhenti tertawa bersama menertawakan kekonyolan perdebatan mereka. Ia memang tak terlalu pintar memasak, tapi rayyan tak pernah mempermasalahkan itu. Setiap orang punya ketertarikan dan bakat sendiri, tak bisa di paksakan apalagi diberi label bahwa&#160; yang ini harus menguasai ini dan yang itu harus menguasai sisanya. Ia yang lebih banyak bergaul dengan komputer daripada alat2 dapur adalah sebuah kewajaran bagi rayyan.&#160; </p>
<p align="justify">Bayangan rayyan yang asyik di dapur membuat Ia tergerak menarik tubuhnya kesana, di tatapnya setiap sudut dapur yang menyimpan entah berapa ribu kenangan dalam bathinnya. Rak2 semi transparan itu menghadirkan kembali berset2 piring, gelas, pisau, panci, dan segala macam alat masak memasak&#160; beraneka ukuran yang tak pernah lagi Ia sentuh sejak rayyan tiada. Kerapian dapur ini menegaskan bahwa pemiliknya memang tak ada lagi disana. Ia tahu benar bahwa rayyan tak akan pernah membiarkan satupun sudut dapurnya tak rapi, semua hal harus tepat berada di tempat yang seharusnya. Karena itu Ia agak heran ketika melihat di salah satu rak diujung kanan samar2 tampak sesuatu yang tak seharusnya disana. Sebuah bungkusan coklat atau entah apa. Pelan2 dibukanya rak itu, ternyata yang dilihatnya tadi adalah sebuah plastik coklat berisi sebuah kotak berukuran 30&#215;30x8cm. Kotak itu agak berat, Ia mulai menebak-nebak tentang apa isinya. Di dalah plastik itu juga masih ada sebuah nota pengiriman bertanggal 10 november 2007, 3 hari sebelum rayyan meninggal dan hanya seminggu sebelum ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga. Barang itu milik rayyan, tapi ini terasa sungguh aneh untuk Ia karena rayyan tak pernah begitu sembrono menyimpan barang2nya.</p>
<p align="justify">Dengan hati2 dibukanya kardus coklat itu, didalamnya Ia menemukan sbeuah piring persegi yang dibungkus dengan sterofoam transparan, sebuah penyangga dari kayu dan sebuah kartu dalam amplop coklat. </p>
<p align="justify"><em>untuk Ia sayang…</em></p>
<p align="justify">namanya tertulis disana, jantungnya semakin berdebar ketika Ia mulai membuka kartu itu. Airmatanya mengalir deras&#160; ketika Ia mulai membaca kalimat demi kalimat yang tertulis diatas kartu itu, tapi kali ini.. tangisnya adalah tangis bahagia..</p>
<p align="center">&#8212;&#8212;4 bulan kemudian&#8212;&#8211;</p>
<p align="justify">Aia memandangi meja2 penuh dengan pengunjung yang sedang bersantap siang dari foyer tempatnya berdiri, aroma nasi mentega memenuhi rumah dua lantai&#160; yang disulap menjadi sebuah restoran Eropa oleh Ia 4 bulan lalu itu. Ada kebahagiaan tak terkatakan di binar matanya.&#160; Dari tempat itulah setiap hari Ia beraktifitas selama 4 bulan terakhir, mengawasi restorannya&#160; sendiri sekaligus meneruskan kecintaannya pada dunia komputer. Meskipun terhitung baru tapi restoran yang menyediakan berbagai menu eropa itu ternyata menyedot banyak sekali pengunjung, dan menu andalannya, nasi mentega. </p>
<p align="justify">Matanya beralih ke meja panjang di sebelah kanannya, sebuah piring pajangan sederhana tampak disana. Diatas permukaan piring itu tertulis resep nasi mentega favorit Ia yang dibuat dengan teknik grafir dan dihiasi gambar setangkai bunga mawar kuning. Disebelahnya sebuah kartu di simpan dallam figura kaca 2 sisi dengan desain minimalis, kartu yang yang membuat Ia mendapatkan lagi kebahagiaan yang hilang dari hidupnya, kartu yang membangunkannya dari keterpurukannya karena rasa kehilangan, kartu yang Ia temukan sore itu bersama piring pajangan yang sedianya disiapkan rayyan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga. Kalimat2 yang tertulis disana tak hanya indah dipandang mata, tapi juga energi tak terkira yang setiap hari menguatkan Ia.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="center"><em>Ia sayang,</em></p>
