<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rienayesha&#039;s Raindrops &#38; Hi Heels &#187; Daily life</title>
	<atom:link href="http://rienayesha.com/category/daily-life/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rienayesha.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Dec 2009 06:42:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Keajaiban bernama &#8216;Sang Waktu&#8217;</title>
		<link>http://rienayesha.com/2009/12/10/kejaiban-bernama-sang-waktu/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2009/12/10/kejaiban-bernama-sang-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 04:47:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Keajaiban]]></category>
		<category><![CDATA[Maya]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[&#160; 
Kehidupan memang penuh keajaiban. Apa yang ada di genggaman kita saat ini bisa saja hilang hanya dalam hitungan detik dan juga sebaliknya, dalam tempo yang sama apa yang bahkan tak pernah terpikir untuk bisa kita miliki&#160; tiba-tiba sudah di tangan. Betapa berartinya detik demi detik itu, tapi nyatanya kita [terutama aku pribadi] jauh lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#160;<img style="border-right-width: 0px; margin: 0px auto; display: block; float: none; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="11112009404" border="0" alt="11112009404" src="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2009/12/11112009404.jpg" width="162" height="215" /> </p>
<p align="justify">Kehidupan memang penuh keajaiban. Apa yang ada di genggaman kita saat ini bisa saja hilang hanya dalam hitungan detik dan juga sebaliknya, dalam tempo yang sama apa yang bahkan tak pernah terpikir untuk bisa kita miliki&#160; tiba-tiba sudah di tangan. Betapa berartinya detik demi detik itu, tapi nyatanya kita [terutama aku pribadi] jauh lebih sering mengabaikannya. Detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun-tahun di belakang banyak yang berlalu begitu saja tanpa <em>greget</em> apa-apa.</p>
<p> <span id="more-230"></span>
<p align="justify"></p>
<p align="justify">Puisi ini adalah sebuah monumen untuk mengingat satu waktu yang pernah aku lewati di pertengahan tahun 2008, saat dimana keajaiban menyapa sejenak dalam bentuk waktu sepanjang tujuh jam dan sebuah tantangan kecil yang terlontar di sela-selanya. Aku yakin itu bukan ‘keajaiban’ yang ada di kepala kebanyakan orang tapi kejaiban itu mampu membawakan sebuah pembelajaran baru untukku. Sebuah pelajaran bahwa definisi sedih, bahagia, harapan, keputus-asaan, maya, nyata, waktu, dan entah berapa banyak hal lain yang ada di sekitar kita tak akan pernah berhenti bertransformasi bersama waktu dan apa yang kita lewati di dalamnya.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="center">[My notepad, ketika tiba2 kutemukan ironi.. tepatnya Rabu,170908]</p>
<p align="center"><strong>7 JAM BERSAMAMU</strong></p>
<p align="center">Sungguh&#8230;    <br />Menulis tentang 7 jam bersamamu terasa seperti siksa     <br />membuat jemariku kaku dan seolah hilang kewajarannya     <br />lalu ia juga membawakanku atmosfer yang gelisah memenuhi udara     <br />dan memaksaku terduduk diam, tak mampu bersuara</p>
<p align="center">Kucoba membenamkan diriku dalam rentetan memori    <br />Mengais-ngais, mencoba menemukan kesadaran yang saat itu kumiliki     <br />Terus saja mencari makna diantara deretan gambar yang pernah tercipta     <br />tapi&#8230; lagi-lagi     <br />7 jam seolah tak mampu memberikanku jawaban apa2</p>
<p align="center">Tak akan berani kupinta 7 jam yang sama    <br />menyadari bahwa kadang kehidupan tak selalu seindah keinginan kita     <br />dan mungkin&#8230; karena keputusasaanlah,     <br />Kuputuskan untuk tak berkata2     <br />Diam dan tak pernah berani melangkah lagi untuk mencoba</p>
<p align="center">Menulis 7 jam bersamamu seperti berjalan dalam maya    <br />Mengukir keindahan yang akhirnya hilang ketika mata terbuka     <br />Terkikis kesadaran, anugrah yang tiba-tiba terasa bagai bencana     <br />menghapus tiap harapan yang telah tersemat diantara baris yang ada</p>
<p align="center">Kusyukuri hari ini    <br />Saat 7 jam bersamamu kadang terasa seperti air yang mengobati     <br />Menuangkan untukku secangkir dingin dalam panas yang tak terkira     <br />Meski tak kumengerti bagaimana ia bekerja</p>
<p align="center">Tetap saja&#8230;    <br />Tak kuyakini kebenaran akan datang pada kita     <br />Tapi kepercayai bahwa sebenarnya ia ada..     <br />Entah menunggu,     <br />Entah memang tak ingin diganggu..     <br />Tak pernah kutahu     <br />Yang ada dalam benakku,     <br />bahwa harapan akan selalu menemukan jalannya     <br />Mungkin berakhir dengan kalah     <br />Mungkin juga suatu ketika berlangsung indah</p>
<p align="center">Haruskah kuukir lagi??</p>
<p align="center">7 jam bersamamu,    <br />Mungkin,itu memang hanya mimpi..</p>
<p>&#160;</p>
<p align="justify"><em>&#8211;&gt; Terimakasih telah memberiku ‘keajaiban’ itu. Menyadarkanku bahwa kemanapun kulangkahkan kakiku, akan selalu ada sahabat untukku</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2009/12/10/kejaiban-bernama-sang-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Denyut Si Tua Braga</title>
		<link>http://rienayesha.com/2009/01/03/denyut-si-tua-braga/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2009/01/03/denyut-si-tua-braga/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 16:53:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>
