<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rienayesha&#039;s Raindrops &#38; Hi Heels &#187; Renungan</title>
	<atom:link href="http://rienayesha.com/category/renungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rienayesha.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Dec 2009 06:42:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Keajaiban bernama &#8216;Sang Waktu&#8217;</title>
		<link>http://rienayesha.com/2009/12/10/kejaiban-bernama-sang-waktu/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2009/12/10/kejaiban-bernama-sang-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 04:47:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Keajaiban]]></category>
		<category><![CDATA[Maya]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[&#160; 
Kehidupan memang penuh keajaiban. Apa yang ada di genggaman kita saat ini bisa saja hilang hanya dalam hitungan detik dan juga sebaliknya, dalam tempo yang sama apa yang bahkan tak pernah terpikir untuk bisa kita miliki&#160; tiba-tiba sudah di tangan. Betapa berartinya detik demi detik itu, tapi nyatanya kita [terutama aku pribadi] jauh lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#160;<img style="border-right-width: 0px; margin: 0px auto; display: block; float: none; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="11112009404" border="0" alt="11112009404" src="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2009/12/11112009404.jpg" width="162" height="215" /> </p>
<p align="justify">Kehidupan memang penuh keajaiban. Apa yang ada di genggaman kita saat ini bisa saja hilang hanya dalam hitungan detik dan juga sebaliknya, dalam tempo yang sama apa yang bahkan tak pernah terpikir untuk bisa kita miliki&#160; tiba-tiba sudah di tangan. Betapa berartinya detik demi detik itu, tapi nyatanya kita [terutama aku pribadi] jauh lebih sering mengabaikannya. Detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun-tahun di belakang banyak yang berlalu begitu saja tanpa <em>greget</em> apa-apa.</p>
<p> <span id="more-230"></span>
<p align="justify"></p>
<p align="justify">Puisi ini adalah sebuah monumen untuk mengingat satu waktu yang pernah aku lewati di pertengahan tahun 2008, saat dimana keajaiban menyapa sejenak dalam bentuk waktu sepanjang tujuh jam dan sebuah tantangan kecil yang terlontar di sela-selanya. Aku yakin itu bukan ‘keajaiban’ yang ada di kepala kebanyakan orang tapi kejaiban itu mampu membawakan sebuah pembelajaran baru untukku. Sebuah pelajaran bahwa definisi sedih, bahagia, harapan, keputus-asaan, maya, nyata, waktu, dan entah berapa banyak hal lain yang ada di sekitar kita tak akan pernah berhenti bertransformasi bersama waktu dan apa yang kita lewati di dalamnya.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="center">[My notepad, ketika tiba2 kutemukan ironi.. tepatnya Rabu,170908]</p>
<p align="center"><strong>7 JAM BERSAMAMU</strong></p>
<p align="center">Sungguh&#8230;    <br />Menulis tentang 7 jam bersamamu terasa seperti siksa     <br />membuat jemariku kaku dan seolah hilang kewajarannya     <br />lalu ia juga membawakanku atmosfer yang gelisah memenuhi udara     <br />dan memaksaku terduduk diam, tak mampu bersuara</p>
<p align="center">Kucoba membenamkan diriku dalam rentetan memori    <br />Mengais-ngais, mencoba menemukan kesadaran yang saat itu kumiliki     <br />Terus saja mencari makna diantara deretan gambar yang pernah tercipta     <br />tapi&#8230; lagi-lagi     <br />7 jam seolah tak mampu memberikanku jawaban apa2</p>
<p align="center">Tak akan berani kupinta 7 jam yang sama    <br />menyadari bahwa kadang kehidupan tak selalu seindah keinginan kita     <br />dan mungkin&#8230; karena keputusasaanlah,     <br />Kuputuskan untuk tak berkata2     <br />Diam dan tak pernah berani melangkah lagi untuk mencoba</p>