<p align="center"><em>jika suatu hari aku tak bisa menghidangkan sepiring nasi mentega untukmu di meja, percayalah bahwa itu bukan karena aku tak mau lagi melakukannya. S</em><em>ungguh, jika Tuhan mengijinkan… aku ingin selalu melakukannya untukmu sepanjang hidupku demi membuatmu tersenyum.</em></p>
<p align="center"><em>Ingatlah juga bahwa di setiap piring yang tersaji di hadapanmu, selalu ada cintaku yang akan menemanimu, selalu… </em></p>
<p align="center"><em>&#8212;Jadi.. aku hadiahkan untukmu resep rahasiaku ini, kau harus mulai belajar membuatnya sendiri dari sekarang, LOL&#8212;-</em></p>
<p align="center"><em>Chef pujaanmu, Rayyan</em></p>
<p align="center">&#160;</p>
<p align="center"><em></em></p>
<p align="justify">Ahh.. bukankah cinta itu penuh keajaiban, sore itu.. di hari ulang tahunnya yang ke25 Ia menemukan kado terindahnya, sebuah kesempatan untuk hidup lagi bersama sebuah harapan baru, keyakinan baru dalam sebuah kotak coklat berisi piring pajangan&#160; dan kartu sederhana, ya…. keyakinan bahwa memang ada cinta yang tak pernah habis untuknya… </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2009/01/19/sepiring-nasi-mentega/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Denyut Si Tua Braga</title>
		<link>http://rienayesha.com/2009/01/03/denyut-si-tua-braga/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2009/01/03/denyut-si-tua-braga/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 16:53:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>
		<category><![CDATA[event]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[BragaFestival]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/2009/01/03/denyut-si-tua-braga/</guid>
		<description><![CDATA[&#8212;review dari kunjungan ke Braga Festival 2008&#8212;
Alhamdulillah akhirnya keinginan untuk mengunjungi Braga Festival 2008 kesampaian juga. Dan bukan hanya sekali, tapi dua kali.. meskipun sebenarnya jujur aku agak kecewa dengan event yang satu ini. Bukan hanya karena dekorasinya yang katanya mirip gelaran bazaar biasa, maupun beberapa performance yang katanya lagi.. kurang menarik, tapi memang suasana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>&#8212;review dari kunjungan ke Braga Festival 2008&#8212;</strong></p>
<p align="justify">Alhamdulillah akhirnya keinginan untuk mengunjungi <a href="http://rienayesha.com/2008/12/28/braga-festival-2008/">Braga Festival 2008</a> kesampaian juga. Dan bukan hanya sekali, tapi dua kali.. meskipun sebenarnya jujur aku agak kecewa dengan event yang satu ini. Bukan hanya karena dekorasinya yang <a href="http://bandung.detik.com/readfoto/2008/12/30/194542/1061118/501/1/braga-festival-2008-mirip-bazar">katanya</a> mirip gelaran bazaar biasa, maupun beberapa performance yang <a href="http://bandung.detik.com/read/2007/12/30/003100/872900/486/atraksi-seni-tak-menarik-braga-festival-di-bandung-garing">katanya lagi</a>.. kurang menarik, tapi memang suasana yang menurutku terasa sama sekali tidak istimewa. </p>
<p> <span id="more-199"></span>
<p align="justify"></p>