		<category><![CDATA[event]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[BragaFestival]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/2009/01/03/denyut-si-tua-braga/</guid>
		<description><![CDATA[&#8212;review dari kunjungan ke Braga Festival 2008&#8212;
Alhamdulillah akhirnya keinginan untuk mengunjungi Braga Festival 2008 kesampaian juga. Dan bukan hanya sekali, tapi dua kali.. meskipun sebenarnya jujur aku agak kecewa dengan event yang satu ini. Bukan hanya karena dekorasinya yang katanya mirip gelaran bazaar biasa, maupun beberapa performance yang katanya lagi.. kurang menarik, tapi memang suasana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>&#8212;review dari kunjungan ke Braga Festival 2008&#8212;</strong></p>
<p align="justify">Alhamdulillah akhirnya keinginan untuk mengunjungi <a href="http://rienayesha.com/2008/12/28/braga-festival-2008/">Braga Festival 2008</a> kesampaian juga. Dan bukan hanya sekali, tapi dua kali.. meskipun sebenarnya jujur aku agak kecewa dengan event yang satu ini. Bukan hanya karena dekorasinya yang <a href="http://bandung.detik.com/readfoto/2008/12/30/194542/1061118/501/1/braga-festival-2008-mirip-bazar">katanya</a> mirip gelaran bazaar biasa, maupun beberapa performance yang <a href="http://bandung.detik.com/read/2007/12/30/003100/872900/486/atraksi-seni-tak-menarik-braga-festival-di-bandung-garing">katanya lagi</a>.. kurang menarik, tapi memang suasana yang menurutku terasa sama sekali tidak istimewa. </p>
<p> <span id="more-199"></span>
<p align="justify"></p>
<p align="justify">Kunjungan pertama terlaksana tanggal 30/12/2008, hanya beberapa jam setelah <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&amp;id=50497">pembukaan resmi</a> event ini &#8211;<em>yang menurut beberapa media lokal menyebabkan kemacetan yang cukup parah di beberapa ruas jalan yang terhubung dengan kawasan Braga</em>&#8211;. Meskipun aku sendiri cukup adem-ayem dan sempat merencanakan alokasi waktu malam hari untuk kesana, ternyata justru teman2 di sekelilingku yang bersemangat untuk <strike>entah</strike> menemaniku <strike>atau memang pengen</strike> kesana siang itu. Tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya, gelaran2 yang disuguhkan memang jauh dari harapan yang sempat melecut gairahku. Dari settingnya sendiri, aku rasa kurang terintegrasi dengan baik dan antar bagian kurang menyatu. Penataan stand2 yang ada juga terkesan sekenanya saja, stand yang menawarkan makanan, pakaian dan kerajinan dibiarkan bercampur menjadi satu. Memang mirip seperti bazar kebanyakan.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify"><a href="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2009/01/dsc00156.jpg"><img style="border-right: 0px; border-top: 0px; border-left: 0px; border-bottom: 0px" height="320" alt="DSC00156" src="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2009/01/dsc00156-thumb.jpg" width="416" border="0" /></a> </p>
<p align="center">&#8211;salah satu gerbang Braga Festival&#8211;</p>
<p align="justify"><a href="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2009/01/dsc00172.jpg"><img style="border-right: 0px; border-top: 0px; border-left: 0px; border-bottom: 0px" height="310" alt="DSC00172" src="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2009/01/dsc00172-thumb.jpg" width="418" border="0" /></a>&#160;</p>
<p align="center">&#8211;hasil perburuan hari kedua&#8211;</p>
<p align="justify"><a href="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2009/01/dsc00164.jpg"><img style="border-right: 0px; border-top: 0px; border-left: 0px; border-bottom: 0px" height="299" alt="DSC00164" src="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2009/01/dsc00164-thumb.jpg" width="416" border="0" /></a> </p>
<p align="center">&#8211;sudut dimana <a href="http://rienayesha.com/2008/12/19/im-in-love/" target="_blank">cintaku</a> sempat bersemi&#8211;</p>
<p align="justify">Sebagian besar live performance juga aku lewatkan karena dari beberapa yang sempat aku &#8216;cicipi&#8217; dalam kunjungan pertama&#160; tema-nya memang agak garing. Salah satu alasan yang membuatku agak malas untuk kembali di malam harinya sesuai dengan rencana semula, tentu saja disamping hasil browsing dari beberapa review yang berpendapat senada.</p>
<p align="justify">Sementara kunjungan kedua adalah keesokan harinya, kali ini bersama <a href="http://haldaaditya.blogspot.com/" target="_blank">mas adit</a>. Rencana awal untuk pergi bersama rekan lain tidak bisa terlaksana karena disaat yang sama ada seorang sahabat yang lebih memerlukan &#8216;bantuan&#8217; <strike>medis</strike>. Live performance juga sama, lagi2 kurang menarik. Tapi kali ini suasananya tampak lebih hidup, mungkin karena lebih banyak pengunjungnya. Jadi kalau direview lagi.. Photo expo, tampaknya hanya sedikit sekali di beberapa sudutnya. Kebanyakan sudah beredar luas di internet dan bukan fotho2 eksklusifi. Untuk cullinary and craft exhibition, hanya menawarkan sedikit sekali pilihan kreatif yang tidak ditemukan setiap hari.. sisanya barang2 yang sama yang bertebaran di mall. Sementara untuk Painting Exhibition, tampaknya juga tak beda jauh dengan &#8216;exhibition&#8217; yang setiap hari memang &#8216;digelar&#8217; disana.&#160; Yang lain.. aku nda ngerti.</p>
