<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rienayesha&#039;s Raindrops &#38; Hi Heels &#187; Cerpen</title>
	<atom:link href="http://rienayesha.com/category/cerpen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rienayesha.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Dec 2009 06:42:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bintang Pentas</title>
		<link>http://rienayesha.com/2009/11/16/bintang-pentas/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2009/11/16/bintang-pentas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 08:35:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Bintang]]></category>
		<category><![CDATA[Orkes]]></category>
		<category><![CDATA[Pentas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[Saya&#8230;      Sang bintang pentas       Bekerja bila malam tiba       Malam kujadikan siang       Siang berlalu penuh mimpi
Dari pentas satu ke pentas yang lain       Aku nyanyikan suara hati….

Aku menyanyikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p align="center">Saya&#8230;      <br />Sang bintang pentas       <br />Bekerja bila malam tiba       <br />Malam kujadikan siang       <br />Siang berlalu penuh mimpi</p>
<p align="center">Dari pentas satu ke pentas yang lain       <br />Aku nyanyikan suara hati….</p>
</blockquote>
<p align="justify">Aku menyanyikan lagu yang sama, entah untuk keberapa ratus kalinya.. Masih juga diiringi orkes melayu pimpinan Mas Jarwo, orkes melayu yang sama juga. Apakah salah kalau akhirnya aku benar-benar merasa bosan. Ya.. meskipun pada awalnya lagu ini adalah lagu yang paling aku sukai. Tapi Mas Jarwo bilang banyak penonton yang meminta aku tampil dengan lagu itu, katanya suaraku sangat mirip dengan si empunya lagu. Pujian yang tadinya sempat membuatku begitu tersanjung.</p>
<p> <span id="more-213"></span>
<p align="justify">Lagu ini memang dulunya seperti curahan hatiku, penyanyi kampung yang hidup dari pentas terbuka dan panggung yang tak pernah sama. Penyanyi kampung, begitu orang-orang terbiasa menyebut profesiku . Sebutan yang aku terima dengan senang hati karena memang aku belum pernah tampil di <em>tivi</em> atau menyanyi di depan ribuan penonton seperti mereka yang disebut dan menyebut dirinya sebagai &quot;artis&quot;, yang katanya dibayar dengan jumlah uang yang bisa dipakai untuk membuat pesta meriah untuk orang sekelurahan. Aku cuma berpindah dari kampung satu ke kampung lain, hajatan satu ke hajatan lain dengan bayaran yang tak tentu.</p>
<p align="justify">Aku, seorang gadis yang bekerja sebagai <em>greeter</em> di sebuah restoran&#160; di siang hari dan&#160; kemudian menjelma menjadi seorang penyanyi di malam harinya. Bukan mauku.. tapi gaji tujuh ratus ribu sebulan dikurangi dengan kewajiban membayar kost dan makan tak pernah cukup dipakai untuk mengurangi beban ibuku di kampung, membantu mewujudkan cita-cita adik lelakiku meminang istri Pak Kamituwo.&#160; Lewat menyanyi inilah keuanganku bisa terbantu, bermodal baju pinjaman Mbak Yuli yang memang cuma itu-itu saja, aku bisa menabung untuk ibu dan adikku.</p>
<p align="justify">Aku hanya tidak ingin pengalaman dan nasibku terulang pada adik. Dulu Mas Hermawan dilarang menikahiku karena keluargaku tidak mampu menyediakan sejumlah uang untuk pesta pernikahan kami bahkan setelah &quot;dibantu&quot; dengan jumlah yang cukup besar dari pihak Mas Hermawan. Entahlah apa memang itu hanya sebuah rekayasa agar pernikahan kami tak pernah terlaksana, atau memang benar keluargaku sungguh tak pantas karena ketidakmampuannya menyelenggarakan pesta yang ‘pantes’ untuk mengimbangi acara mas hermawan yang memang anak seorang lurah. Peristiwa itu sungguh menyakitkan untukku meskipun aku sadar bahwa aku cuma seorang Ranti, anak piatu dari seorang buruh tani miskin. Rasa sakit itulah yang akhirnya membawa langkahku sampai di kota ini. </p>
<p align="justify">Malam ini rasanya benar-benar mengesalkan, penyanyi baru bernama Ratna yang matanya kadang menjelma seperti mata ular itu mulai berulah lagi. Kemarin dia tidak menyampaikan pesen mas Jarwo yang akhirnya mengira aku malas latihan. Dia juga pernah berbohong dengan mengatakan pada mas Jarwo bahwa aku tak perlu jemputan sehingga aku terlambat datang ke pentas. Beberapa minggu yang lalu, dia juga menyebarkan isu bahwa aku akan bergabung ke grup orkes lain hanya karena aku beberapa kali terlihat bersama salah seorang penyanyi mereka yang mulai dekat denganku sejak ketidaksengajaanku bertemu dengannya di rumah mbak yuli. Padahal tidak… sungguh aku tak ingin meninggalkan mas Jarwo dan grup-nya. Mas Jarwo-lah yang sudah mengalirkan rejeki yang tak sedikit, melatihku, mengajariku dan sekaligus menjagaku. Malam ini dia membuat aku hampir tak bisa tampil karena bajuku basah karena air yang katanya ‘nda sengaja’ ia tumpahkan.</p>
<p align="justify">Inilah duniaku, dunia kecil yang tak kalah keras dengan dunia malam diluar sana. Demi beberapa lembar lima puluh ribuan banyak yang bersedia melakukan segala hal. Mulai dari menciptakan goyangan yang aneh-aneh, mencari pengasihan ke dukun, melontarkan fitnah atau bahkan guna-guna pada teman sendiri, dan banyak lagi hal gila lain yang jauh dari nalarku. Bagi sebagian dari penghuni dunia kecil ini, spapun akan dilakukan demi sebuah kesempatan manggung. Ya.. kesempatan yang kadang juga berarti ajang ‘menggelar dagangan’ begitu istilah sebagian teman-temanku. Disebut ‘menggelar dagangan’ karena tidak sedikit yang juga berjualan tubuh sambil menyanyi. Aku sendiri, bukan sekali atau dua kali aku menerima tawaran semacam itu.</p>
<p align="justify">Duh gusti… tak pernah putus aku berdoa semoga cita-citaku untuk membahagiakan orang-orang yang kusayangi tak akan membawaku kepada para pencari kepuasan yang menawarkan lebih banyak lembar uang itu. Semoga keinginanku tetap berada disini tak akan membawaku ke dukun, tak membuatkau perlu menjegal teman-temanku sendiri. Karena aku hanya ingin menjadi penyanyi kampung yang sederhana, bintang pentas kecil yang bisa membahagiakan keluarganya.. itu saja…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2009/11/16/bintang-pentas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lelaki bisu dan perempuan sepi</title>
		<link>http://rienayesha.com/2009/03/19/lelaki-bisu-dan-perempuan-sepi/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2009/03/19/lelaki-bisu-dan-perempuan-sepi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2009 08:15:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/2009/03/19/lelaki-bisu-dan-perempuan-sepi/</guid>
		<description><![CDATA[
&#8211;Perempuan Sepi&#8211;
Memuakkan, membayangkan bahwa esok aku tak bisa menemuimu lagi. Bukan sayang.. bukan menyedihkan, tapi memuakkan. Bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun kita bersama akhirnya kita harus berpisah dengan cara yang jauh dari sekedar menyakitkan, cara yang amat sangat tidak pantas.