<p align="justify">Kunjungan pertama terlaksana tanggal 30/12/2008, hanya beberapa jam setelah <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&amp;id=50497">pembukaan resmi</a> event ini &#8211;<em>yang menurut beberapa media lokal menyebabkan kemacetan yang cukup parah di beberapa ruas jalan yang terhubung dengan kawasan Braga</em>&#8211;. Meskipun aku sendiri cukup adem-ayem dan sempat merencanakan alokasi waktu malam hari untuk kesana, ternyata justru teman2 di sekelilingku yang bersemangat untuk <strike>entah</strike> menemaniku <strike>atau memang pengen</strike> kesana siang itu. Tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya, gelaran2 yang disuguhkan memang jauh dari harapan yang sempat melecut gairahku. Dari settingnya sendiri, aku rasa kurang terintegrasi dengan baik dan antar bagian kurang menyatu. Penataan stand2 yang ada juga terkesan sekenanya saja, stand yang menawarkan makanan, pakaian dan kerajinan dibiarkan bercampur menjadi satu. Memang mirip seperti bazar kebanyakan.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify"><a href="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2009/01/dsc00156.jpg"><img style="border-right: 0px; border-top: 0px; border-left: 0px; border-bottom: 0px" height="320" alt="DSC00156" src="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2009/01/dsc00156-thumb.jpg" width="416" border="0" /></a> </p>
<p align="center">&#8211;salah satu gerbang Braga Festival&#8211;</p>
<p align="justify"><a href="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2009/01/dsc00172.jpg"><img style="border-right: 0px; border-top: 0px; border-left: 0px; border-bottom: 0px" height="310" alt="DSC00172" src="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2009/01/dsc00172-thumb.jpg" width="418" border="0" /></a>&#160;</p>
<p align="center">&#8211;hasil perburuan hari kedua&#8211;</p>
<p align="justify"><a href="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2009/01/dsc00164.jpg"><img style="border-right: 0px; border-top: 0px; border-left: 0px; border-bottom: 0px" height="299" alt="DSC00164" src="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2009/01/dsc00164-thumb.jpg" width="416" border="0" /></a> </p>
<p align="center">&#8211;sudut dimana <a href="http://rienayesha.com/2008/12/19/im-in-love/" target="_blank">cintaku</a> sempat bersemi&#8211;</p>
<p align="justify">Sebagian besar live performance juga aku lewatkan karena dari beberapa yang sempat aku &#8216;cicipi&#8217; dalam kunjungan pertama&#160; tema-nya memang agak garing. Salah satu alasan yang membuatku agak malas untuk kembali di malam harinya sesuai dengan rencana semula, tentu saja disamping hasil browsing dari beberapa review yang berpendapat senada.</p>
<p align="justify">Sementara kunjungan kedua adalah keesokan harinya, kali ini bersama <a href="http://haldaaditya.blogspot.com/" target="_blank">mas adit</a>. Rencana awal untuk pergi bersama rekan lain tidak bisa terlaksana karena disaat yang sama ada seorang sahabat yang lebih memerlukan &#8216;bantuan&#8217; <strike>medis</strike>. Live performance juga sama, lagi2 kurang menarik. Tapi kali ini suasananya tampak lebih hidup, mungkin karena lebih banyak pengunjungnya. Jadi kalau direview lagi.. Photo expo, tampaknya hanya sedikit sekali di beberapa sudutnya. Kebanyakan sudah beredar luas di internet dan bukan fotho2 eksklusifi. Untuk cullinary and craft exhibition, hanya menawarkan sedikit sekali pilihan kreatif yang tidak ditemukan setiap hari.. sisanya barang2 yang sama yang bertebaran di mall. Sementara untuk Painting Exhibition, tampaknya juga tak beda jauh dengan &#8216;exhibition&#8217; yang setiap hari memang &#8216;digelar&#8217; disana.&#160; Yang lain.. aku nda ngerti.</p>