<p align="justify">Tapi terlepas dari segala kekurangan yang ada, event ini menggembirakan karena setidaknya benar2 ada masa dimana braga mendapatkan apresiasi lebih dan terasa lebih fresh. Yang lebih menyenangkan adalah membayangkan braga benar2 menjadi pedestrian yang memanjakan pejalan kaki seperti saat2 digelarnya festival, rasanya berbunga2. Entah kapan revitalisasi itu terlaksana mengingat penutupan beberapa ruas jalan kemarin yang sedianya juga merupakan ujicoba,ternyata efeknya kurang bagus mengingat Braga memang jalur yang sangat vital.</p>
<p align="justify">Semoga.. di tahun 2009 ini nadinya berdenyut lebih teratur lagi, membawakan nafas baru untuk kota kecil ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2009/01/03/denyut-si-tua-braga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerlip lampu di penghujung 2008</title>
		<link>http://rienayesha.com/2009/01/02/kerlip-lampu-di-penghujung-2008/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2009/01/02/kerlip-lampu-di-penghujung-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 19:20:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[KerlipLampu]]></category>
		<category><![CDATA[TahunBaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/2009/01/02/kerlip-lampu-di-penghujung-2008/</guid>
		<description><![CDATA[Seperti biasa, pemandangan itu selalu menahan mataku untuk saat yang lama. Deretan kerlap-kerlip lampu yang menghiasi kaki pegunungan yang mengelilingi Bandung memang luar biasa indah terutama di malam tahun baru. Pemandangan yang membentang di hampir seluruh mata angin itu tambah semarak dengan nyala kembang api yang sesekali bermunculan.  Ada kedamaian tersendiri setiap kali aku melewati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Seperti biasa, pemandangan itu selalu menahan mataku untuk saat yang lama. Deretan kerlap-kerlip lampu yang menghiasi kaki pegunungan yang mengelilingi Bandung memang luar biasa indah terutama di malam tahun baru. Pemandangan yang membentang di hampir seluruh mata angin itu tambah semarak dengan nyala kembang api yang sesekali bermunculan.  Ada kedamaian tersendiri setiap kali aku melewati beberapa sudut Bandung yang menawarkan pemandangan serupa, perasaan bahwa <strong>aku tak sendirian</strong>-lah kiranya salah satu alasannya..</p>
<p align="center"><a href="http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=599710&amp;page=4"><img style="border-top-width: 0px; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-right-width: 0px" src="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2009/01/i-love-bandung-by-astronduts2.jpg" border="0" alt="i_love_BANDUNG_by_astronduts" width="310" height="427" /></a></p>
<p><span id="more-188"></span></p>
<p align="justify">Tapi memang, di malam pergantian tahun 2008 kemarin ada perasaan yang aneh dan berbeda dari biasanya. Sebuah kesadaran bahwa aku memang benar2 berada di Bandung, kota yang sebenarnya masih asing buatku. Asing, karena ternyata setelah 8 bulan berada dsini aku temukan bahwa chemistry-ku dengan kota ini tak juga lengkap. Aku masih belum bisa mendapatkan lagi kedamaian seperti dulu. Eksistensi yang dibangun lagi dari nol yang tak juga mewujud membuatku terlalu menekan diri sendiri dengan banyak pikiran negatif. Sehingga, lagi2 proses perenungan berakhir dengan beberapa tetes air mata dan kegalauan.</p>
<p align="justify">Beruntunglah karena pada akhirnya sahabat2ku di <a href="http://www.plurk.com/Rienayesha">plurk</a> mengingatkanku untuk kembali optimis, menyadarkan lagi bahwa apa yang menggangguku di penghujung tahun ini hanya serpihan kecil dalam kehidupanku, mereka menarikku kembali kedalam kesyukuran bahwa aku memiliki lebih dari yang aku perlukan. Toh, jika ada yang harus aku perjuangkan maka aku tak lagi diharuskan untuk memulai dari  anak tangga paling bawah&#8230; tinggal beberapa langkah lagi aku sudah hampir sampai di anak tangga terakhir.</p>
<p align="justify">Dan malam ini aku melihatnya lagi, kerlip lampu itu terlihat jauh lebih indah. Tak lagi membuatku menangis dan tak sekedar memberiku kedamaian, ia memanggilku untuk bangun dan kembali mencintai diriku yang kini&#8230; tak lain adalah <strong>bagian tak terpisahkan dari kota ini, </strong>Bandung. Semoga &#8216;tahun 2009&#8242; dan &#8216;Bandung&#8217;  menjadi perpaduan indah yang membawakan kesempatan-kesempatan baru untuk melanjutkan mimpiku lagi..</p>
<p align="justify">
<p align="center"><span style="font-size: x-large;">WELCOME 2009</span></p>
<p align="center"><span style="font-size: x-large;"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2009/01/02/kerlip-lampu-di-penghujung-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>August Rush</title>
		<link>http://rienayesha.com/2008/12/26/august-rush/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2008/12/26/august-rush/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 16:45:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>
		<category><![CDATA[event]]></category>
		<category><![CDATA[AugustRush]]></category>
		<category><![CDATA[JohnLegend]]></category>
		<category><![CDATA[Someday]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/2008/12/26/august-rush/</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin malam.. aku menghabiskan waktu bersama August Rush, drama musikal yang dibintangi oleh&#160; oleh Freddie Highmore&#160; (Evan taylor-August Rush) Keri Russell (Lyla Novacek) dan Jonathan Rhys Meyers (Louis Connelly). Film tentang perjalanan evan -dengan bakatnya yang luar biasa dalam musik dan composing- untuk menemukan kedua orang tuanya yang bahkan tidak tahu bahwa ia ada.