Aku tak bisa menerima ini, tapi segenap suaraku sudah kuteriakkan, segenap energiku sudah kukeluarkan, berbulan-bulan sayang… tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong></strong></p>
<p align="justify"><strong>&#8211;Perempuan Sepi&#8211;</strong></p>
<p align="justify">Memuakkan, membayangkan bahwa esok aku tak bisa menemuimu lagi. Bukan sayang.. bukan menyedihkan, tapi memuakkan. Bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun kita bersama akhirnya kita harus berpisah dengan cara yang jauh dari sekedar menyakitkan, cara yang amat sangat tidak pantas.</p>
<p><span id="more-216"></span></p>
<p align="justify">Aku tak bisa menerima ini, tapi segenap suaraku sudah kuteriakkan, segenap energiku sudah kukeluarkan, berbulan-bulan sayang… tapi tetap saja semuanya dikalahkan oleh sebuah coretan dengan tinta murahan itu. Tinta yang dibeli dengan kelicikan para penguasa. Kadang aku bertanya tak bisakah mereka membelinya dengan cara lain selain penghancuran seperti yang kita hadapi sekarang.</p>
<p align="justify">Bicaralah sayang… sekali saja, jika memang senja ini adalah terakhir kali kita bersama. Ingin sekali aku mendengar suaramu, sekali saja… bukankah hampir setiap hari aku datang padamu dengan banyak cerita yang mungkin bisa kujadikan puluhan novel baru jika kutuangkan diatas kertas. Lelakiku sayang, betapa setianya dirimu menemaniku…. mendengarkan semua keluh kesah dari sedih dan bahagiaku… tentang lalu lintas yang menghabiskan waktuku tiap hari, tentang udara yang membuatku terbatuk-batuk, tentang limpahan air yang menggenangi setiap sudut kota ini, tentang musim yang tak juga kunjung berganti, tentang anak anjing kecil milik tetanggaku yang menyebalkan, tentang novel-novel baruku, tentang buku-buku bacaan lusuh hasil perburuanku di pasar loak, ahh.. coba ingatlah, ternyata begitu banyak yang sudah aku bagi denganmu sayang…</p>
<p align="justify">Dan lihatlah betapa aku tak bisa menyelamatkanmu, menyelamatkan kita dari perpisahan ini, betapa bersalahnya aku…</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong>&#8211;Lelaki bisu&#8211;</strong></p>
<p align="justify">Perempuanku terkasih, aku sedih.. tahukan kau?? esok aku tak akan bisa menemanimu lagi. Tahukah kau betapa bahagianya diriku ketika setiap senja kau datang dengan semua cerita-ceritamu. Ingin aku membagi cerita-cerita serupa juga atau sekedar berkomentar tentang jalanan yang penuh amarah, tentang udara yang kotor, tentang banjir yang meluas, tentang musim penghujan yang katamu tak kunjung berhenti, tentang anak anjing kecil yang jorok, tentang novel-novel karanganmu, tentang buku-buku bekas yang lusuh, dan tentu saja tentang senja-senja kita.. Tapi kau tahu aku bisu kasih…</p>
<p align="justify">Sesekali aku ingin sekali memelukmu dan meredakan segala gundah yang mengelilingimu, membuat udara di sekitarmu begitu menyesakkan untuk kau hirup. Tapi aku tak pernah bisa… yang ku mampu hanya meminjamkan lenganku yang katamu selalu dingin, menyediakan bahuku yang katamu terlalu keras, membiarkanmu bersandar sambil memandangi anak-anak kecil yang berebut bola, mengamati gelandangan yang mengais-ngais sampah, atau sekedar berandai-andai menjadi pedangang keliling yang kadang mencuri-curi kesempatan mencari beberapa lembar ribuan di sudut taman ini sebelum lelaki-lelaki berbadan tegap itu berpatroli.</p>
<p align="justify">Dan sore ini, sungguh… yang kuinginkan adalah memelukmu, mengatakan beberapa kata saja. Aku sungguh menyayangimu perempuanku terkasih… sungguh… dan aku akan rela menjadi kepingan-kepingan kecil atau bahkan debu. Tak akan ada penyesalan lagi.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong>&#8211;Pedagang keliling&#8211;</strong></p>
<p align="justify">Aku begitu heran dengan perempuan itu, sudah beberapa bulan Ia selalu duduk dibangku itu dengan mata berkaca-kaca bersama komputer jinjingnya. Aku tak tahu namanya, yang kutahu sudah bertahun-tahun di setiap senja Ia akan duduk di bangku panjang dibawah pohon di sudut taman itu. Sesekali aku melihatnya tertidur menyandar pada patung lelaki yang duduk diujung bangku. Lelaki yang tampan aku kira, tak serupa dengan badut yang juga duduk di bangku yang hampir sama di restoran cepat saji di belokan lampu merah didepan.</p>
<p align="justify">Aku tak tahu namanya dan apa yang sebenarnya ia lakukan disana, tapi sesekali ia tersenyum ketika kami kami cukup dekat untuk saling bertegur sapa. Tentu saja pedagang keliling seperti aku tak berani bertanya… Yang aku tahu perempuan itu adalah penghuni apartemen menjulang di seberang jalan. Tempat yang bahkan halamannya tak boleh aku lewati. Pernah aku sakit hati karena satpam-satpam yang siaga disana memaki-maki aku ketika aku berhenti sebentar memperbaiki roda gerobakku. Jauh lebih menyakitkan dibandingkan saat-saat aku harus berkejaran dengan tramtib yang suka berpatroli dan melarang pedagang-pedagang sepertiku mangkal di seluruh penjuru kota ini.</p>
<p align="justify">Kasihan perempuan itu tampaknya Ia begitu sedih, dan senja ini aku melihatnya menangis. Matanya memerah dan bengkak. Mungkin karena taman ini akan diratakan dengan tanah besok.. mau dibangun mall katanya. Ia menggandeng lengan dan meletakkan kepalanya di bahu patung itu. Kenapa tiba-tiba aku seolah melihat patung itu bersedih juga. Wajahnya tak setampan biasanya… seperti mau menangis.</p>
<p align="justify">Ahh, mungkin aku terlalu berlebihan. Tapi memang seharusnya taman yang tak banyak lagi di kota ini dipertahankan, terutama yang satu ini… tapi katanya penguasa-penguasa kota ini tampaknya haus uang. Begitu katanya.. toh meskipun banyak demo yang menolak alih fungsi taman ini, tetap saja akhirnya papan pengumuman itu berdiri tegak disitu…  dan perempuan itu, pasti ia akan sangat kehilangan…</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong>&#8211;Perempuan sepi&#8211;</strong></p>
<p align="justify">Sayang, hari ini aku akan keluar kota… aku sungguh tak ingin melihatmu di hantam martil-martil itu sampai kau menjadi debu. Melihat pohon-pohon besar yang biasanya menaungiku dicerabut dari tanah. Melihat rumput-rumput hijau itu dikuliti. Mungkin, setelah itu ketika aku kembali ke kota ini aku tak akan pernah menengok lagi ke sudut dimana taman kita ini pernah begitu asri dan menyediakanku tempat untuk melepaskan diri sejenak dari semua hiruk-pikuk kota metropolitan yang penuh polusi ini.</p>
<p align="justify">Sungguh bagiku kau tak hanya sekedar adonan semen yang menjadi penghias bangku taman, bagiku.. kau adalah lelakiku tersayang…</p>
<p align="justify">Maafkan aku.…  selamat tinggal…</p>
<p align="justify">
<p align="justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2009/03/19/lelaki-bisu-dan-perempuan-sepi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepotong DeJaVu Untuk Asti</title>
		<link>http://rienayesha.com/2009/02/11/elevasi-2/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2009/02/11/elevasi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 22:55:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[DeJeVu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/2009/02/11/elevasi-2/</guid>
		<description><![CDATA[Asti, bagaimana kabarmu disana?? tidak terasa lima tahun sudah aku tak lagi mendengar papaun tentangmu kecuali bahwa tanah yang kita pijak saat ini tidaklah sama. Sejujurnya, lima tahun juga sesekali aku dipaksa berusaha semampuku melupakanmu, berjuang memendam kerinduan yang mengalir dan mengarus di ruang-ruang jiwaku, mencoba melawan semua kegelisahan yang sering kali menyusup diam-diam diantara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Asti, bagaimana kabarmu disana?? tidak terasa lima tahun sudah aku tak lagi mendengar papaun tentangmu kecuali bahwa tanah yang kita pijak saat ini tidaklah sama. Sejujurnya, lima tahun juga sesekali aku dipaksa berusaha semampuku melupakanmu, berjuang memendam kerinduan yang mengalir dan mengarus di ruang-ruang jiwaku, mencoba melawan semua kegelisahan yang sering kali menyusup diam-diam diantara hariku As. Sering.. aku berhasil menepikanmu, tapi tetap saja tempat-tempat yang dulu kita singgahi, makanan-makanan yang dulu kita nikmati, jalan-jalan yan dulu kita susuri dan entah berapa banyak hal lagi yang dulu pernah kita bagi.. selalu saja datang dan menarikku kepada ingatan akanmu. </p>
<p> <span id="more-209"></span>
<p align="justify"></p>
<p align="justify">Memang benar apa kata aji As, kau berbeda dengan makhluk-makhluk indah lain yang pernah kami temui. Entahlah apakah kau pernah tahu, kami sering mengamatimu dari kejauhan.. ketika kau berlompatan di taman sambil sesekali membelai kelopak bunga aneka warna, ketika kau menikmati hembusan angin di balkonmu dengan mata terpejam, ketika kau menyapa semua orang yang kau temui dengan senyuman, ketika kau mempesona semua klien kita dengan matamu yang penuh keyakinan, juga ketika kau menari di tengah hujan. </p>
<p align="justify">Dulu.. aku, kamu dan aji seperti legenda ya As. Belum pernah ada yang bisa menyamai rekor kita untuk urusan proyek-proyek besar untuk perusahaan kita yang selalu berakhir dengan gemilang. Aku dengan segudang konsep dan ide, aji dengan kemampuannya mewujudkannya diatas kertas, dan kau dengan kemampuanmu meyakinkan orang lain yang luar biasa. Aku pernah bilang kan keberhasilan itu benar-benar berkah untukku. Ya…&#160; karena dengan bgitu aku berkesempatan mengunjungi banyak tempat, dan itu bersamamu. </p>