<p align="center">Menulis 7 jam bersamamu seperti berjalan dalam maya    <br />Mengukir keindahan yang akhirnya hilang ketika mata terbuka     <br />Terkikis kesadaran, anugrah yang tiba-tiba terasa bagai bencana     <br />menghapus tiap harapan yang telah tersemat diantara baris yang ada</p>
<p align="center">Kusyukuri hari ini    <br />Saat 7 jam bersamamu kadang terasa seperti air yang mengobati     <br />Menuangkan untukku secangkir dingin dalam panas yang tak terkira     <br />Meski tak kumengerti bagaimana ia bekerja</p>
<p align="center">Tetap saja&#8230;    <br />Tak kuyakini kebenaran akan datang pada kita     <br />Tapi kepercayai bahwa sebenarnya ia ada..     <br />Entah menunggu,     <br />Entah memang tak ingin diganggu..     <br />Tak pernah kutahu     <br />Yang ada dalam benakku,     <br />bahwa harapan akan selalu menemukan jalannya     <br />Mungkin berakhir dengan kalah     <br />Mungkin juga suatu ketika berlangsung indah</p>
<p align="center">Haruskah kuukir lagi??</p>
<p align="center">7 jam bersamamu,    <br />Mungkin,itu memang hanya mimpi..</p>
<p>&#160;</p>
<p align="justify"><em>&#8211;&gt; Terimakasih telah memberiku ‘keajaiban’ itu. Menyadarkanku bahwa kemanapun kulangkahkan kakiku, akan selalu ada sahabat untukku</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2009/12/10/kejaiban-bernama-sang-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerlip lampu di penghujung 2008</title>
		<link>http://rienayesha.com/2009/01/02/kerlip-lampu-di-penghujung-2008/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2009/01/02/kerlip-lampu-di-penghujung-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 19:20:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[KerlipLampu]]></category>
		<category><![CDATA[TahunBaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/2009/01/02/kerlip-lampu-di-penghujung-2008/</guid>
		<description><![CDATA[Seperti biasa, pemandangan itu selalu menahan mataku untuk saat yang lama. Deretan kerlap-kerlip lampu yang menghiasi kaki pegunungan yang mengelilingi Bandung memang luar biasa indah terutama di malam tahun baru. Pemandangan yang membentang di hampir seluruh mata angin itu tambah semarak dengan nyala kembang api yang sesekali bermunculan.  Ada kedamaian tersendiri setiap kali aku melewati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Seperti biasa, pemandangan itu selalu menahan mataku untuk saat yang lama. Deretan kerlap-kerlip lampu yang menghiasi kaki pegunungan yang mengelilingi Bandung memang luar biasa indah terutama di malam tahun baru. Pemandangan yang membentang di hampir seluruh mata angin itu tambah semarak dengan nyala kembang api yang sesekali bermunculan.  Ada kedamaian tersendiri setiap kali aku melewati beberapa sudut Bandung yang menawarkan pemandangan serupa, perasaan bahwa <strong>aku tak sendirian</strong>-lah kiranya salah satu alasannya..</p>
<p align="center"><a href="http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=599710&amp;page=4"><img style="border-top-width: 0px; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-right-width: 0px" src="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2009/01/i-love-bandung-by-astronduts2.jpg" border="0" alt="i_love_BANDUNG_by_astronduts" width="310" height="427" /></a></p>
<p><span id="more-188"></span></p>
<p align="justify">Tapi memang, di malam pergantian tahun 2008 kemarin ada perasaan yang aneh dan berbeda dari biasanya. Sebuah kesadaran bahwa aku memang benar2 berada di Bandung, kota yang sebenarnya masih asing buatku. Asing, karena ternyata setelah 8 bulan berada dsini aku temukan bahwa chemistry-ku dengan kota ini tak juga lengkap. Aku masih belum bisa mendapatkan lagi kedamaian seperti dulu. Eksistensi yang dibangun lagi dari nol yang tak juga mewujud membuatku terlalu menekan diri sendiri dengan banyak pikiran negatif. Sehingga, lagi2 proses perenungan berakhir dengan beberapa tetes air mata dan kegalauan.</p>