 
Adegan2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Kemarin malam.. aku menghabiskan waktu bersama August Rush, drama musikal yang dibintangi oleh&#160; oleh Freddie Highmore&#160; (Evan taylor-August Rush) Keri Russell (Lyla Novacek) dan Jonathan Rhys Meyers (Louis Connelly). Film tentang perjalanan evan -dengan bakatnya yang luar biasa dalam musik dan composing- untuk menemukan kedua orang tuanya yang bahkan tidak tahu bahwa ia ada.</p>
<p> <span id="more-151"></span>
<p align="justify">Adegan2 indah dengan musik bagus yang beberapa diantaranya dibawakan sendiri oleh Rhys Meyers sendiri plus aransemen orkestra yang berkelas dan menakjubkan benar2 membuat kesan film ini ELEGAN. Tentu saja bisa diduga bahwa seremoni ini ditutup dengan adegan termehek-mehek, bukan di film-nya sey.. tapi di sisi penontonnya alias di aku tentu.</p>
<p align="justify">Perjalananku menemukan film ini sendiri berawal dari sebuah perjalanan di seputar buah batu, ketika itu suara john legend mengalun membawakan SOMEDAY.. lagu indahnya tetap terngiang2 sampai minggu lalu ketika aku begitu ingin menemukannya. Setelah googling akhirnya aku menemukan video ini..</p>
<div align="justify">
<div class="wlWriterSmartContent" id="scid:5737277B-5D6D-4f48-ABFC-DD9C333F4C5D:71045d9d-c917-40ea-838f-71d4509d44bc" style="padding-right: 0px; display: inline; padding-left: 0px; padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-top: 0px">
<div id="f593919e-a5c5-41d5-b8d1-4ea6d5925073" style="margin: 0px; padding: 0px; display: inline;">
<div><a href="http://www.youtube.com/watch?v=841HKGEVdRA" target="_new"><img src="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2008/12/video4763cf4c487b.jpg" galleryimg="no" onload="var downlevelDiv = document.getElementById('f593919e-a5c5-41d5-b8d1-4ea6d5925073'); downlevelDiv.innerHTML = &quot;&lt;div&gt;&lt;object width=&quot;425&quot; height=&quot;350&quot;&gt;&lt;param name=&quot;movie&quot; value=&quot;http://www.youtube.com/v/841HKGEVdRA&quot;&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name=&quot;wmode&quot; value=&quot;transparent&quot;&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src=&quot;http://www.youtube.com/v/841HKGEVdRA&quot; type=&quot;application/x-shockwave-flash&quot; wmode=&quot;transparent&quot; width=&quot;425&quot; height=&quot;350&quot;&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&quot;;" alt=""></a></div>
</div>
</div></div>
<p align="justify">dan dari sinilah aku mendengar dan melihat sekilas tentang august rush. Keberuntungan memang tak kemana karena ada sahabat yang bertukar informasi sejak awal dan mencarikan film ini, memastikan&#160; acara nontonku benar2 terlaksana [tengkiu mas...]</p>
<p align="justify">Dari segi cerita secara keseluruhan di film ini mungkin ada beberapa hole yang terlewat&#8230; tapi menurutku film ini indah, sangat indah. Dan setidaknya ada beberapa pelajaran berharga yang bisa aku ambil, penggalan kata2 august rush misalnya&#8230;</p>
<p align="center"><em>Listen. Can you hear it. The music. I can hear everywhere. In the wind. In the air. In the light. It&#8217;s all around us. All you have to do is open your self up. All you have to do is listen&#8221;</em></p>
<p align="justify">kalimat ini mengingatkanku bahwa dalam kehidupan ada banyak hal yang tak terlihat yang sering telewatkan begitu saja, ada banyak pelajaran, hikmah.. yang tak pernah aku raih karena aku tak mau mendengarkan. Yang diperlukan olehku dan semua orang hanyalah kemauan karena semua hal sebenarnya sudah tersedia di sekeliling kita.</p>
<p align="justify">Dan&#8230; hmmm&#8230;. bukankah aku baru saja membuktikannya, sebuah film pengisi senggang-pun bisa jadi MELODY yang indah untuk direnungkan&#8230;</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">&#8212; <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/August_Rush" target="_blank">all about August Rush and everything which related to it</a>&#8212;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2008/12/26/august-rush/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selembar tissu kusut di meja</title>
		<link>http://rienayesha.com/2008/12/23/selembar-tissu-kusut-di-meja/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2008/12/23/selembar-tissu-kusut-di-meja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 18:52:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[TissuKusut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/2008/12/23/selembar-tissu-kusut-di-meja/</guid>
		<description><![CDATA[Selembar tissue itu sudah tak berbentuk lembaran lagi, tapi sudah berupa gumpalan2 kusut hasil dari apa yang tanganku lakukan. Sejak dari pagi sebenarnya sudah ada beberapa lembar tissu yang bernasib sama, hanya saja lembar terakhir ini masih betah di genggaman tanganku. 