<p align="justify">Bersamamu As, momen-momen itu benar-benar seperti sebuah masa penuh keajaiban. Hidupku yang sudah lengkap menjadi lebih dari sekedar sempurna sejak kau hadir. Meskipun yang aku mampu hanya memandangimu dari kursi di seberangmu, sambil seolah-olah melihat adegan yang hanya kita temui di film-film. Konyol, tapi aku seperti melihat roh-ku yang melangkah keluar dari raga ini lalu menuju sisimu.. membelai rambutmu.. merasakan hangat pipimu.. dan masuk ke dalam matamu. Rasanya seperti potongan scene yang tak berhenti diputar berulang kali dan aku tak pernah bosan menontonnya. Aku tahu kau tahu….. dan seperti katamu pada akhir kebersamaan kita bahwa sebenarnya bukan aku sendiri yang mengalaminya, karena kau juga punya adegan sendiri disebrang sana.</p>
<p align="justify">Asti, melihat pancaran matamu seperti menemukan oase yang menjadi tempatku membasuh segala kegelisahan. Mata yang seolah selalu berbicara dan meyakinkanku bahwa tak ada apapun yang perlu aku risaukan. Mata yang menghentikan anganku yang awalnya sering kelelahan dalam pencariannya, memberi sebuah jawaban dari setiap pertanyaan yang meskipun samar… anehnya selalu meyakinkan dan menenangkan. Entahlah apa sebenarnya yang kau punya, tapi bersamamu membuatku tidak ngoyo meraih mimpi-mimpi setinggi langit yang memang jauh dari jangkauan, membuatku merasa cukup dan bahkan berlebih dengan yang kupunya denganmu.</p>
<p align="justify">Aku memuja caramu bercanda dan mengalihkan topik pembicaraan kita dari urusan hati yang tak pernah membuatku mengeryitkan kening. Kau juga selalu berhasil meredam gundah yang sesekali muncul mengganggu langkahku. Aku tahu ada rasa yang sama dari mata itu As, aku yakin sekali saat itu. Tapi tak pernah tidak… humormu [dan akhirnya dilengkapi dengan humorku juga] membawa skor kita ke 0-0 lagi.</p>
<p align="justify">Malam ini adalah malam yang sama dengan malam itu, malam terakhir dari perjalanan bisnis kita di bandung.&#160; Malam yang akhirnya&#160; juga menjadi malam terakhir aku melihatmu yang ternyata diam-diam pergi, mengundurkan diri dari perusahaan ketika esok harinya kita kembali ke Surabaya dan aku terbang untuk tugas di negeri tetangga sampai 2 minggu setelahnya. Malam ketika aji berpura-pura ingin sendiri karena ia ingin memberi kesempatan bagi kita untuk berdua saja. Ah, dia tahu kau akan pergi kan??? dulu aku sempat begitu marah dengan kalian karena tampaknya hanya aku yang tak tahu perihal kepindahanmu.</p>
<p align="justify">Kau begitu cantik dengan cocktail dress warna&#160; merah marun itu As, baju yang seolah dibuat memang hanya untukmu saja. Kesederhanaan yang kau sempurnakan dengan rambut yang kau biarkan tergerai tanpa hiasan apapun. Aku sempat terhenyak melihatmu ktika itu. Penampilan yang tak biasa untuk seorang asti.&#160; Ya malam itu… di restoran dengan city view luar biasa itu, akhirnya segalanya mewujud menjadi kata-kata juga. Ketika kau tak lagi mematahkan kataku dengan humormu, saat skor kita bergerak dari angka nol,&#160; saat kau membiarkan kita membahas tentang perasaan aneh ini. Masih kuingat jawabmu ketika kupertanyakan diammu,</p>
<p align="justify"><em>“Mas… cinta berhak memilih kan?! Cintaku datang dan memilih untuk tak merusak apapun mas, tidak juga dirimu… Aku percaya untuk membuat sebuah kesempurnaan, kita tak perlu mengorbankan kesempurnaan yang lain. Aku selalu berpikir perasaan yang kudapat adalah anugrah, bukan untuk menciptakan kesalahan-kesalahan baru karena sejatinya ia tidak salah… tapi cara kita menyikapinya-lah yang akhirnya menentukan dimana kita berdiri”</em></p>
<p align="justify"><em>“malam ini, maukah kau berdansa denganku??”</em> tanyamu akhirnya.</p>
<p align="justify">Tahukan kau betapa bahagianya aku&#160; malam itu. Genggaman tanganmu, pelukanmu, begitu menenangkan. Bukan gejolak ombak laut bergemuruh yang memenuhi dada dan kepalaku yang malam itu, tapi gelombang tenang sebuah permukaan danau yang menyelimuti jiwa dan ragaku. Hangat dan wangimu tak membuatku tenggelam, tapi justru membawaku ke dalam sebuah kesadaran bahwa cinta memang tak semata tentang memiliki. </p>
<p align="justify">Malam itu kau berikan sebuah kejutan untukku ketika kau melangkah sendiri ke panggung, berbisik sebentar kepada pemain piano yang sejurus kemudian membawakanmu sebuah gitar. Aku masih terheran-heran dengan adegan itu&#160; ketika suaramu terdengar di mic.</p>
<p align="justify"><em>“malam ini adalah malam istimewa untuk sahabat saya, Arya.. dan saya ingin mempersembahkan sebuah lagu untuknya. Ku yakin Cinta”</em></p>
<p align="justify">Lalu kaubiarkan suaramu mengalun bersama petikan jemarimu sendiri menyanyikan lagu indah itu yang kemudian disambut tepuk tangan seluruh tamu yang ada disana. Demi tuhan, setahun bersamamu tak pernah aku tahu bahwa kau bisa memainkan jemarimu diatas gitar dengan begitu lincahnya. </p>
<p align="justify">Penutup malam itupun begitu luar biasa. Kau biarkan aku menggenggam jemarimu ketika kita meninggalkan tempat itu. Di depan kamarmu kau berikan lagi tatapan dan senyuman itu. Tapi kali ini kulihat ada genangan bening disana. Betapa inginnya aku memelukmu As, dan aku tahu kau menginginkan yang sama. Tapi kau hanya bergerak membisikkan sesuatu. Aku masih merasakan hangat nafasmu ketika kau berbisik As,</p>
<p align="justify"><em>“Aku yakin cinta sejati punya cara misterius yang indah untuk kembali lagi mas, suatu hari nanti…”</em> </p>
<p align="justify">Senyummu lagi-lagi mengembang, sekali lagi… meyakinkanku sedetik sebelum kau menghilang di balik pintu. </p>
<p align="justify">Malam ini, setelah lima tahun belalu aku membuktikannya. Aku dan keluargaku memilih liburan di Bandung, di hotel yang sama dengan yang pernah kita tempati dulu. Dan disini di restoran yang sama juga, aku seolah mengalami deja vu. Aku sedang memandangi&#160; kerlip kota bandung ketika seorang gadis maju kepanggung. </p>
<p align="justify"><em>“malam ini adalah malam istimewa untuk sahabat saya, Arya..”</em></p>
<p align="justify">Aku terhenyak mendengar namaku disebut</p>
<p align="justify"><em>“Saya ingin mempersembahkan sebuah lagu untuknya, sebuah lagu dari D’Cinnamon”</em></p>
<p align="justify">ucapnya mantap sambil memandang seorang pemuda tampan yang terpisah 3 meja dariku. Bukan aku yang ia sebutkan tadi. Kulihat mata pemuda yang dipanggil arya itu berbinar terang, senyumnya melukiskan kebahagiaan tak terkira. Gadis itu memainkan jemarinya, menyanyikan lagu yang sama denganmu, bergaun hitam dengan rambut tergerai. Adegan itu membuat mataku menghangat, aku bisa melihat ekspresi yang sama dengan ekspresimu 5 tahun yang lalu di wajah gadis itu. Dan aku rasa ekspresiku ketika itu sama persis dengan pemuda itu. Mungkin namanya bukan Asti… tapi kini aku percaya sepenuhnya…</p>
<p align="justify">CINTA SEJATI SELALU PUNYA CARA MISTERIUS YANG INDAH UNTUK KEMBALI…</p>
<p align="justify">Tiba2 ketika aku sadar, seorang gadis kecil dengan baju marun sudah berdiri di sebelahku&#160; memandangiku dengan heran.. entah sudah berapa lama dia disana. Disodorkannya Handphone yang biasa menemaniku selama ini,</p>
<p align="justify">“<em>papa kenapa??? handphonenya berbunyi terus di kamar, jadi mama minta adek&#160; untuk mengantarkannya ke ayah”</em></p>
<p align="justify">Aku hanya menggeleng kepadanya dan tersenyum. Gadis yang sudah menginjak usia SD itu membawaku ke alam nyata As, ahh… anakku sayang perwujudan cinta sejatiku yang lain.</p>
<p align="justify">Semoga kau bahagia dimanapun kau berada Asti…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2009/02/11/elevasi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepiring Nasi Mentega</title>
		<link>http://rienayesha.com/2009/01/19/sepiring-nasi-mentega/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2009/01/19/sepiring-nasi-mentega/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jan 2009 06:25:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.com/2009/01/19/sepiring-nasi-mentega/</guid>
		<description><![CDATA[Aia tergugu di depan layar komputer-nya, menangis karena luapan amarah tak terkira yang sudah&#160; dibendungnya selama 12 jam terakhir. Sudah berkali2 Ia mencoba menemukan kejanggalan, keanehan,dan kekurangan di deretan kode2 itu tapi tetap saja Ia tak berhasil mencari tahu apa yang salah. Matanya perih karena terus terpaku pada layar resolusi besar di hadapannya, sementara pergelangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Aia tergugu di depan layar komputer-nya, menangis karena luapan amarah tak terkira yang sudah&#160; dibendungnya selama 12 jam terakhir. Sudah berkali2 Ia mencoba menemukan kejanggalan, keanehan,dan kekurangan di deretan kode2 itu tapi tetap saja Ia tak berhasil mencari tahu apa yang salah. Matanya perih karena terus terpaku pada layar resolusi besar di hadapannya, sementara pergelangan tangannya nyeri karena terlalu banyak mengoperasikan tetikus cantik miliknya. Untuk beberapa saat tubuhnya bergetar hebat, tangannya terangkat dengan cepat dan..</p>
<p> <span id="more-204"></span>
<p align="justify"><em>Prakkkk</em></p>
<p align="justify">tetikus mungil menghantam dinginnya marmer di ruang kerja minimalis itu,&#160; hanya dalam hitungan detik&#160; dan bentuk aslinya tak lagi terlihat, berganti menjadi entah berapa puluh kepingan2 kecil. Ia yang beusaha berdiri juga tak kuasa menahan berat tubuhnya hingga akhirnya terjatuh di antara kepingan2 kecil itu.</p>
<p align="justify">Jauh di lubuk hatinya Ia tahu benar, kode2 itu bukan akar masalah yang membuat amarahnya meledak. Mereka hanyalah pilihannya untuk lari dari kegalauan yang menyelimuti hatinya hari itu. Hari ulang tahunnya yang ke 25, ulang tahun pertamanya tanpa rayyan&#8230; </p>