<p align="justify">Tapi terlepas dari segala kekurangan yang ada, event ini menggembirakan karena setidaknya benar2 ada masa dimana braga mendapatkan apresiasi lebih dan terasa lebih fresh. Yang lebih menyenangkan adalah membayangkan braga benar2 menjadi pedestrian yang memanjakan pejalan kaki seperti saat2 digelarnya festival, rasanya berbunga2. Entah kapan revitalisasi itu terlaksana mengingat penutupan beberapa ruas jalan kemarin yang sedianya juga merupakan ujicoba,ternyata efeknya kurang bagus mengingat Braga memang jalur yang sangat vital.</p>
<p align="justify">Semoga.. di tahun 2009 ini nadinya berdenyut lebih teratur lagi, membawakan nafas baru untuk kota kecil ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2009/01/03/denyut-si-tua-braga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerlip lampu di penghujung 2008</title>
		<link>http://rienayesha.com/2009/01/02/kerlip-lampu-di-penghujung-2008/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2009/01/02/kerlip-lampu-di-penghujung-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 19:20:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[KerlipLampu]]></category>
		<category><![CDATA[TahunBaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/2009/01/02/kerlip-lampu-di-penghujung-2008/</guid>
		<description><![CDATA[Seperti biasa, pemandangan itu selalu menahan mataku untuk saat yang lama. Deretan kerlap-kerlip lampu yang menghiasi kaki pegunungan yang mengelilingi Bandung memang luar biasa indah terutama di malam tahun baru. Pemandangan yang membentang di hampir seluruh mata angin itu tambah semarak dengan nyala kembang api yang sesekali bermunculan.  Ada kedamaian tersendiri setiap kali aku melewati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Seperti biasa, pemandangan itu selalu menahan mataku untuk saat yang lama. Deretan kerlap-kerlip lampu yang menghiasi kaki pegunungan yang mengelilingi Bandung memang luar biasa indah terutama di malam tahun baru. Pemandangan yang membentang di hampir seluruh mata angin itu tambah semarak dengan nyala kembang api yang sesekali bermunculan.  Ada kedamaian tersendiri setiap kali aku melewati beberapa sudut Bandung yang menawarkan pemandangan serupa, perasaan bahwa <strong>aku tak sendirian</strong>-lah kiranya salah satu alasannya..</p>
<p align="center"><a href="http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=599710&amp;page=4"><img style="border-top-width: 0px; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-right-width: 0px" src="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2009/01/i-love-bandung-by-astronduts2.jpg" border="0" alt="i_love_BANDUNG_by_astronduts" width="310" height="427" /></a></p>
<p><span id="more-188"></span></p>
<p align="justify">Tapi memang, di malam pergantian tahun 2008 kemarin ada perasaan yang aneh dan berbeda dari biasanya. Sebuah kesadaran bahwa aku memang benar2 berada di Bandung, kota yang sebenarnya masih asing buatku. Asing, karena ternyata setelah 8 bulan berada dsini aku temukan bahwa chemistry-ku dengan kota ini tak juga lengkap. Aku masih belum bisa mendapatkan lagi kedamaian seperti dulu. Eksistensi yang dibangun lagi dari nol yang tak juga mewujud membuatku terlalu menekan diri sendiri dengan banyak pikiran negatif. Sehingga, lagi2 proses perenungan berakhir dengan beberapa tetes air mata dan kegalauan.</p>