 
Tissu ini jauh dari kesan istimewa tentunya, meskipun aku tahu bahwa untuk memprosesnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Selembar tissue itu sudah tak berbentuk lembaran lagi, tapi sudah berupa gumpalan2 kusut hasil dari apa yang tanganku lakukan. Sejak dari pagi sebenarnya sudah ada beberapa lembar tissu yang bernasib sama, hanya saja lembar terakhir ini masih betah di genggaman tanganku. </p>
<p> <span id="more-144"></span>
<p align="justify">Tissu ini jauh dari kesan istimewa tentunya, meskipun aku tahu bahwa untuk memprosesnya butuh waktu yang kadang hingga menembus satu dasawarsa. Tentu saja.. sekarang coba bayangkan, tissu2 ini dibuat dari bubur kertas yang sudah dipanaskan dan ditambahkan bahan kimia ini dan itu.. yang ini mungkin tak lama.. Proses sebelumnya tentu saja menyiapkan bubur kertasnya sendiri, lagi2 memang tak lama. Tapi coba telurusi, bubur kertas dibuat dari kayu kan??&#160; memang proses dari kayu-bubur ini juga tak lama.. Pertanyaannya, lha terus&#160; &quot;lama&quot;nya dimana dunk? tentu saja yang paling lama dan panjang adalah proses tumbuhnya sebuah tunas menjadi sebuah pohon yang siap tebang dan siap diambil kayunya&#8230;berapa tahun coba. Toh kenyataannya, alih -alih berhemat dan mensukseskan gerakan&#160; <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ecology_movement" target="_blank">ecology movement</a> tetap saja aku&#160; memakainya sesuka hati</p>
<p align="justify">Terlepas dari istimewa dan tidaknya si tissu ini, juga panjang atau tidak proses pembuatannya.. sebenarnya lembaran terakhir ini adalah lembaran yang paling berharga buatku, ya.. setidaknya dalam beberapa jam&#160; ini. Segala kegalauan, kesedihan dan pikiran yang tak tentu arah mendapatkan tempat untuk menyalurkan energinya disana.. lewat jemariku tentunya. Energi negatifku yang pada akhirnya mengoyak dan membuatnya begini. Kutimbang2 lagi.. mungkin&#160; rasanya seperti menemukan sebuah tempat bercerita dalam diam, menangis tanpa airmata, dan menumpahkan amarah tanpa suara. Sahabat setia lain yang mendengarkan kata2 dalam diamku,mengusap airmataku, dan meredam suaraku.</p>
<p align="justify">Tissu ini juga serasa menjadi analogi dari sahabat2ku dan Tuhanku tentunya, kadang tak tampak memberi bantuan yang berarti.. tapi dalam cara yang berbeda2 selalu menyediakan sebuah ruang untuk melewati masa2 kurang menyenangkan dan juga&#160; masa2 penuh kebahagiaan. Mereka yang sering terlupakan jasanya, yang sering terlihat ada dan tiada. </p>
<p align="justify">Aku tersenyum saat ini&#160; karena karena aku masih mampu menulis tentang lembar terakhir tissu ini, karena berarti masih ada kesyukuran dalam hatiku dan keyakinan bahwa sesungguhkan akan ada yang setia menjadi lembar2 tissuku yang lain nanti&#8230; banyak yang akan mengiringiku meskipun tanpa aku sadari. Kesyukuran bahwa sebenarnya hidupku selalu penuh dengan berkah.. hanya perlu sedikit waktu untuk menengok lagi.</p>
<p align="justify">Semoga dalam bahagiaku-pun aku tak akan pernah lupa, bahwa &quot;mungkin&quot; ia hanya selembar tissu kusut di meja&#8230; tapi ternyata dia memang sungguh istimewa&#8230;</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2008/12/23/selembar-tissu-kusut-di-meja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I&#8217;m in love</title>
		<link>http://rienayesha.com/2008/12/19/im-in-love/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2008/12/19/im-in-love/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2008 02:59:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>
		<category><![CDATA[Braga]]></category>
		<category><![CDATA[InLove]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Jatuh cinta memang selalu membuat kita salah tingkah, tidakkah begitu??? Membuat kita bertindak dan berpikir yang irrasional.
Setidaknya itulah yang aku alami beberapa bulan terakhir. Dan bodohnya, baru seminggu ini aku benar2 menyadarinya.
Semua berawal dari peristiwa beberapa bulan yang lalu ketika aku pindah ke Bandung, hari itu aku menyusuri jalan braga bersama beberapa sahabatku. Gerimis yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Jatuh cinta memang selalu membuat kita salah tingkah, tidakkah begitu???<span> </span>Membuat kita bertindak dan berpikir yang irrasional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Setidaknya itulah yang aku alami beberapa bulan terakhir. Dan bodohnya, baru seminggu ini aku benar2 menyadarinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Semua berawal dari peristiwa beberapa bulan yang lalu ketika aku pindah ke Bandung, hari itu aku menyusuri jalan braga bersama beberapa sahabatku. Gerimis yang turun siang itu benar2 membuat aku terlempar ke sebuah dimensi lain dari waktu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Dan disanalah –tanpa kusangka dan tanpa kusadari juga&#8211; cintaku padanya mulai bersemi…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"><!--[if !supportEmptyParas]--><span id="more-115"></span> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Ahh.. dia..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Di sisi yang sama, sudut yang sama.. hampir setiap hari aku selalu melihatnya. Kadang ia memang tak disana. Tapi kehadirannya selalu menggoda mataku dan seolah memanggilku untuk sejenak berhenti<span> </span>didekatnya, bercengkrama dan mengaguminya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Detik demi detik didekatnya selalu membuatku penuh gairah,memenuhi jiwaku dengan kebahagiaan, keingintahuan, harapan dan kekhawatiran pada saat bersamaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Tapi entahlah.. aku tak pernah ingin tahu lebih banyak lagi tentang dia, tidak juga<span> </span>untuk bertanya tentang kebenaran yang ada padanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Ya.. bahkan hingga hari ketika aku sadar bahwa aku mencintainya. Bukan karena apa2.. Tapi karena aku tak ingin kehilangan detik2 mendebarkan ketika setiap hari aku akan berlalu didepannya, aku tak ingin kehilangan detik2 penuh harap ketika menerka2 apakah dia disana di hari berikutnya.. dan aku tak ingin kehilangan gairah yang selalu kutemukan ketika bersamanya….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Karena begitulah cintaku hidup…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Pernah kubayangkan aku bisa melewatkan seluruh waktuku bersamanya. Tapi, tegakah aku mengambilnya dari tempat ia berada sekarang?? Mungkinkah cintaku juga bisa memberinya tempat yang lebih baik??<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Mungkin suatu hari aku akan menangisinya ketika ia tak lagi terjangkau oleh pandanganku. Tapi aku yakin tak akan mengapa…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Kubiarkan saja lukisan itu disana, lukisan capung dan kupu2 berbingkai coklat yang selalu mengulas senyumku setiap sore hari ketika aku melintasi braga.. Karena aku tahu pasti, sinerginya bersama suasana Braga-lah<span> </span>yang sebenarnya membuatku jatuh cinta.. mungkin juga, ketika ia tak lagi tergantung disana.. cintaku tak bisa lagi setia kepadanya.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2008/12/19/im-in-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memaknai blogging..</title>
		<link>http://rienayesha.com/2008/12/10/memaknai-blogging/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2008/12/10/memaknai-blogging/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 16:55:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>
		<category><![CDATA[Blogging]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.wordpress.com/2008/12/10/memaknai-blogging/</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya agak kagok milih judul yang tepat, tapi biarlah&#8230; tak apa, toh tidak ada pagu tentang pemilihan judul di blog. 