<p align="justify">Aia memang masih sangat muda untuk menanggung kegalauan itu. Ia baru saja mengecap manisnya pernikahan bersama kekasih yang setia disisinya selama 7 tahun terakhir. 4,5 tahun rayyan setia menunggunya siap melangkah ke dalam ikatan pernikahan dan hanya beberapa hari sebelum genap 3 tahun pernikahan mereka, rayyan dipanggil yang Maha Kuasa karena kanker otak yang terlambat disadari oleh keduanya. </p>
<p align="justify">Cinta selalu menyala dengan dua sisi sekaligus, membangun dan terkadang juga menghancurkan. Dan itulah yang di hadapi Aia sekarang, cintanya pada rayyan membuatnya bgitu rapuh. Meskipun sudah berbulan2 tapi Ia tetap saja belum bisa melepaskan bayangan rayyan dari hidupnya. Ia yang dulu penuh dengan keceriaan berubah 180 derajat menjadi seseorang yang tak pernah lagi tersenyum. Ia yang dulu bgitu senang bertemu dengan orang2 baru sekarang lebih memilih menutup diri dan menghindari kesempatan bertemu dengan siapapun. </p>
<p align="justify">Dini hari tadi Ia terbangun, penuh kesedihan karena sebuah kesadaran menelusup ke ruang bathinnya tepat ketika dia membuka mata.. Ingatannya melayang, di hari yang sama di tahun2 sebelumnya selalu ada pelukan hangat atau setidaknya telpon rayyan yang membisikkan ucapan selamat ulangtahun dengan suara yang membahagiakannya. Tapi di kegelapan pagi tadi, tak ada keduanya… hanya lamat2 didengarnya gema suara rayyan yang Ia tahu pasti hanyalah sepenggal kenangan yang tertinggal dalam memory otaknya, kerinduannya yang mewujud menjadi suara sang kekasih.</p>
<p align="justify">Sadar bahwa harinya akan penuh duka dilarikannya semua konsentrasi dan energinya ke baris2 kode untuk proyek terbarunya meskipun sebenarnya Ia tak punya keharusan untuk menyelesaikannya hari ini. Barisan kode, yang ternyata.. setelah 12 jam disusun tetap tak juga kunjung bekerja. Padahal itu hanyalah program sederhana serupa puluhan program yang pernah Ia buat sebelumnya.&#160; Konsentrasinya tetap kacau dan meskipun telah Ia coba, usahanya selalu berakhir kebuntuan.</p>
<p align="justify">Pelan2 Ia bangun dan beranjak ke ruang tengah, dibiarkannya rasa nyeri yang menyusup di beberapa bagian tubuhnya karena benturan dengan lantai dan serpihan2 tetikustadi. Ia menatap kosong meja yang dulu menjadi saksi hari2 bahagianya. Di meja itu hampir setiap hari tersaji masakan rayyan, sang penguasa dapur yang memang tak lain adalah seorang manager muda di sebuah restoran ternama di kota tempat mereka tinggal yang mempunyai hobi memasak. Masakan favorit Ia yang selalu tersaji di hari ulang tahunnya tiba2 membayang, indra penciumannya seolah dipenuhi aroma masakan itu membuatnya limbung. Kepalanya terasa berputar dan bayangan nasi hangat berwarna kuning pucat yang masih mengepulkan uap di meja seolah melayang2 diatasnya. Untunglah kali ini Ia bisa menguasai diri, ditariknya pelan tubuh lemahnya ke atas satu dari 6 kursi rotan yang mengelilingi meja makan.</p>
<p align="justify">Ia mencoba memejamkan matanya, menghadirkan lagi bayangan nasi kuning puccat yang tadi sempat memenuhi kepalanya. Masakan itu adalah ciptaan rayyan sendiri yang dulu selalu disebut2nya sebagai NASI MENTEGA. Diingatnya kembali saat2 ketika pertama kali Ia mencicipi nasi itu, Ia juga masih ingat betul ketika setelah itu.. hampir setengah hari ia berdebat tentang nama masakan itu dengan rayyan. Ia merasa bahwa NASI KEJU lebih sesuai mengingat unsur keju yang begitu kuat dan lagi, menurutnya aneh jika disebut nasi mentega karena Ia tahu dari rayyan bahwa sebenarnya tak sedikitpun ada mentega yang dipakai dalam proses pembuatannya. Tapi rayyan tak bergeming, menurutnya tetap saja Ia yang berhak menentukan karena dialah pemilik resepnya dan akhirnya Ia mengalah.&#160; Pertengkaran yang manis karena pada akhirnya sepanjang sore mereka berdua justru tak berhenti tertawa bersama menertawakan kekonyolan perdebatan mereka. Ia memang tak terlalu pintar memasak, tapi rayyan tak pernah mempermasalahkan itu. Setiap orang punya ketertarikan dan bakat sendiri, tak bisa di paksakan apalagi diberi label bahwa&#160; yang ini harus menguasai ini dan yang itu harus menguasai sisanya. Ia yang lebih banyak bergaul dengan komputer daripada alat2 dapur adalah sebuah kewajaran bagi rayyan.&#160; </p>
<p align="justify">Bayangan rayyan yang asyik di dapur membuat Ia tergerak menarik tubuhnya kesana, di tatapnya setiap sudut dapur yang menyimpan entah berapa ribu kenangan dalam bathinnya. Rak2 semi transparan itu menghadirkan kembali berset2 piring, gelas, pisau, panci, dan segala macam alat masak memasak&#160; beraneka ukuran yang tak pernah lagi Ia sentuh sejak rayyan tiada. Kerapian dapur ini menegaskan bahwa pemiliknya memang tak ada lagi disana. Ia tahu benar bahwa rayyan tak akan pernah membiarkan satupun sudut dapurnya tak rapi, semua hal harus tepat berada di tempat yang seharusnya. Karena itu Ia agak heran ketika melihat di salah satu rak diujung kanan samar2 tampak sesuatu yang tak seharusnya disana. Sebuah bungkusan coklat atau entah apa. Pelan2 dibukanya rak itu, ternyata yang dilihatnya tadi adalah sebuah plastik coklat berisi sebuah kotak berukuran 30&#215;30x8cm. Kotak itu agak berat, Ia mulai menebak-nebak tentang apa isinya. Di dalah plastik itu juga masih ada sebuah nota pengiriman bertanggal 10 november 2007, 3 hari sebelum rayyan meninggal dan hanya seminggu sebelum ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga. Barang itu milik rayyan, tapi ini terasa sungguh aneh untuk Ia karena rayyan tak pernah begitu sembrono menyimpan barang2nya.</p>
<p align="justify">Dengan hati2 dibukanya kardus coklat itu, didalamnya Ia menemukan sbeuah piring persegi yang dibungkus dengan sterofoam transparan, sebuah penyangga dari kayu dan sebuah kartu dalam amplop coklat. </p>
<p align="justify"><em>untuk Ia sayang…</em></p>
<p align="justify">namanya tertulis disana, jantungnya semakin berdebar ketika Ia mulai membuka kartu itu. Airmatanya mengalir deras&#160; ketika Ia mulai membaca kalimat demi kalimat yang tertulis diatas kartu itu, tapi kali ini.. tangisnya adalah tangis bahagia..</p>
<p align="center">&#8212;&#8212;4 bulan kemudian&#8212;&#8211;</p>
<p align="justify">Aia memandangi meja2 penuh dengan pengunjung yang sedang bersantap siang dari foyer tempatnya berdiri, aroma nasi mentega memenuhi rumah dua lantai&#160; yang disulap menjadi sebuah restoran Eropa oleh Ia 4 bulan lalu itu. Ada kebahagiaan tak terkatakan di binar matanya.&#160; Dari tempat itulah setiap hari Ia beraktifitas selama 4 bulan terakhir, mengawasi restorannya&#160; sendiri sekaligus meneruskan kecintaannya pada dunia komputer. Meskipun terhitung baru tapi restoran yang menyediakan berbagai menu eropa itu ternyata menyedot banyak sekali pengunjung, dan menu andalannya, nasi mentega. </p>
<p align="justify">Matanya beralih ke meja panjang di sebelah kanannya, sebuah piring pajangan sederhana tampak disana. Diatas permukaan piring itu tertulis resep nasi mentega favorit Ia yang dibuat dengan teknik grafir dan dihiasi gambar setangkai bunga mawar kuning. Disebelahnya sebuah kartu di simpan dallam figura kaca 2 sisi dengan desain minimalis, kartu yang yang membuat Ia mendapatkan lagi kebahagiaan yang hilang dari hidupnya, kartu yang membangunkannya dari keterpurukannya karena rasa kehilangan, kartu yang Ia temukan sore itu bersama piring pajangan yang sedianya disiapkan rayyan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga. Kalimat2 yang tertulis disana tak hanya indah dipandang mata, tapi juga energi tak terkira yang setiap hari menguatkan Ia.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="center"><em>Ia sayang,</em></p>
<p align="center"><em>jika suatu hari aku tak bisa menghidangkan sepiring nasi mentega untukmu di meja, percayalah bahwa itu bukan karena aku tak mau lagi melakukannya. S</em><em>ungguh, jika Tuhan mengijinkan… aku ingin selalu melakukannya untukmu sepanjang hidupku demi membuatmu tersenyum.</em></p>
<p align="center"><em>Ingatlah juga bahwa di setiap piring yang tersaji di hadapanmu, selalu ada cintaku yang akan menemanimu, selalu… </em></p>
<p align="center"><em>&#8212;Jadi.. aku hadiahkan untukmu resep rahasiaku ini, kau harus mulai belajar membuatnya sendiri dari sekarang, LOL&#8212;-</em></p>
<p align="center"><em>Chef pujaanmu, Rayyan</em></p>
<p align="center">&#160;</p>
<p align="center"><em></em></p>
<p align="justify">Ahh.. bukankah cinta itu penuh keajaiban, sore itu.. di hari ulang tahunnya yang ke25 Ia menemukan kado terindahnya, sebuah kesempatan untuk hidup lagi bersama sebuah harapan baru, keyakinan baru dalam sebuah kotak coklat berisi piring pajangan&#160; dan kartu sederhana, ya…. keyakinan bahwa memang ada cinta yang tak pernah habis untuknya… </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2009/01/19/sepiring-nasi-mentega/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dan saatnya telah tiba,sayang&#8230; [part IV-selesai]</title>
		<link>http://rienayesha.com/2008/11/18/dan-saatnya-telah-tibasayang-part-iv/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2008/11/18/dan-saatnya-telah-tibasayang-part-iv/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 15:49:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.wordpress.com/2008/11/18/dan-saatnya-telah-tibasayang-part-iv/</guid>
		<description><![CDATA[Ku injak gas perlahan, aku coba menikmati perjalanan pulangku sore ini. Aku beruntung karena jalur pulang dan pergi ngantor melawan arus kemacetan bandung. Sebenarnya aku khawatir, sungguh aku masih bimbang dengan pilihan untuk mengirimkan kado ini atau menyimpannya. 