<p align="justify">Beruntunglah karena pada akhirnya sahabat2ku di <a href="http://www.plurk.com/Rienayesha">plurk</a> mengingatkanku untuk kembali optimis, menyadarkan lagi bahwa apa yang menggangguku di penghujung tahun ini hanya serpihan kecil dalam kehidupanku, mereka menarikku kembali kedalam kesyukuran bahwa aku memiliki lebih dari yang aku perlukan. Toh, jika ada yang harus aku perjuangkan maka aku tak lagi diharuskan untuk memulai dari  anak tangga paling bawah&#8230; tinggal beberapa langkah lagi aku sudah hampir sampai di anak tangga terakhir.</p>
<p align="justify">Dan malam ini aku melihatnya lagi, kerlip lampu itu terlihat jauh lebih indah. Tak lagi membuatku menangis dan tak sekedar memberiku kedamaian, ia memanggilku untuk bangun dan kembali mencintai diriku yang kini&#8230; tak lain adalah <strong>bagian tak terpisahkan dari kota ini, </strong>Bandung. Semoga &#8216;tahun 2009&#8242; dan &#8216;Bandung&#8217;  menjadi perpaduan indah yang membawakan kesempatan-kesempatan baru untuk melanjutkan mimpiku lagi..</p>
<p align="justify">
<p align="center"><span style="font-size: x-large;">WELCOME 2009</span></p>
<p align="center"><span style="font-size: x-large;"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2009/01/02/kerlip-lampu-di-penghujung-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selembar tissu kusut di meja</title>
		<link>http://rienayesha.com/2008/12/23/selembar-tissu-kusut-di-meja/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2008/12/23/selembar-tissu-kusut-di-meja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 18:52:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[TissuKusut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/2008/12/23/selembar-tissu-kusut-di-meja/</guid>
		<description><![CDATA[Selembar tissue itu sudah tak berbentuk lembaran lagi, tapi sudah berupa gumpalan2 kusut hasil dari apa yang tanganku lakukan. Sejak dari pagi sebenarnya sudah ada beberapa lembar tissu yang bernasib sama, hanya saja lembar terakhir ini masih betah di genggaman tanganku. 
 
Tissu ini jauh dari kesan istimewa tentunya, meskipun aku tahu bahwa untuk memprosesnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Selembar tissue itu sudah tak berbentuk lembaran lagi, tapi sudah berupa gumpalan2 kusut hasil dari apa yang tanganku lakukan. Sejak dari pagi sebenarnya sudah ada beberapa lembar tissu yang bernasib sama, hanya saja lembar terakhir ini masih betah di genggaman tanganku. </p>
<p> <span id="more-144"></span>
<p align="justify">Tissu ini jauh dari kesan istimewa tentunya, meskipun aku tahu bahwa untuk memprosesnya butuh waktu yang kadang hingga menembus satu dasawarsa. Tentu saja.. sekarang coba bayangkan, tissu2 ini dibuat dari bubur kertas yang sudah dipanaskan dan ditambahkan bahan kimia ini dan itu.. yang ini mungkin tak lama.. Proses sebelumnya tentu saja menyiapkan bubur kertasnya sendiri, lagi2 memang tak lama. Tapi coba telurusi, bubur kertas dibuat dari kayu kan??&#160; memang proses dari kayu-bubur ini juga tak lama.. Pertanyaannya, lha terus&#160; &quot;lama&quot;nya dimana dunk? tentu saja yang paling lama dan panjang adalah proses tumbuhnya sebuah tunas menjadi sebuah pohon yang siap tebang dan siap diambil kayunya&#8230;berapa tahun coba. Toh kenyataannya, alih -alih berhemat dan mensukseskan gerakan&#160; <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ecology_movement" target="_blank">ecology movement</a> tetap saja aku&#160; memakainya sesuka hati</p>