<p align="justify">Beruntunglah karena pada akhirnya sahabat2ku di <a href="http://www.plurk.com/Rienayesha">plurk</a> mengingatkanku untuk kembali optimis, menyadarkan lagi bahwa apa yang menggangguku di penghujung tahun ini hanya serpihan kecil dalam kehidupanku, mereka menarikku kembali kedalam kesyukuran bahwa aku memiliki lebih dari yang aku perlukan. Toh, jika ada yang harus aku perjuangkan maka aku tak lagi diharuskan untuk memulai dari  anak tangga paling bawah&#8230; tinggal beberapa langkah lagi aku sudah hampir sampai di anak tangga terakhir.</p>
<p align="justify">Dan malam ini aku melihatnya lagi, kerlip lampu itu terlihat jauh lebih indah. Tak lagi membuatku menangis dan tak sekedar memberiku kedamaian, ia memanggilku untuk bangun dan kembali mencintai diriku yang kini&#8230; tak lain adalah <strong>bagian tak terpisahkan dari kota ini, </strong>Bandung. Semoga &#8216;tahun 2009&#8242; dan &#8216;Bandung&#8217;  menjadi perpaduan indah yang membawakan kesempatan-kesempatan baru untuk melanjutkan mimpiku lagi..</p>
<p align="justify">
<p align="center"><span style="font-size: x-large;">WELCOME 2009</span></p>
<p align="center"><span style="font-size: x-large;"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2009/01/02/kerlip-lampu-di-penghujung-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Braga Festival 2008</title>
		<link>http://rienayesha.com/2008/12/28/braga-festival-2008/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2008/12/28/braga-festival-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Dec 2008 19:53:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[event]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[BragaFestival]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/2008/12/29/braga-festival-2008/</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi bagian dari rangkaian sebuah ceremony milik mereka yang kita cintai tentu saja membawa antusiasme yang berbeda, dan itulah yang aku rasakan pertama kali mengetahui adanya event BRAGA FESTIVAL 2008 dari sebuah harian lokal beberapa hari yang lalu.
 
 
Hajatan besar di Jalan Braga, yang merupakan sedikit dari apa2 yang bisa membuatku mulai menyukai kota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Menjadi bagian dari rangkaian sebuah ceremony milik mereka yang kita cintai tentu saja membawa antusiasme yang berbeda, dan itulah yang aku rasakan pertama kali mengetahui adanya event BRAGA FESTIVAL 2008 dari sebuah harian lokal beberapa hari yang lalu.</p>
<p align="justify"><a href="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2008/12/braga19683.jpg"><img style="border-right: 0px; border-top: 0px; border-left: 0px; border-bottom: 0px" height="264" alt="braga1968" src="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2008/12/braga1968-thumb3.jpg" width="426" border="0" /></a> </p>
<p> <span id="more-154"></span>
<p align="justify">Hajatan besar di Jalan Braga, yang merupakan sedikit dari apa2 yang bisa membuatku mulai menyukai kota Bandung ditengah2 <a href="http://rienayesha.com/2008/09/18/masa-lalu-sampai-kapan-ia-mengikuti/">bayang masa laluku</a>, yang merupakan salah satu inspirasiku untuk melangkah lagi di dunia maya dan -bahkan- menjadi <a href="http://rienayesha.com/about/">kisah awal</a> dimana aku mengambil RAINDROPS &amp; HI HEELS sebagai blog title-ku, dan juga tempat yang mampu membuatku <a href="http://rienayesha.com/2008/12/19/im-in-love/">jatuh cinta</a> lagi&#8230; tentu saja memberikan godaan luar biasa bagiku.</p>
</p>