Kebelokkan mobilku perusahaan ekspedisi langgananku. Aku mengambil tempat parkir yang paling ujung, sore ini hanya ada 3 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Ku injak gas perlahan, aku coba menikmati perjalanan pulangku sore ini. Aku beruntung karena jalur pulang dan pergi ngantor melawan arus kemacetan bandung. Sebenarnya aku khawatir, sungguh aku masih bimbang dengan pilihan untuk mengirimkan kado ini atau menyimpannya. </p>
<p><span id="more-96"></span>
<p align="justify">Kebelokkan mobilku perusahaan ekspedisi langgananku. Aku mengambil tempat parkir yang paling ujung, sore ini hanya ada 3 mobil yang parkir disana. Kuangkat hand rem dan terdiam, kupandangi lagi kotak coklat yang kuletakkan di jok belakang mobil dan kuraih ke pangkuanku. Kubuka dan kuambil sebuah amplop berwarna coklat dan stiker kecil, tertulis ALDRIAN YUANDA dengan sebuah alamat lengkap di Surabaya.</p>
<p align="justify">Kukeluarkan sebuah kartu dan kubaca beberapa baris ucapan selamat ulang tahun disana, dan aku menangis lagi. Rasanya air mata ini begitu akrab di pipiku, terutama setelah dua pertemuan terakhir kami. Ketika itu dia bilang ia akan datang 2 hari setelah ulang tahunnya untuk merayakannya bersamaku, aku rasa… tak akan berbeda dengan tahun2 yang lalu, sebuah makan siang .</p>
<p align="justify">Akhirnya, kelelahan melandaku jua… aku selalu dilanda tekanan bathin yang menyiksa ketika mengingatnya. Seringkali di tengah malam aku terbangun dengan kepala yang pusing luar biasa, sungguh.. rasanya begitu berat memikirkan dia dan hubungan kami yang serba tak pasti ini.</p>
<p align="justify">Sehari sebelum ulang tahunnya, hari ini.. adalah klimaks dari semua rasa pedihku. Aku begitu ingin memilikinya, kubayangkan aku sedang membukakan pintu rumah kami dan menyiapkan sebuah pesta kecil untuknya, pesta yang hanya untuk kami berdua dengan lilin di setiap sudut rumah dan hidangan istimewa yang kumasak sendiri dengan tanganku. Bayangan yang membuatku kehilangan nafasku, setiap tahun… menjelang ulang tahunnya. Aku merasa seperti orang gila ketika menginginkannya dan aku rasa tahun ini aku sudah tak tahan lagi.</p>
<p align="justify">Kuusap airmataku, kubuka pintu mobil. Sambil membawa kartu, amplop dan stiker itu di tanganku kulangkahkan kakiku ke sudut sebelah kanan area parkir ini. Hanya beberapa meter dari mobilku, sebuah tempat sampah.. pelan kumasukkan ketiganya kesana. Dadaku semakin sesak dan airmataku mengalir semakin deras bersama lepasnya ketiga benda itu dari tanganku, kubiarkan diriku menangis kencang ketika sudah berada di dalam mobil lagi. Entah untuk berapa lama,</p>
<p align="justify">Begitu aku merasa sudah bisa mengendalikan diriku akhirnya kuarahkan mobilku memutar balik lagi mengikuti kemacetan, kali ini ke sebuah klinik besar di utara Bandung. Aku rasa aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang.</p>
<p align="center">___…___</p>
<p align="justify">Kupandangi lagi wajahku di cermin kecil yang selalu menjadi bagian dari isi tasku. Mata ini&nbsp; sembab, tapi untunglah dengan sedikit polesan concealer ,blush on , dan lipstik orange aku bisa meyakinkan diriku bahwa wajahku tak lagi menggambarkan apa yang baru saja terjadi&nbsp; beberapa waktu yang lalu. Kucoba lagi mengulas sebuah senyum sebelum membuka pintu mobil dan melangkahkan kakiku ke arah loby klinik itu dengan membawa kotak coklat berisi sweater tadi.</p>
<p align="justify">Wajah di balik meja resepsionist itu, seperti biasa menawrkan senyum ramah ketika ku dekati.</p>
<p align="justify"><em>“selamat sore ibu aya, dokter sudah tahu kalu ibu datang??”</em></p>
<p align="justify"><em>“belum suster, tadi tidak berencana kesini” </em>jawabku</p>
<p align="justify"><em>“ohh.. tinggal satu pasien lagi ibu, mau saya beritahukan kalau ibu datang??”</em></p>
<p align="justify">kugelengkan kepalaku..</p>
<p align="justify"><em>“aku tunggu aja suster.. makasih ya..”</em></p>
<p align="justify">kususuri koridor yang menghubungkan loby dengan beberapa ruangan2 kecil di sebelah kiri. Tampaknya sore ini klinik ini sama lengangnya dengan perusahaan ekspedisi yang tadi kudatangi. Kuambil tempat di sofa biru tepat di depan&nbsp; ruang dengan papan nama yang menunjukkan siapa pemiliknya, dr.RADITYA Sp.S dokter spesialis saraf yang cukup terkenal di bandung.</p>
<p align="justify">kucoba untuk merasa senyaman mungkin sambil menonton tivi di seberang sofa. Sampai akhirnya seorang ibu2 berusia 50an tahun dan seorang gadis yang masih menggunakan seragam SMP keluar dari ruangan itu, tampaknya anaknya. Dibelakang mereka muncul sebuah wajah yang ingin kutemui sore ini, wajah tampan dengan senyum khas dan tubuh atletis berbalut jas putih. Dia sempat mengeryitkan dahinya sebelum akhirnya menyongsongku.</p>
<p align="justify"><em>“hai.. kok nda telpon dulu kalo mau dateng”</em></p>
<p align="justify"><em>“mata cekung, kecapekan ya??? “</em></p>
<p align="justify">aku hanya memberikan senyuman sebagai jawaban.</p>
<p align="justify"><em>“tunggu bentar ya, beres2 peralatan di dalem trus kita keluar”</em></p>
<p align="justify"><em>“ehhmm… qta semobil aja ya ntar yang satu biar disini aja” </em>tawarnya</p>
<p align="justify">buru2 kutahan langkahnya</p>
<p align="justify"><em>“tunggu, ini ada sesuatu”</em></p>
<p align="justify">kusodorkan kotak coklat tadi kepadanya… lagi2 wajah seriusnya muncul, dikeryitkan dahinya, dilemparkannya sebuah senyuman lalu menghilang lagi di balik pintu ruang praktiknya.</p>
<p align="justify">Kuputuskan sweater itu tak akan kutitipkan ke perusahaan ekspedisi manapun, dan aku rasa.. inilah saat yang tepat untuk mengakhiri semua yang sudah kujalani selama 3 tahun terakhir ini.</p>
<p align="justify">Kukeluarkan handphone ku dan mulai menekan beberapa tombol. Kubuka pesan masuk bertanggal kemarin..</p>
<p align="justify">“<em>maaf.. kedatanganku harus diundur sehari lebih lambat sayang, aku harus menghadiri pentas seni si kecil di sekolahnya. Tq… I luv u”</em></p>
<p align="justify">kutekan tombol <strong>reply</strong> dan kuketikkan sebuah pesan sebagai balasan,</p>
<p align="justify"><em>“mas, kau tak perlu datang untuk merayakan ulang tahunmu tahun ini, tidak juga untuk tahun2 berikutnya.. ”</em></p>
<p align="justify">kutekan tombol send, memandangi layar yang menampilkan sebuah nama dan aku tersenyum tepat ketika disaat yang sama dokter tampan itu keluar dari pintu yang sama dengan dimana dia muncul dan kemudian menghilang lagi tadi, kali ini bukan lagi dengan jas putih khas dokter.. tapi dengan sweater coklat kopi yang tadi ada di dalam kotak coklat yang kuserahkan padanya.</p>
<p align="justify"><em>“terimakasih,sweaternya bagus… “</em></p>
<p align="justify">kuredam rasa yang berkecamuk di kepalaku, dan kulihat layar handphoneku, ALDRIAN dan sederet nomor yang sudah sangat aku hafal, lalu kutekan tombol “OK” sambil beranjak dari sofa, menerima uluran tangan dokter tampan itu, dokter raditya, suami yang menikahiku 6 tahun yang lalu…</p>
<p align="justify"><em></em></p>
<p align="justify"><em><span style="font-size:medium;">Dan saatnya telah tiba sayang&#8230; untuk melepas semuanya dan belajar menerima, bahwa hidup tak selalu seperti yang aku inginkan.. Saatnya pulang&#8230;.</span></em></p>
<p align="justify"><em></em></p>
<p align="justify"><span style="font-size:x-small;"><a href="http://rienayesha.wordpress.com/2008/11/16/dan-saatnya-telah-tibasayang-part-iii/#comment-15"><em>Cerita sebelumnya</em></a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2008/11/18/dan-saatnya-telah-tibasayang-part-iv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dan saatnya telah tiba,sayang&#8230; [part III]</title>
		<link>http://rienayesha.com/2008/11/16/dan-saatnya-telah-tibasayang-part-iii/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2008/11/16/dan-saatnya-telah-tibasayang-part-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 15:02:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.wordpress.com/2008/11/16/dan-saatnya-telah-tibasayang-part-iii/</guid>
		<description><![CDATA[“hoiii…”
lagi2 dana membuatku terkaget2, entah darimana datangnya tahu2 dia sudah berada disebelahkau lagi.
