<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rienayesha&#039;s Raindrops &#38; Hi Heels &#187; Puisi</title>
	<atom:link href="http://rienayesha.com/category/puisi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rienayesha.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Dec 2009 06:42:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Keajaiban bernama &#8216;Sang Waktu&#8217;</title>
		<link>http://rienayesha.com/2009/12/10/kejaiban-bernama-sang-waktu/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2009/12/10/kejaiban-bernama-sang-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 04:47:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Keajaiban]]></category>
		<category><![CDATA[Maya]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[&#160; 
Kehidupan memang penuh keajaiban. Apa yang ada di genggaman kita saat ini bisa saja hilang hanya dalam hitungan detik dan juga sebaliknya, dalam tempo yang sama apa yang bahkan tak pernah terpikir untuk bisa kita miliki&#160; tiba-tiba sudah di tangan. Betapa berartinya detik demi detik itu, tapi nyatanya kita [terutama aku pribadi] jauh lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#160;<img style="border-right-width: 0px; margin: 0px auto; display: block; float: none; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="11112009404" border="0" alt="11112009404" src="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2009/12/11112009404.jpg" width="162" height="215" /> </p>
<p align="justify">Kehidupan memang penuh keajaiban. Apa yang ada di genggaman kita saat ini bisa saja hilang hanya dalam hitungan detik dan juga sebaliknya, dalam tempo yang sama apa yang bahkan tak pernah terpikir untuk bisa kita miliki&#160; tiba-tiba sudah di tangan. Betapa berartinya detik demi detik itu, tapi nyatanya kita [terutama aku pribadi] jauh lebih sering mengabaikannya. Detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun-tahun di belakang banyak yang berlalu begitu saja tanpa <em>greget</em> apa-apa.</p>
<p> <span id="more-230"></span>
<p align="justify"></p>
<p align="justify">Puisi ini adalah sebuah monumen untuk mengingat satu waktu yang pernah aku lewati di pertengahan tahun 2008, saat dimana keajaiban menyapa sejenak dalam bentuk waktu sepanjang tujuh jam dan sebuah tantangan kecil yang terlontar di sela-selanya. Aku yakin itu bukan ‘keajaiban’ yang ada di kepala kebanyakan orang tapi kejaiban itu mampu membawakan sebuah pembelajaran baru untukku. Sebuah pelajaran bahwa definisi sedih, bahagia, harapan, keputus-asaan, maya, nyata, waktu, dan entah berapa banyak hal lain yang ada di sekitar kita tak akan pernah berhenti bertransformasi bersama waktu dan apa yang kita lewati di dalamnya.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="center">[My notepad, ketika tiba2 kutemukan ironi.. tepatnya Rabu,170908]</p>
<p align="center"><strong>7 JAM BERSAMAMU</strong></p>
<p align="center">Sungguh&#8230;    <br />Menulis tentang 7 jam bersamamu terasa seperti siksa     <br />membuat jemariku kaku dan seolah hilang kewajarannya     <br />lalu ia juga membawakanku atmosfer yang gelisah memenuhi udara     <br />dan memaksaku terduduk diam, tak mampu bersuara</p>
<p align="center">Kucoba membenamkan diriku dalam rentetan memori    <br />Mengais-ngais, mencoba menemukan kesadaran yang saat itu kumiliki     <br />Terus saja mencari makna diantara deretan gambar yang pernah tercipta     <br />tapi&#8230; lagi-lagi     <br />7 jam seolah tak mampu memberikanku jawaban apa2</p>
<p align="center">Tak akan berani kupinta 7 jam yang sama    <br />menyadari bahwa kadang kehidupan tak selalu seindah keinginan kita     <br />dan mungkin&#8230; karena keputusasaanlah,     <br />Kuputuskan untuk tak berkata2     <br />Diam dan tak pernah berani melangkah lagi untuk mencoba</p>
<p align="center">Menulis 7 jam bersamamu seperti berjalan dalam maya    <br />Mengukir keindahan yang akhirnya hilang ketika mata terbuka     <br />Terkikis kesadaran, anugrah yang tiba-tiba terasa bagai bencana     <br />menghapus tiap harapan yang telah tersemat diantara baris yang ada</p>
<p align="center">Kusyukuri hari ini    <br />Saat 7 jam bersamamu kadang terasa seperti air yang mengobati     <br />Menuangkan untukku secangkir dingin dalam panas yang tak terkira     <br />Meski tak kumengerti bagaimana ia bekerja</p>
<p align="center">Tetap saja&#8230;    <br />Tak kuyakini kebenaran akan datang pada kita     <br />Tapi kepercayai bahwa sebenarnya ia ada..     <br />Entah menunggu,     <br />Entah memang tak ingin diganggu..     <br />Tak pernah kutahu     <br />Yang ada dalam benakku,     <br />bahwa harapan akan selalu menemukan jalannya     <br />Mungkin berakhir dengan kalah     <br />Mungkin juga suatu ketika berlangsung indah</p>
<p align="center">Haruskah kuukir lagi??</p>
<p align="center">7 jam bersamamu,    <br />Mungkin,itu memang hanya mimpi..</p>
<p>&#160;</p>
<p align="justify"><em>&#8211;&gt; Terimakasih telah memberiku ‘keajaiban’ itu. Menyadarkanku bahwa kemanapun kulangkahkan kakiku, akan selalu ada sahabat untukku</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2009/12/10/kejaiban-bernama-sang-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