<p align="justify">Dari <a href="http://www.westjavatourism.info/?page=event_detail&amp;id=39">kalender my-indonesia.info</a> yang merupakan official site dari Departemen kebudayaan dan pariwisata aku mendapatkan info bahwa festival tahunan yang sudah diadakan sejak 2006 ini akan diadakan lagi di penghujung tahun 2008 tepatnya tanggal 28-31 Desember 2008. Agak berbeda memang dengan sumber info yang pertama yang menyebutkan bahwa event ini akan diadakan pada tanggal 30-31 Desember saja. Bagaimanapun juga, rasanya aku sudah tak sabar untuk berada disana dan melihat moment dimana lebih banyak orang&#160; yang berkonsentrasi untuk memberikan apresiasi untuk cagar budaya ini. </p>
<p align="justify">Entahlah mana yang benar, tapi aku juga belum sempat membuktikan kemungkinan bahwa hari ini (minggu,28/12/08) festival itu sebenarnya sudah dimulai. Mengingat tanggal 30-31 Desember bukan hari libur&#160; dan khusus untuk instansi dimana aku bekerja kebetulan sekali mempunyai program yang mengharuskan pegawainya untuk tetap berada di kantor sampai pukul 19.00, tentu saja aku agak sedih. Belum lagi aktifitas kampus yang mengharuskan aku tetap berjibaku di medan perkuliahan juga, duhh.. jadi kapan aku bisa ikut berada disana ya???</p>
<p align="justify">Braga Festival memang membuatku agak dag dig dug karena menurut <a href="http://www.westjavatourism.info/?page=event_detail&amp;id=39" target="_blank">sumber lain di westjavatourism.info</a>, rangkaian kegiatan&#160; yang akan mewarnai festival tahun ini sangat beragam dan aku rasa akan membuatku merasa cukup menyesal bila melewatkannya. Rangkaian kegiatan yang sekiranya akan dilangsungkan disana adalah Photo expo, Craft Exhibition, Cullinary Exhibition, Painting Exhibition, Bandung Tea Walk, Photo Contest, Seminar, Jazz Break, Contempory and Classic Art Per&#173;formance serta Theatrical Orator. Menulisnya kembali di post ini saja sudah cukup membuatku bergairah, rasanya sudah tak sabar untuk berada disana. </p>
<p align="justify">Bagaimanapun keadaannya nanti, semuanya adalah tentang pilihan dan aku percaya kesempatan bisa diciptaka. Aku rasa..saatnya untuk berusaha mewujudkan keinginan itu.. memberi ruang agar gairahku mewujud menjadi nyata.. menjadi bahagia&#8230;</p>
<p align="justify">Braga..I&#8217;ll come to you and be a part of your journey&#8230;</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify"><em>gambar diambil dari </em><a title="http://liceknoil.wordpress.com/2008/07/01/bandung-paris-van-java/" href="http://liceknoil.wordpress.com/2008/07/01/bandung-paris-van-java/"><em>http://liceknoil.wordpress.com</em></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2008/12/28/braga-festival-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>August Rush</title>
		<link>http://rienayesha.com/2008/12/26/august-rush/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2008/12/26/august-rush/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 16:45:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>
		<category><![CDATA[event]]></category>
		<category><![CDATA[AugustRush]]></category>
		<category><![CDATA[JohnLegend]]></category>
		<category><![CDATA[Someday]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/2008/12/26/august-rush/</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin malam.. aku menghabiskan waktu bersama August Rush, drama musikal yang dibintangi oleh&#160; oleh Freddie Highmore&#160; (Evan taylor-August Rush) Keri Russell (Lyla Novacek) dan Jonathan Rhys Meyers (Louis Connelly). Film tentang perjalanan evan -dengan bakatnya yang luar biasa dalam musik dan composing- untuk menemukan kedua orang tuanya yang bahkan tidak tahu bahwa ia ada.