“kok ngelamun terus sih non, ampun deh.. lihat ney, aku aja dah bawa 2 kantong, ehh.. kamu masih asyik aja ngelus2 sweater itu”
“sorry.. bingung milihnya ney”
“itu yang lagi kamu elus2 bagus kok, coklatnya lucu.. buat pak dokter ya???&#8221;
aku hanya tersenyum, getir.. seandainya saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><em>“hoiii…”</em></p>
<p align="justify">lagi2 dana membuatku terkaget2, entah darimana datangnya tahu2 dia sudah berada disebelahkau lagi.</p>
<p align="justify"><em>“kok ngelamun terus sih non, ampun deh.. lihat ney, aku aja dah bawa 2 kantong, ehh.. kamu masih asyik aja ngelus2 sweater itu”</em></p>
<p align="justify"><em>“sorry.. bingung milihnya ney”</em></p>
<p align="justify"><em>“itu yang lagi kamu elus2 bagus kok, coklatnya lucu.. buat pak dokter ya???&#8221;</em></p>
<p align="justify">aku hanya tersenyum, getir.. seandainya saja dana tahu…</p>
<p><span id="more-92"></span></p>
<p align="justify">
<p align="justify">kali ini aku beruntung sekali karena pembuat sweater yang kubeli sudah menyediakan kotak untuk menyimpannya, dan warnanya persis seperti yang kuinginkan.. coklat. Merk-nya tertulis dengan tinta emas di pojok atas, perfect. Hanya tinggal menambahkan sebuah kartu ucapan saja.</p>
<p align="justify">Kuucapkan terimakasih kepada kassa cantik yang sangat ramah kepadaku, terlihat masih muda, sekitar 20 tahun sepertinya. Jauh didasar hatiku, aku selalu berharap dulu aku bertemu dengan mas ketika aku masih seusianya. Masih punya cukup waktu untuk merancang semuanya. Aku sering berhayal tentang sebuah rumah kecil di kaki bukit dengan seorang lelaki bermata coklat disampingku tiap pagi, dia yang membangunkanku dengan secangkir kopi.</p>
<p align="justify">“Tapi bukankah ada garis nasib yang memang berada diluar jangkauan kita.. “ itulah kalimat penutup hayalanku.</p>
<p align="center">____….____</p>
<p align="justify">Makan siang kali ini aku rasa tak seistimewa apa yang dana ceritakan, entahlah.. mungkin karena perasaanku yang sedang campur aduk atau karena hal yang lain lagi. Tapi tak apalah, tadi.. meskipun hanya beberapa suap saja rasanya aku sudah cukup kenyang. Dana sudah langsung mengantarkanku kembali ke kantor dan aku hampir bersorak kegirangan ketika menemukan dokumen yang tadi dibawa pak aji sudah berada di mejaku lagi, lengkap dengan tanda tangan boss besar tanpa catatan apapun. Itu artinya saatnya editing beberapa slide yang merupakan paparan dari angka2 ini, hanya tinggal mengganti beberapa bagian utama saja dan bagian lain akan menyesuaikan seperti mauku.</p>
<p align="justify">Semangat memang membuat segala sesuatu jadi lebih mudah, aku membuktikannya karena 3 jam sama sekali tak terasa. Tanpa kusadari banyak hal yang sudah aku selesaikan, sholat, menyempurnakan beberapa slide, memperbanyak dan mengirimkannya via email dengan beberapa penjelasan singkat, mengurus dokumen cuti dan terakhir, membereskan mejaku hingga tak terasa jarum jam sudah jauh berlari mendekati angka 4. Saatnya mundur, sudah terbayang di pelupuk mataku kamar yang nyaman dengan suara gemericik air yang menyusup lewat pintu kaca di samping tempat tidurku bersama angin sore yang menyejukkan. Rasanya, setelah seminggu penuh bergaul dengan ketegangan… momen2 seperti itu akan terasa begitu menyenangkan. Hanya tinggal esok pagi, meeting sebentar dengan boss besar untuk memberi gambaran umum lewat slide2ku. Tak ada yang perlu aku siapkan lagi, semua angka yang tertera disana rasanya sudah di luar kepala. Dan lusa.. aku bisa memulai liburanku, tak ada kewajiban bagiku untuk mengurusi urusan kantor lagi sampai seminggu ke depan.</p>
<p align="justify">Tapi tiba2 bayanganku buyar ketika melihat kotak coklat di sudut meja, semangat yang tadi kumiliki rasanya seolah2 langsung menguap begitu saja. Sebenarnya yang harus kulakukan adalah mengirimkannya, dan selesai…</p>
<p align="center">___….___</p>
<p align="justify"><em>“Aku akan pindah mas, kali ini tak bisa ditunda lagi”</em></p>
<p align="justify"><em>“sudah setahun aku mengusahakan penundaan.. tapi kali ini tak ada alasan lagi”</em></p>
<p align="justify">airmataku menetes…</p>
<p align="justify"><em>“tenanglah, kita masih bisa bertemu sayang. Kumohon.. jangan menangis” </em></p>
<p align="justify"><em>“aku akan sering mengunjungimu meskipun jarak kita terpaut jauh”</em></p>
<p align="justify">seperti biasa, dia selalu mencoba menenangkanku</p>
<p align="justify"><em>“aku tahu sebenarnya aku tak boleh bilang begini mas, tapi 2 tahun aku menahan keluh ini. Aku tak bisa membayangkan kita semakin jarang bertemu…”</em></p>
<p align="justify"><em>“kesinilah, ke pelukanku. Aku mohon, jangan menangis lagi… lihatlah kita sekarang… meskipun di kota yang sama, dan setelah 2 tahun berlalu.. pernahkah kita melewatkan semalam saja bersama??? “ </em></p>
<p align="justify"><em>“tak akan ada yang berbeda sayang” </em></p>
<p align="justify">Digenggamnya tanganku, dia benar… sudah 2 tahun sejak pertama kali aku bertemu dengannya di sebuah gallery milik sahabatku. Saat itu aku sedang mengagumi sepasang lukisan kupu2 yang menurutku mempunyai aura yang tak terkatakan, dan tahu2.. dia sudah berada disebelahku.. bergumam sendiri tentang lukisan itu, hingga sejurus kemudian aku juga bergumam dan kami saling bertukar pendapat tentang lukisan itu.</p>
<p align="justify">Ketika akhirnya kami saling melempar senyum dan mengulurkan tangan, tak pernah kukira bahwa akhirnya kami akan melewatkan berbagai pameran2 lain berikutnya bersama2.</p>
<p align="justify">Hubunganku dengannya bisa dibilang aneh, aku tahu aku begitu menyayanginya dan begitupun sebaliknya. Aku tahu dia akan melakukan apapun untukku dan aku tak akan pernah keberatan untuk memberikan semuanya untuknya. Tapi hubungan kami selama 2 tahun terakhir berwujud lukisan, gallery, kafe, restoran, buku, kopi, butik, peluk dan cium, tak pernah bisa lebih.. bahkan meskipun kami begitu menginginkannya. Tidak juga untuk membawa hubungan kami ke arah yang lebih serius, tentu saja&#8230;</p>
<p align="justify">Pertemuan kami biasanya hanya 2 minggu sekali, kadang hanya 2 bulan sekali ketika kami terhisap oleh kesibukan masing2. Tapi justru itulah yang membuatnya tak pernah membosankan. Aku selalu merindukan tiap detik pertemuanku dengannya. Aku bisa membagi apapun kepadanya, bercerita berjam2 di sampingnya sambil menikmati kopi adalah hal terbaik yang bisa kulakukan untuk menyembuhkan kepenatanku selama berbulan2.</p>
<p align="justify">Pernah kami merencanakan liburan berdua ke Indonesia timur, tapi rencana itu tak pernah terwujud karena banyak hal.</p>
<p align="justify">Ada satu kesepakatan tak terucap dalam hubungan kami, kesepakatan yang terbentuk oleh diamnya sang waktu.. kesepakatan yang berbunyi <strong>“kami tak boleh berpikir tentang masa depan hubungan kami”</strong>. Ya.. keadaanlah yang membuat aku tak mungkin berjalan disampingnya sebagai pendamping seumur hidupnya, meskipun bayangan itu selalu menari2 di pelupuk mataku.. bayangan yang aku yakini juga ia lihat di matanya.</p>
<p align="justify">Kemejanya basah oleh airmataku, tapi dia tak melepaskan pelukannya..</p>
<p align="justify"><em>‘’kau harus pergi sayang, ini berat untukmu… berat juga untukku” </em></p>
<p align="justify"><em>“kita tahu persis kemana kaki kita harus melangkah dan kita berhasil menjalaninya selama ini, kuatkan hatimu….” </em></p>
<p align="justify"><em>“aku akan berusaha untuk mengunjungimu sesekali, aku yakin kesempatan itu akan datang kepada kita”</em></p>
<p align="justify">Diusapnya rambutku, dan ditatapnya dalam2 mataku.. menguatkan, menyuntikkan keyakinan dan energi kedalam jiwaku yang luka.</p>
<p align="justify">Dia selalu menepati janjinya, 3 bulan sekali dia selalu meluangkan waktunya untuk menemuiku, sekedar untuk makan siang dan menikmati kopi bersama.  Terakhir&#8230; 2 bulan yang lalu ia datang, berjanji akan kembali.. minggu ini.</p>
<p align="justify"><em><a href="http://rienayesha.wordpress.com/2008/11/14/dan-saatnya-telah-tibasayang%E2%80%A6-part-ii/#more-81">Cerita sebelumnya</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2008/11/16/dan-saatnya-telah-tibasayang-part-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dan saatnya telah tiba,sayang&#8230; [part II]</title>
		<link>http://rienayesha.com/2008/11/14/dan-saatnya-telah-tibasayang%e2%80%a6-part-ii/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2008/11/14/dan-saatnya-telah-tibasayang%e2%80%a6-part-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 06:50:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.wordpress.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[&#34;Bu aya, bu&#8230; ibu&#8230; &#8220;

   Aku tergagap ketika sadar ternyata satpam kantor berdiri hanya beberapa langkah di depanku.