Hari ini, aku disindir lagi tentang blog yang &#8220;nda pernah di update&#8221; setelah sebelumnya entah&#160; beberapa kali si&#160; tetangga&#160; mengulang kalimat yang sama setiap kali bertemu. Intinya, seperti comment yang tertulis di postingan terakhirku.. kesungguhanku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Sebenarnya agak kagok milih judul yang tepat, tapi biarlah&#8230; tak apa, toh tidak ada pagu tentang pemilihan judul di blog. </p>
<p><span id="more-111"></span>
<p align="justify">Hari ini, aku disindir lagi tentang blog yang &#8220;nda pernah di update&#8221; setelah sebelumnya entah&nbsp; beberapa kali si&nbsp; <a href="http://sitoge.blogspot.com/" target="_blank">tetangga</a>&nbsp; mengulang kalimat yang sama setiap kali bertemu. Intinya, seperti comment yang tertulis di <a href="http://rienayesha.wordpress.com/2008/11/18/dan-saatnya-telah-tibasayang-part-iv/" target="_blank">postingan terakhirku</a>.. <strong>kesungguhanku blogging dipertanyakan</strong>. Memang pada kenyataannya ini bukan sesuatu yang serius apalagi untuk diperdebatkan, tapi lama tergoda juga untuk curhat tentang kebenaran dari sisiku. Belum lagi kebetulan sekali ada yang bertanya tentang kemungkinan hosting sendiri&nbsp; dan juga obrolan tentang <em>komitmen</em> dengan <strong><em>simas</em></strong> tadi siang [meskipun topiknya jauh dari blogging].</p>
<p align="justify">Ditanya tentang kesungguhan, tentu jawabanku &#8220;aku sunguh2&#8243;. Tapi tentang bentuk kesungguhanku, komitmenku&nbsp; dalam hal blogging ini.. apakah memang harus digenerate dengan standar yang sama dengan cara blogger lain memaknai kata2 &#8220;sungguh2&#8243;?? rajin posting misalnya, atau menarik traffic yang sepadat mungkin?? atau tentang seberapa banyak rupiah dan dolar yang bisa dikumpulkan dari situ?? atau tentang pengakuan komunitas?? entahlah, selama ini toh aku selalu menjadi penonton saja dan tentunya.. terserah individu masing2&nbsp; bagaimana mengambil standar yang pass untuk dipakai dalam hal ini. Tapi bagiku, blog sama seperti pilihan akan cinta. Ini bukan tentang uang, bukan tentang pengakuan, bukan tentang apa2 kecuali media pembangun diriku untuk menjadi yang <strong>seutuhnya</strong>, jalan untuk membantuku menemukan arah&nbsp; tujuan akhirku nanti. </p>
<p align="justify">Bukan&#8230; bukan&nbsp; berarti semua hal diatas tidak penting untukku, tapi dimataku ini adalah tentang bonus.&nbsp; Tentang sebuah kepercayaan bahwa apapun yang diniatkan dengan niat baik akan membawakan kebaikan juga.&nbsp; </p>
<p align="justify">Aku rasa blogger lain tak akan menyangkal kalau aku katakan bahwa &#8220;blog adalah bentuk apresiasi untuk blogger itu&nbsp; sendiri, sebuah ruang untuk menjadi apa yang mereka mau&#8221;. Tentang apakah tujuannya menjadi seorang penyair,&nbsp; pemberi informasi, konsultan, pencari uang, da&#8217;i, moderator atau apapun itu.. tentu saja akan kembali ke diri blogger masing2. Apresiasi yang selalu berangkat dari cinta -baik kecintaan terhadap diri sendiri, profesi, gaya hidup, bidang, de el el-&nbsp; sebenarnya seragam. Kenyataan bahwa niat dan cara yang berlainan&nbsp; yang dipilih masing2 individu&nbsp; hanyalah bentuk pilihan yang berbeda, itu saja&#8230; </p>
<p align="justify">Dari sudut pandangku sendiri, blog adalah analogi kehidupan . Tempat untuk menjalani <strong>apapun </strong>untuk menjadi <strong>apapun,&nbsp; </strong>hanya perlu&nbsp; &#8220;memilih&#8221;<strong>. </strong> Jadi&#8230; akan kubiarkan blog-ku mengalir tanpa keterpaksaan, tanpa tekanan, tanpa intervensi. Karena aku percaya bahwa kehidupan, cinta, akan&nbsp; mengalir dengan sendirinya&#8230;&nbsp; </p>
<p align="justify">Bravo blogging, bravo kehidupan, bravo cinta!!! </p>
<p align="justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2008/12/10/memaknai-blogging/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengejar Mbak-Mbak</title>
		<link>http://rienayesha.com/2008/10/03/mengejar-mbak-mbak/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2008/10/03/mengejar-mbak-mbak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 23:12:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Seminggu yang lalu, tepatnya sehari setelah asisten yang selama ini membantu segala pekerjaan yang berhubungan dengan rumahku mudik ke Cilacap,  aku sempat terkaget-kaget ketika membersihkan bagian belakang rumah kontrakan tersayang ini. Beberapa piring saji kesayangan sudah berjejer rapi disana. Hanya saja kali ini dalam kondisi yang mengenaskan, kotor dan tidak utuh lagi. Yang membuatku agak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Seminggu yang lalu, tepatnya sehari setelah asisten yang selama ini membantu segala pekerjaan yang berhubungan dengan rumahku mudik ke Cilacap,  aku sempat terkaget-kaget ketika membersihkan bagian belakang rumah kontrakan tersayang ini. Beberapa piring saji kesayangan sudah berjejer rapi disana. Hanya saja kali ini dalam kondisi yang mengenaskan, kotor dan tidak utuh lagi. <span id="more-53"></span>Yang membuatku agak gusar bukanlah ihwal si cantik yang pecah, tapi mengingat selama ini ‘blass&#8217; tidak ada laporan tentang barang rusak dirumah padahal jauh-jauh hari sudah diingatkan untuk <strong>JUJUR</strong>. Aturan sudah jelas, barang rusak tanpa faktor kesengajaan tak akan pernah diminta ganti, tapi laporan adalah keharusan. Kejadian barang-barang kesayangan tak bisa diselamatkan bukanlah yang pertama, tapi seingatku belum pernah asisten-asisten<em> </em>itu dihampiri amarahku gara-gara hal ini <em>mengingat sudah terlanjur.