<p align="justify">Terlepas dari istimewa dan tidaknya si tissu ini, juga panjang atau tidak proses pembuatannya.. sebenarnya lembaran terakhir ini adalah lembaran yang paling berharga buatku, ya.. setidaknya dalam beberapa jam&#160; ini. Segala kegalauan, kesedihan dan pikiran yang tak tentu arah mendapatkan tempat untuk menyalurkan energinya disana.. lewat jemariku tentunya. Energi negatifku yang pada akhirnya mengoyak dan membuatnya begini. Kutimbang2 lagi.. mungkin&#160; rasanya seperti menemukan sebuah tempat bercerita dalam diam, menangis tanpa airmata, dan menumpahkan amarah tanpa suara. Sahabat setia lain yang mendengarkan kata2 dalam diamku,mengusap airmataku, dan meredam suaraku.</p>
<p align="justify">Tissu ini juga serasa menjadi analogi dari sahabat2ku dan Tuhanku tentunya, kadang tak tampak memberi bantuan yang berarti.. tapi dalam cara yang berbeda2 selalu menyediakan sebuah ruang untuk melewati masa2 kurang menyenangkan dan juga&#160; masa2 penuh kebahagiaan. Mereka yang sering terlupakan jasanya, yang sering terlihat ada dan tiada. </p>
<p align="justify">Aku tersenyum saat ini&#160; karena karena aku masih mampu menulis tentang lembar terakhir tissu ini, karena berarti masih ada kesyukuran dalam hatiku dan keyakinan bahwa sesungguhkan akan ada yang setia menjadi lembar2 tissuku yang lain nanti&#8230; banyak yang akan mengiringiku meskipun tanpa aku sadari. Kesyukuran bahwa sebenarnya hidupku selalu penuh dengan berkah.. hanya perlu sedikit waktu untuk menengok lagi.</p>
<p align="justify">Semoga dalam bahagiaku-pun aku tak akan pernah lupa, bahwa &quot;mungkin&quot; ia hanya selembar tissu kusut di meja&#8230; tapi ternyata dia memang sungguh istimewa&#8230;</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2008/12/23/selembar-tissu-kusut-di-meja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa untuk sahabatku&#8230;</title>
		<link>http://rienayesha.com/2008/09/18/doa-untuk-sahabatku/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2008/09/18/doa-untuk-sahabatku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 08:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.wordpress.com/2008/09/18/doa-untuk-seorang-sahabat/</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini longgar seperti biasa, alhamdulillah. Dan seperti biasa juga ku berlomba dengan waktu berusaha untuk mengubah detik-detik membosankan di depan mataku menjadi menyenangkan, menyulut semangatku sendiri. Setelah buku tak berhasil.. akhirnya aku putuskan membuka file-file lama yang kali ini berisi puisi, tema yang masih mengepulkan asap di kepalaku&#8230;Dan inilah salah satu yang aku temukan,


BUKAN [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Hari ini longgar seperti biasa, alhamdulillah. Dan seperti biasa juga ku berlomba dengan waktu berusaha untuk mengubah detik-detik membosankan di depan mataku menjadi menyenangkan, menyulut semangatku sendiri. Setelah buku tak berhasil.. akhirnya aku putuskan membuka file-file lama yang kali ini berisi puisi, tema yang masih mengepulkan asap di kepalaku&#8230;<span id="more-46"></span>Dan inilah salah satu yang aku temukan,</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Georgia;color:maroon;">BUKAN CINTA </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">pagi ini…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">untuk kesekian kalinya…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">perempuan itu tetap diam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">melangkah di jalanan yang sama</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">mencoba memenuhi hatinya dengan harum melati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">mewarnai jiwanya dengan indah pelangi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">dan mengaliri dirinya dengan segarnya embun pagi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">bukan dengan rekah2 kelopak sang bunga</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">bukan dengan bias sang cahaya yang memayungi awan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">dan bukan dengan kilau  kristal di ujung dedaunan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">tapi dengan sebuah bayang berbingkai harap</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">meski dia tahu..