&#8220;ehh, iya pak..&#8221;
&#8220;maaf, teman ibu sudah menunggu sejak beberapa menit yang lalu&#8221;
&#8220;ohh.. iya, makasih ya Pak&#8221;

   
 
di balik dinding kaca, tepat di depan pintu utama, sedan merah hati milik dana sudah menunggu. Kaca [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2"><em>&quot;Bu aya, bu&#8230; ibu&#8230; &#8220;</em></font></span>
</p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2">Aku tergagap ketika sadar ternyata satpam kantor berdiri hanya beberapa langkah di depanku.</font></span><span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"></span>
<p><font size="2"><em>&#8220;ehh, iya pak..&#8221;</em></font></p>
<p><font size="2"><em>&#8220;maaf, teman ibu sudah menunggu sejak beberapa menit yang lalu&#8221;</em></font></p>
<p><font size="2"><em>&#8220;ohh.. iya, makasih ya Pak&#8221;</em></font></p>
</p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2"></font></span></p>
<p> <span id="more-81"></span>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2">di balik dinding kaca, tepat di depan pintu utama, sedan merah hati milik dana sudah menunggu. Kaca depannya di turunkan sehingga aku bisa melihat dengan jelas supir yang sewot disana, wajah dana tampak berkerut2. Seketika itu juga senyumku mengembang. Ada perasaan senang kalau makhluk mungil itu mulai memasang wajah cemberut, dia terlihat lucu dengan kemarahan yang tak pernah bertahan lama karena kami tahu bahwa tak pernah satupun dari kami sengaja melakukannya.</font></span>
<p><font size="2">Udara yang hangat langsung terasa ketika langkah kakiku tepat melewati pintu kaca yang memisahkan drop area dan loby yang baru saja aku tiggalkan. Tapi dingin yang tadi kurasakan akhirnya kutemukan lagi dari hembusan AC di mobil dana, dan&#8230; hangat itu pergi lagi dengan cepatnya.</font></p>
<p><font size="2">Kusyukuri dingin ini, aku tahu bahwa hangat itu akan berubah menjadi panas yang membakar kulitku jika aku melangkah lebih jauh lagi melewati halaman gedung ini dan berdiri lebih lama di luar sana. Bandung memang sudah banyak berubah, cuacanya menjadi ekstrem sekali. Aku tahu persis hal itu, meskipun aku bukan penghuni asli yang sudah bertahun2 disini, tapi dulu aku begitu sering mengunjungi Bandung yang pernah kutemukan dengan kesejukan menyelimuti setiap sudutnya.</font></p>
<p><font size="2"></font></p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"></span>
<p><font size="2"><em>&#8220;kok ngelamun aja sey, dari tadi aku dah lihat kamu tapi kamunya malah melongo aja.. ini juga masih kayak setangah sadar setengah enggak, untung satpammu dah hapal kalo aku kesini pasti jemput kamu&#8221;</em> </font></p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2">tanyanya dengan wajah tersungut2</font></span><span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"></span>
<p><font size="2"><em>&#8220;sorry dan&#8230; lagi banyak pikiran&#8221;</em></font></p>
<p><font size="2"><em>&#8220;udah, urusan kerjaan itu mah lewatin aja. Kalo nggak hari ini kamu nggak akan punya waktu buat kesana, kamu sendiri yang bilang&#8221;</em></font></p>
</p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2">aku hanya mengangguk pelan, ahh.. bukan karena itu dana&#8230;</font></span>
<p><font size="2">Cukup 15 menit dan mobil dana sudah terparkir di tempat yang kami tuju.FO baru ini memang bagus, setidaknya interior dan konsepnya yang terlihat sangat matang. Konsepnya yang meniru istana-istana romawi begitu kental diramu di setiap sudut bangunan, meja, rak, cermin, dan beberapa bangku berhiaskan ukiran klasik tampak tanpa cela. Gordyn, wallpaper, sampai lantainya pun digarap dengan begitu teliti mulai dari pemilihan corak dan juga warnanya. Belum lagi air mancur di tengah ruangan dan beberapa patung yang ada, rasanya seperti berada di sebuah istana marmer, hangat dan homy sekali.</font></p>
<p><font size="2">Satu2nya yang membuatnya berbeda dengan sebuah istana sungguhan adalah pemandangan gantungan dan tumpukan entah berapa ribu potong baju aneka bentuk yang ditata apik sesuai warna dan jenisnya di seluruh ruangan.</font></p>
<p><font size="2">Kulihat dana begitu bersemangat.</font></p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"></span>
<p><font size="2"><em>&#8220;tuhh kan apa kubilang, keren kan tempatnya.. masih banyak item yang didiskon ney&#8221;</em></font></p>
<p><font size="2"><em>&#8220;aku ke ujung dulu ya, kemarin ada baju yang aku taksir&#8230;&#8221;</em></font></p>
<p><font size="2"><em>&#8220;semoga belum ada yang nglihat ya.. soale kemaren aku sembunyiin tuh agak ke pojok , hehehe&#8221;</em></font></p>
</p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2">Ekspresi usilnya muncul, aku hanya menggelengkan kepalaku menanggapi kalimat itu, dan hanya dalam beberapa detik, tubuh mungilnya sudah menghilang di antara deretan baju2 cantik berwarna pink dan putih di sebelah kanan tempatku berdiri.</font></span>
<p><font size="2">Kuikuti petunjuk di bagian tengah ruangan, tepat di sebelah tangga yang tampak begitu anggun mengular tepat di seberang air mancur dihadapanku. Hmm&#8230; men&#8217;s wear ada di lantai dua rupanya. Kuputari air mancur itu menuju ke arah tangga.</font></p>
<p><font size="2">Tanpa terburu2 aku menaiki satu demi satu anak tangga marmer ini, kunikmati dingin yang pelan2 menyusup di telapak tanganku. Dingin dari pegangan tangga marmer yang aku rasa terbuat dari bahan berkualitas tinggi, tapi entahlah.. mungkin juga sebenarnya tidak bgitu. Tapi untuk awam sepertiku menyentuhnya membuatku merasa benar2 seperti menyentuh sutra, halus dan dingin&#8230; agak kontras dengan aura ruangan ini yang serba hangat dengan dominasi kuning gading dan putih</font></p>
<p><font size="2">Pemandangan di lantai dua tak jauh berbeda dengan apa yang aku lihat di lantai satu, hanya saja yang kutemukan disini adalah deretan baju2 untuk pria dan anak2 dan penataan ruangan dengan beberapa ornamen yang lebih &#8216;lelaki&#8217;. Hanya perlu sekali mengedarkan pandangan ke penjuru ruang ini untuk menemukan apa yang kucari, deretan sweater itu tepat berada di ujung foyer yang lagi2 dibatasi marmer, persis seperti pengangan tangga yang baru saja aku lewati. Di antara deretan gantungan2 itu sebuah manekin tampan ditata dengan posisi seolah sedang duduk melamun, memandangi lantai sambil meletakkan tangan di atas dadanya. Seperti seorang lelaki dengan kesedihan yang menyesaki dadanya. Ahh&#8230; tampaknya kesan hangat dari sweater berwarna coklat yang dipakaikan kepadanya tak mampu mengusir kesan dingin dan sendiri yang dirasakan manekin itu.</font></p>
<p><font size="2">Hatiku berdegup kencang ketika mengayunkan kakiku kesana. Aku sendiri tak tahu sebenarnya perasaan apa yang berkecamuk didadaku.</font></p>
<p><font size="2">Kubolak balik puluhan koleksi sweater dengan berbagai warna itu. Kebanyakan menggunakan warna monochrome dan gradasi dari coklat juga biru. Sebagian lagi menggunakan bahan dengan warna2 terang seperti yang sedang kupegang sekarang, merah maroon&#8230; sepertinya bagus, tentu kalau aku yang memakainya.</font></p>
<p><font size="2">Entah berapa kali kuamati tiap detail dari sweater2 itu, tapi akhirnya aku kembali menatap sweater yang sama. Sejak awal mataku sudah tertumpu pada sebuah sweater rajut berwarna coklat kopi dengan motif geometris di bagian dada. Kesan sederhana membuatnya tak terlalu mencolok diantara yang lain, tapi justru kesederhanaan itu yang membuatku terpikat. Mengingatkanku pada dia, sosok pribadi yang tampak bersahaja tapi selalu mampu menghangatkan segala suasana di sekelilingnya. Tampaknya, itulah kenapa banyak wanita yang mengaguminya. Kubayangkan dia memakai sweater itu dan aku bersandar disana. Aku yakin dia akan menyukainya&#8230;</font></p>
</p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2">___&#8230;.___</font></span>
<p><font size="2"><em>&#8220;Ayolah.. ceritakan padaku kenapa mas tidak mau membeli sweater baru lagi?? Yang aku tahu mas selalu memakai hitam dan abu2 saja&#8221;</em></font></p>
</p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2">Aku bergelayut manja di lengannya ketika menemani dia memilih setelan jas yang akan ia kenakan untuk sebuah acara resmi di Jakarta. Setiap kali kami mempunyai waktu belanja bersama, dia terlihat tertarik dengan beberapa koleksi sweater yang kami temui. Tapi dia tak pernah membawa pulang satupun dari mereka bgitu juga dengan sweater yang baru saja kami temui.</font></span>