</em> Dan acara terkaget-kaget itu ternyata berlanjut sampai hari ini ketika menemukan ini dan itu dalam keadaan tak terduga. Akhirnya, niat untuk mengganti asisten di rumah bulat lat lat lat dan itu artinya <em>Pe Er</em> baru lagi buatku.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Urusan asisten yang di rumah disebut <strong>Si Mbak</strong> ini memang lumayan menguras pikiran, tenaga sesekali, dan tentu saja uang. Selama 4,5 tahun terakhir terhitung sudah 6 kali berganti <strong>Mbak</strong>. Sebelum pindah ke bandung memang rien selalu memakai jasa dua <strong>Mbak</strong>, bukan apa-apa.. tapi kekhawatiran tentang hani yang mungkin kurang terawasi membuatku melakukan usaha apa saja untuk memastikan hal itu biasa diminimalisir. Aku termasuk ibu bekerja yang beruntung karena selama ini mendapatkan mbak baru [ketika diperlukan] tanpa kesulitan apa-apa, menengok teman-teman ketika di Jakarta yang seringkali kelimpungan dengan urusan yang satu ini. Sampai-sampai seorang sahabat menobatkan masalah ini sebagai E<em>VERLASTING WORKING MOM&#8217;S AFFAIR</em> dan well, aku dan teman-teman yang lain-pun mengiyakan.  Ketika ada salah seorang dari kami yang bermasalah dengan <strong>Si Mbak</strong>, maka bisa dipastikan seluruh komunitas  pegawai putri menyebar bisik-bisik di kantor sibuk nanya kanan kiri membantu mencarikan pengganti&#8230; [ohh.. how I miss those moments].</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Memilih <strong>Si Mbak</strong> memang gampang-gampang susah, seperti mengejar layang-layang saja. Keberuntunganlah yang pada akhirnya bicara. Ahhh&#8230;. jadi inget juga sederet nama yang pernah menyandang predikat <strong>Si Mbak</strong> yang selama ini berjasa untuk rien, mulai dari Mbak Mi, Mbak Is, Mbak Mela, Mbak Yus, Mba Yaroh, Mbak Indri [yang kesemuanya berasal dari keluarga besar yang sama] dan yang terakhir Mba Hevi. Ada yang masih sangat muda, baru lulus SMP sampe yang sudah berusia sepantaran ibu. Ada yang super duper rajin sampe bisa menyelesaikan kejar paket C dengan nilai bagus selama bersama rien, ada yang malesnya minta ampun dah menghabiskan waktu bertelpon ria sepanjang hari. Ada yang sopan pake buanget, ada yang nda ngerti unggah-ungguh juga. Ada yang sangat JUJUR dan ada juga yang hoby berbohong. Dan tentu saja, sederet nama itu berakhir dengan sebuah kriteria panjang yang sekiranya harus dimiliki <strong>the next Mbak</strong>. Memang, sejujurnya rien sendiri tak terlalu yakin ada yang sesempurna itu.. tapi apa salahnya mencoba. Lagipula, memang begitulah yang sewajarnya, kesempurnaan kadang terbantahkan ketika dilihat dari sudut berbeda&#8230; dan lagi-lagi ini  sepertinya tentang  <em>toleransi</em> seperti pengejaran sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">So&#8230; saatnya berlari, Mengejar <strong>Mbak-Mbak</strong>&#8230; dan kali ini, harus dengan semangat tinggi&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2008/10/03/mengejar-mbak-mbak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa untuk sahabatku&#8230;</title>
		<link>http://rienayesha.com/2008/09/18/doa-untuk-sahabatku/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2008/09/18/doa-untuk-sahabatku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 08:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.wordpress.com/2008/09/18/doa-untuk-seorang-sahabat/</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini longgar seperti biasa, alhamdulillah. Dan seperti biasa juga ku berlomba dengan waktu berusaha untuk mengubah detik-detik membosankan di depan mataku menjadi menyenangkan, menyulut semangatku sendiri. Setelah buku tak berhasil.. akhirnya aku putuskan membuka file-file lama yang kali ini berisi puisi, tema yang masih mengepulkan asap di kepalaku&#8230;Dan inilah salah satu yang aku temukan,


BUKAN [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Hari ini longgar seperti biasa, alhamdulillah. Dan seperti biasa juga ku berlomba dengan waktu berusaha untuk mengubah detik-detik membosankan di depan mataku menjadi menyenangkan, menyulut semangatku sendiri. Setelah buku tak berhasil.. akhirnya aku putuskan membuka file-file lama yang kali ini berisi puisi, tema yang masih mengepulkan asap di kepalaku&#8230;<span id="more-46"></span>Dan inilah salah satu yang aku temukan,</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Georgia;color:maroon;">BUKAN CINTA </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">pagi ini…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">untuk kesekian kalinya…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">perempuan itu tetap diam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">melangkah di jalanan yang sama</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">mencoba memenuhi hatinya dengan harum melati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">mewarnai jiwanya dengan indah pelangi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">dan mengaliri dirinya dengan segarnya embun pagi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">bukan dengan rekah2 kelopak sang bunga</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">bukan dengan bias sang cahaya yang memayungi awan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">dan bukan dengan kilau  kristal di ujung dedaunan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">tapi dengan sebuah bayang berbingkai harap</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">meski dia tahu..