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">dia tak akan pernah bisa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">karena nama itu, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">tetap saja&#8230; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">BUKAN CINTA</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">Bandung, 25th of April</span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p>Puisi lama yang aku buat ketika baru tiba di Bandung. Terispirasi dari seorang sahabat yang tak jua menjatuhkan tambatan hatinya meskipun usia sudah bisa dibilang lebih dari sekedar matang, gundah yang sering ia bagi kadang membuat aku bertanya2 kenapa ia seolah tak mencoba menjawabnya sendiri. Dan itu akan dia akhiri dengan kalimat yang sama &#8220;Cinta itu kan nggak bisa dipaksain rien, aku mencobanya berkali-kali dan selalu gagal&#8221; tentu saja setelah sekian jam mengalirkan cerita tentang si A dan si B yang ternyata tak berhasil menumbuhkan cinta dalam hatinya.</p>
<p>Glekk&#8230;  aduhh, kalau diajak berdebat tentang makhluk bernama cinta aku rasa sebaiknya aku mengalah. Sesekali hanya tergoda untuk bertanya sebenarnya dimana letak kesalahannya, takdirkah atau memang kita.. manusia yang tak tahu bagaimana cara yang benar untuk menjalaninya, atau mungkin ini hanya tentang ego dan ketidak bersediaan kita untuk melihatnya dengan cara yang berbeda, wallahu a&#8217;lam.. aku tak berani mengira-ngira lagi.</p>
<p>Hanya doa yang selalu aku panjatkan semoga hari yang dinanti akan tiba untuknya, dimana sang tambatan hati mengandeng tangannya untuk berjalan bersama&#8230;. melewati sebuah pintu baru untuk menyempurnakan setengah agamanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2008/09/18/doa-untuk-sahabatku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bismillah&#8230;</title>
		<link>http://rienayesha.com/2008/05/23/hello-world-2/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2008/05/23/hello-world-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 May 2008 07:06:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/2008/05/23/hello-world-2/</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah&#8230;. mungkin ini yang pertama kali harus aku ucapkan untuk memulai blog ini. Ya&#8230;. karena sebuah harapan untuk menjadi aku yang lebih baik mengiringi gerakan jemariku. Harapan agar esok hari lebih banyak lagi kutemukan kesadaran tentang kemana arah pencarianku.
Blog ini bukan yang pertama aku miliki sejak pertama berkenalan dengan &#8220;cyber community&#8221; diakhir tahun 2004, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah&#8230;. mungkin ini yang pertama kali harus aku ucapkan untuk memulai blog ini. Ya&#8230;. karena sebuah harapan untuk menjadi aku yang lebih baik mengiringi gerakan jemariku. Harapan agar esok hari lebih banyak lagi kutemukan kesadaran tentang kemana arah pencarianku.</p>
<p>Blog ini bukan yang pertama aku miliki sejak pertama berkenalan dengan &#8220;cyber community&#8221; diakhir tahun 2004, dan dari blog2 yang sebelumnya aku belajar banyak tentang menjadi seorang &#8216;rien&#8217; yang pada akhirnya &#8216;antara ada dan tiada&#8217; ditengah komunitasnya karena sebuah pilihan bernama ayesha. Tak kuselali, karena segala pilihan memang selalu diiringi dengan konsekuensi, dan kuharap.. pilihanku untuk terdampar disini adalah awal yang baik untuk hari2ku yang selanjutnya.</p>
<p>Ayesha masih disini, tapi halaman baru ini juga akan tetap bernadi&#8230; InsyaAllah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2008/05/23/hello-world-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