 
Adegan2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Kemarin malam.. aku menghabiskan waktu bersama August Rush, drama musikal yang dibintangi oleh&#160; oleh Freddie Highmore&#160; (Evan taylor-August Rush) Keri Russell (Lyla Novacek) dan Jonathan Rhys Meyers (Louis Connelly). Film tentang perjalanan evan -dengan bakatnya yang luar biasa dalam musik dan composing- untuk menemukan kedua orang tuanya yang bahkan tidak tahu bahwa ia ada.</p>
<p> <span id="more-151"></span>
<p align="justify">Adegan2 indah dengan musik bagus yang beberapa diantaranya dibawakan sendiri oleh Rhys Meyers sendiri plus aransemen orkestra yang berkelas dan menakjubkan benar2 membuat kesan film ini ELEGAN. Tentu saja bisa diduga bahwa seremoni ini ditutup dengan adegan termehek-mehek, bukan di film-nya sey.. tapi di sisi penontonnya alias di aku tentu.</p>
<p align="justify">Perjalananku menemukan film ini sendiri berawal dari sebuah perjalanan di seputar buah batu, ketika itu suara john legend mengalun membawakan SOMEDAY.. lagu indahnya tetap terngiang2 sampai minggu lalu ketika aku begitu ingin menemukannya. Setelah googling akhirnya aku menemukan video ini..</p>
<div align="justify">
<div class="wlWriterSmartContent" id="scid:5737277B-5D6D-4f48-ABFC-DD9C333F4C5D:71045d9d-c917-40ea-838f-71d4509d44bc" style="padding-right: 0px; display: inline; padding-left: 0px; padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-top: 0px">
<div id="f593919e-a5c5-41d5-b8d1-4ea6d5925073" style="margin: 0px; padding: 0px; display: inline;">
<div><a href="http://www.youtube.com/watch?v=841HKGEVdRA" target="_new"><img src="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2008/12/video4763cf4c487b.jpg" galleryimg="no" onload="var downlevelDiv = document.getElementById('f593919e-a5c5-41d5-b8d1-4ea6d5925073'); downlevelDiv.innerHTML = &quot;&lt;div&gt;&lt;object width=&quot;425&quot; height=&quot;350&quot;&gt;&lt;param name=&quot;movie&quot; value=&quot;http://www.youtube.com/v/841HKGEVdRA&quot;&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name=&quot;wmode&quot; value=&quot;transparent&quot;&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src=&quot;http://www.youtube.com/v/841HKGEVdRA&quot; type=&quot;application/x-shockwave-flash&quot; wmode=&quot;transparent&quot; width=&quot;425&quot; height=&quot;350&quot;&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&quot;;" alt=""></a></div>
</div>
</div></div>
<p align="justify">dan dari sinilah aku mendengar dan melihat sekilas tentang august rush. Keberuntungan memang tak kemana karena ada sahabat yang bertukar informasi sejak awal dan mencarikan film ini, memastikan&#160; acara nontonku benar2 terlaksana [tengkiu mas...]</p>
<p align="justify">Dari segi cerita secara keseluruhan di film ini mungkin ada beberapa hole yang terlewat&#8230; tapi menurutku film ini indah, sangat indah. Dan setidaknya ada beberapa pelajaran berharga yang bisa aku ambil, penggalan kata2 august rush misalnya&#8230;</p>
<p align="center"><em>Listen. Can you hear it. The music. I can hear everywhere. In the wind. In the air. In the light. It&#8217;s all around us. All you have to do is open your self up. All you have to do is listen&#8221;</em></p>
<p align="justify">kalimat ini mengingatkanku bahwa dalam kehidupan ada banyak hal yang tak terlihat yang sering telewatkan begitu saja, ada banyak pelajaran, hikmah.. yang tak pernah aku raih karena aku tak mau mendengarkan. Yang diperlukan olehku dan semua orang hanyalah kemauan karena semua hal sebenarnya sudah tersedia di sekeliling kita.</p>
<p align="justify">Dan&#8230; hmmm&#8230;. bukankah aku baru saja membuktikannya, sebuah film pengisi senggang-pun bisa jadi MELODY yang indah untuk direnungkan&#8230;</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">&#8212; <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/August_Rush" target="_blank">all about August Rush and everything which related to it</a>&#8212;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2008/12/26/august-rush/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selembar tissu kusut di meja</title>
		<link>http://rienayesha.com/2008/12/23/selembar-tissu-kusut-di-meja/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2008/12/23/selembar-tissu-kusut-di-meja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 18:52:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[TissuKusut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/2008/12/23/selembar-tissu-kusut-di-meja/</guid>
		<description><![CDATA[Selembar tissue itu sudah tak berbentuk lembaran lagi, tapi sudah berupa gumpalan2 kusut hasil dari apa yang tanganku lakukan. Sejak dari pagi sebenarnya sudah ada beberapa lembar tissu yang bernasib sama, hanya saja lembar terakhir ini masih betah di genggaman tanganku. 