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">dia tak akan pernah bisa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">karena nama itu, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">tetap saja&#8230; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">BUKAN CINTA</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">Bandung, 25th of April</span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p>Puisi lama yang aku buat ketika baru tiba di Bandung. Terispirasi dari seorang sahabat yang tak jua menjatuhkan tambatan hatinya meskipun usia sudah bisa dibilang lebih dari sekedar matang, gundah yang sering ia bagi kadang membuat aku bertanya2 kenapa ia seolah tak mencoba menjawabnya sendiri. Dan itu akan dia akhiri dengan kalimat yang sama &#8220;Cinta itu kan nggak bisa dipaksain rien, aku mencobanya berkali-kali dan selalu gagal&#8221; tentu saja setelah sekian jam mengalirkan cerita tentang si A dan si B yang ternyata tak berhasil menumbuhkan cinta dalam hatinya.</p>
<p>Glekk&#8230;  aduhh, kalau diajak berdebat tentang makhluk bernama cinta aku rasa sebaiknya aku mengalah. Sesekali hanya tergoda untuk bertanya sebenarnya dimana letak kesalahannya, takdirkah atau memang kita.. manusia yang tak tahu bagaimana cara yang benar untuk menjalaninya, atau mungkin ini hanya tentang ego dan ketidak bersediaan kita untuk melihatnya dengan cara yang berbeda, wallahu a&#8217;lam.. aku tak berani mengira-ngira lagi.</p>
<p>Hanya doa yang selalu aku panjatkan semoga hari yang dinanti akan tiba untuknya, dimana sang tambatan hati mengandeng tangannya untuk berjalan bersama&#8230;. melewati sebuah pintu baru untuk menyempurnakan setengah agamanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2008/09/18/doa-untuk-sahabatku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masa lalu, sampai kapan ia mengikuti&#8230;</title>
		<link>http://rienayesha.com/2008/09/18/masa-lalu-sampai-kapan-ia-mengikuti/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2008/09/18/masa-lalu-sampai-kapan-ia-mengikuti/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 22:52:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily life]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[ 
Beberapa menit yang lalu terdengar alunan suara Rick Price dengan If You Were My Baby nya. Dan degg, lagi-lagi ingatan kembali ke Jakarta. Ini bukan tentang kisah romantis dimasa lalu seperti isi lagu itu, bukan juga tentang sang sahabat yang dulu getol mencarikan lagu ini untukku, tapi tentang masa-masa indah yang terlewati ketika di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2008/12/909415967-f9ba73060e.jpg"><img style="border-top-width: 0px; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-right-width: 0px" height="328" alt="909415967_f9ba73060e" src="http://rienayesha.com/wp-content/uploads/2008/12/909415967-f9ba73060e-thumb.jpg" width="417" border="0" /></a> </p>
<p align="justify">Beberapa menit yang lalu terdengar alunan suara Rick Price dengan <em>If You Were My Baby</em> nya. Dan degg, lagi-lagi ingatan kembali ke Jakarta. Ini bukan tentang kisah romantis dimasa lalu seperti isi lagu itu, bukan juga tentang sang sahabat yang dulu getol mencarikan lagu ini untukku, tapi tentang masa-masa indah yang terlewati ketika di jakarta.. ditengah-tengah mereka yang selalu bersinergi denganku, tempat yang begitu bersahabat denganku dan atmosfer yang selalu menyejukkanku.</p>
<p> <span id="more-38"></span>
<p align="justify">Sebenarnya jakarta dan segala kenangannya tidaklah sempurna, sama seperti yang lain. Tapi&#8230; bagiku terasa sangat berbeda ketika aku mendapati diriku disini saat ini. Mungkin, memang aku yang kurang bersyukur dengan apa yang aku dapat, atau aku yang kurang berusaha mendapatkan apa yang kusebut sebagai kenyamanan, atau aku yang terlalu tinggi memasang target.</p>
<p align="justify">
<p align="justify">Setiap kali memandang sesuatu, maka secara spontan aku akan berkata <em>Dulu di jakarta bla bla bla</em> dan entahlah, meskipun akhirnya kadang terasa agak bodoh.. kata-kata itu seringkali tak bisa kubendung. Dan entahlah.. apakah orang-orang disekelilingku mampu membaca kebenaran bahwa sebenarnya itu bentuk kekecewaanku.     <br />Harusnya memang tak ada kecewa, toh sebenarnya yang telah kudapatkan jauh melebihi yang pantas buatku.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="center"><strong>Burung-burung berkicau di pepohonan pagi ini      <br />Entah sedang bercerita, bergosip, entah bernyanyi       <br />yang kutahu tiba-tiba aku begitu membenci kicauan itu       <br />yang kuingin saat ini adalah kebisuan sang waktu</strong></p>
<p style="text-align: center" align="center"><strong>Ketika tak bisa kutahan lagi amarahku&#8230;      <br />Kuusir mereka pergi dari jendelaku       <br />Tapi..       <br />Tiba-tiba kusadari.. <em>salah</em> itu mestinya juga ada padaku       <br />Burung-burung itu tak pantas menerima akibat galaunya hatiku       <br />Karena akulah yang mengharapkan kebisuan dalam alunan lagu</strong></p>
<p align="center"><strong>Mungkin juga&#8230;      <br />Ini semua karena aku yang salah memilih waktu&#8230; </strong></p>
<p align="center">&#160;</p>
<p style="text-align: center"><strong></strong></p>
<p style="text-align: center">
<p style="text-align: center">
<p>Aku tahu, harus berbenah lagi dan lagi&#8230; menata masa lalu di tempat yang semestinya, agar ia tak lagi mengikuti kemanapun aku pergi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2008/09/18/masa-lalu-sampai-kapan-ia-mengikuti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