 
Tissu ini jauh dari kesan istimewa tentunya, meskipun aku tahu bahwa untuk memprosesnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Selembar tissue itu sudah tak berbentuk lembaran lagi, tapi sudah berupa gumpalan2 kusut hasil dari apa yang tanganku lakukan. Sejak dari pagi sebenarnya sudah ada beberapa lembar tissu yang bernasib sama, hanya saja lembar terakhir ini masih betah di genggaman tanganku. </p>
<p> <span id="more-144"></span>
<p align="justify">Tissu ini jauh dari kesan istimewa tentunya, meskipun aku tahu bahwa untuk memprosesnya butuh waktu yang kadang hingga menembus satu dasawarsa. Tentu saja.. sekarang coba bayangkan, tissu2 ini dibuat dari bubur kertas yang sudah dipanaskan dan ditambahkan bahan kimia ini dan itu.. yang ini mungkin tak lama.. Proses sebelumnya tentu saja menyiapkan bubur kertasnya sendiri, lagi2 memang tak lama. Tapi coba telurusi, bubur kertas dibuat dari kayu kan??&#160; memang proses dari kayu-bubur ini juga tak lama.. Pertanyaannya, lha terus&#160; &quot;lama&quot;nya dimana dunk? tentu saja yang paling lama dan panjang adalah proses tumbuhnya sebuah tunas menjadi sebuah pohon yang siap tebang dan siap diambil kayunya&#8230;berapa tahun coba. Toh kenyataannya, alih -alih berhemat dan mensukseskan gerakan&#160; <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ecology_movement" target="_blank">ecology movement</a> tetap saja aku&#160; memakainya sesuka hati</p>
<p align="justify">Terlepas dari istimewa dan tidaknya si tissu ini, juga panjang atau tidak proses pembuatannya.. sebenarnya lembaran terakhir ini adalah lembaran yang paling berharga buatku, ya.. setidaknya dalam beberapa jam&#160; ini. Segala kegalauan, kesedihan dan pikiran yang tak tentu arah mendapatkan tempat untuk menyalurkan energinya disana.. lewat jemariku tentunya. Energi negatifku yang pada akhirnya mengoyak dan membuatnya begini. Kutimbang2 lagi.. mungkin&#160; rasanya seperti menemukan sebuah tempat bercerita dalam diam, menangis tanpa airmata, dan menumpahkan amarah tanpa suara. Sahabat setia lain yang mendengarkan kata2 dalam diamku,mengusap airmataku, dan meredam suaraku.</p>
<p align="justify">Tissu ini juga serasa menjadi analogi dari sahabat2ku dan Tuhanku tentunya, kadang tak tampak memberi bantuan yang berarti.. tapi dalam cara yang berbeda2 selalu menyediakan sebuah ruang untuk melewati masa2 kurang menyenangkan dan juga&#160; masa2 penuh kebahagiaan. Mereka yang sering terlupakan jasanya, yang sering terlihat ada dan tiada. </p>
<p align="justify">Aku tersenyum saat ini&#160; karena karena aku masih mampu menulis tentang lembar terakhir tissu ini, karena berarti masih ada kesyukuran dalam hatiku dan keyakinan bahwa sesungguhkan akan ada yang setia menjadi lembar2 tissuku yang lain nanti&#8230; banyak yang akan mengiringiku meskipun tanpa aku sadari. Kesyukuran bahwa sebenarnya hidupku selalu penuh dengan berkah.. hanya perlu sedikit waktu untuk menengok lagi.</p>
<p align="justify">Semoga dalam bahagiaku-pun aku tak akan pernah lupa, bahwa &quot;mungkin&quot; ia hanya selembar tissu kusut di meja&#8230; tapi ternyata dia memang sungguh istimewa&#8230;</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2008/12/23/selembar-tissu-kusut-di-meja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