<p><font size="2">Matanya mengerling nakal,</font></p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"></span>
<p><font size="2"><em>&#8220;ehmmm&#8230; &#8220;</em></font></p>
<p><font size="2"><em>&#8220;coba tebak mana yang benar.. &#8220;</em></font></p>
<p><font size="2"><em>&#8220;aku memang tak suka memakainya, atau&#8230; aku tak punya cukup uang atau&#8230;.:</em></font></p>
<p><font size="2"><em>&#8220;atau apa?&#8221; </em>tanyaku</font></p>
<p><font size="2"><em>&#8220;atau karena sweater itu kenangan dari mantan kekasihku dulu..?&#8221;</em></font></p>
</p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2">Mantan kekasih?? Ahhh, nampaknya dia memang senang sekali melihatku tersungut2. Aku tahu dia sedang menggodaku dari caranya menatapku sambil menanyakan pertanyaan itu, tapi.. bisa jadi yang dia katakan benar. Kulepaskan tanganku dari lengannya.</font></span><span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"></span>
<p><font size="2"><em>&#8220;tak suka memakainya, tampaknya tidak&#8230; mas beberapa kali memakai 2 sweater itu meskipun tak bisa dibilang sering&#8221;</em></font></p>
<p><font size="2"><em>&#8220;tak punya cukup uang apalagi, alasan yang mengada2&#8221;</em></font></p>
<p><font size="2"><em>&#8220;kalau kenang2an mantan sey.. mana aku tahu..&#8221;</em></font></p>
</p>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2">Jawabku sambil memindahkan pandanganku ke deratan dasi2 classy di sebelah kiri kami</font></span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2"><em>&#8220;hehehehe&#8221;</em></font></span>
</p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2">dia tertawa senang, kulirik sekilas wajah nakalnya yang sengaja menggodaku. sungguh.. saat2 seperti inilah saat dimana tak ingin sedetikpun aku lewatkan. Mata dan tawanya seperti bocah kecil, hanya keceriaan yang kulihat disana&#8230; kejujuran dan ekspresi yang tak pernah dia buat2.</font></span>
<p><font size="2">dan selalu, sejurus kemudian dia sudah mengekori langkahku, sesekali mencubit pelan atau sengaja menggandeng lenganku, sesekali juga memelukku, dan sesekali menyenggolkan bahunya seolah tak sengaja.</font></p>
<p><font size="2">Masih dengan wajah menggoda di bisikkannya beberpaa kalimat dengan logat melayu yang kental,</font></p>
</p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2"><em>&#8220;adoww&#8230; adek ney, cemburu selalu&#8230; masa kerana sweater sahaja adek tak nak lagi beri abang seyum adek yang manis tu.. &#8221;</em></font></span>
<p><font size="2">dia masih terkekeh</font></p>
<p><font size="2"><em>&#8220;okay&#8230;. Dengar sayang. Begini, aku tak ingin membeli sweater baru karena merasa belum perlu saja. Tak ada alasan khusus yang lain. Dua sweater itu juga bukan aku sendiri yang membelinya meskipun sebenarnya, seperti yang kamu bilang, aku cukup suka memakainya. Dan.. ya&#8230;sweater itu memang kenang2an, dari para kekasihku ..&#8221;</em></font></p>
<p><font size="2"><em>&#8220;bukan mantan, tapi masih kekasihku , ke ka sih ku&#8230; &#8221;</em></font></p>
</p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2">tampaknya dia menunggu perubahan ekspresiku,masih dengan senyum nakalnya. Setelah agak lama dia menatapku dan aku rasa yang dia cari tak ditemukan, dia melanjutkan kalimatnya&#8230;</font></span>
</p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2"><em>&#8220;Kau tahu&#8230; satu dari mama di tahun kedua aku pindah ke Jakarta, dan satu lagi dari lisa, oleh2 dari jepang&#8221;</em></font></span>
</p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2">wajahnya berubah serius ketika menyebut nama lisa.. adik kandungnya yang meninggal beberapa tahun yang lalu karena kanker. Kurangkul lagi lengannya..</font></span><span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"></span>
<p><font size="2"><em>&#8220;aku tak benar2 cemburu kok mas.. meskipun itu dari mantan kekasihmu, atau bahkan kekasihmu sekalipun.. apalagi kalau itu dari mama n lisa. Aku memang tak boleh merasa begitu&#8221;</em></font></p>
<p><font size="2"><em>&#8220;kalau tidak. aku tak akan pernah punya kesempatan indah bersamamu&#8221;</em></font></p>
<p><font size="2"><em>&#8220;maafkan aku ya mas&#8221;</em></font></p>
<p><font size="2"><em>&#8220;dengar sayang, akulah yang harus meminta maaf kepadamu untuk semua keadaan ini..&#8221;</em></font></p>
<p><font size="2"><em>&#8220;ahhh&#8230;. Seandainya saja..&#8221;</em></font></p>
</p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2">wajahnya bertambah sendu, duhh.. aku rasa aku mengucapkan kata2 yang salah lagi..</font></span>
<p><font size="2">Buru2 kuletakkan telunjukku di bibirnya, saat2 seperti ini selalu terasa menyesakkan. Dia mengerti, sekian tahun bersama.. ada kesepakatan tak terucap diantara kami bahwa moment sekecil apapun yang kami punya tak boleh dirusak oleh hal2 seperti ini.</font></p>
</p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2"><em>&#8220;kalau suatu hari aku membelikan satu untukmu, maukah kau memakainya mas??&#8221;</em></font></span>
<p><font size="2"><em>&#8220;tentu saja, asal tak ada gambar kartun atau bunga-bunga besar, atau gambar2 aneh yang lain disana&#8221;</em></font></p>
</p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"><font size="2">dia mengerling lagi, dan kami tertawa bersama&#8230; lepass&#8230;</font></span>
<p><font size="2">Aku terus menerus tertawa bersamanya hari itu,hmmm&#8230; satu setengah tahun yang lalu dan ingatanku masih begitu segar tentang segala kejadian yang kami lalui.</font></p>
<p><font size="2"><a href="http://rienayesha.com/2008/11/12/dan-saatnya-telah-tibasayang-part-i/" target="_blank">Cerita sebelumnya</a></font></p>
<p><font size="2"></font></p>
<p>   <span style="font-size: 11pt; font-family: tahoma"></span>
<p><font size="2"></font></p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2008/11/14/dan-saatnya-telah-tibasayang%e2%80%a6-part-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dan saatnya telah tiba,sayang&#8230; [part I]</title>
		<link>http://rienayesha.com/2008/11/12/dan-saatnya-telah-tibasayang-part-i/</link>
		<comments>http://rienayesha.com/2008/11/12/dan-saatnya-telah-tibasayang-part-i/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 10:43:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rien</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rienayesha.wordpress.com/2008/11/12/dan-saatnya-telah-tibasayang-part-i/</guid>
		<description><![CDATA[Adzan baru saja terdengar dari masjid di komplek kantorku, membelah siang yang panas terik, menyiramkan dingin yang menenangkan di hati. Kulirik jam tanganku, 11.44 ehm&#8230; masih harus menunggu 15 menit lagi untuk meninggalkan meja.

Kupaksakan diri menelusuri kembali deretan angka di lembar lembar kertas di tanganku meskipun rasanya kepalaku sudah berat, menagih haknya untuk diistirahatkan. Berharap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Adzan baru saja terdengar dari masjid di komplek kantorku, membelah siang yang panas terik, menyiramkan dingin yang menenangkan di hati. Kulirik jam tanganku, 11.44 ehm&#8230; masih harus menunggu 15 menit lagi untuk meninggalkan meja.</p>
<p><span id="more-66"></span></p>
<p align="justify">Kupaksakan diri menelusuri kembali deretan angka di lembar lembar kertas di tanganku meskipun rasanya kepalaku sudah berat, menagih haknya untuk diistirahatkan. Berharap kerja kerasku ini benar2 tanpa cela sehingga aku bisa bebas mengambil cutiku lusa. Memang, sudah seminggu ini aku lembur sampai larut malam demi lembar2 laporan ini. Kata <em>&#8220;revisi&#8221;, &#8220;konfirmasi&#8221;, &#8220;crosscheck&#8221;</em> terasa begitu akrab denganku, begitu mudah ditemukan di lembar2 bahan laporan, di telpon , email, dan nota2 kecil yang menempel di papan yang ada disebelah kananku.</p>
<p align="justify">Sebenarnya ini pekerjaan rutin setiap empat bulan, tapi aku tak tahu kenapa kali ini banyak sekali kesalahan yang memaksakan brainstroming hampir di setiap saat.<br />
meskipun aku coba, aku sudah tak bisa fokus lagi ke angka2 itu.. jadi, biarlah. Kalaupun nanti masih ada yang dipertanyakan, biar nanti saja kupikirkan lagi. Kupanggil Pak Aji, OB yang membereskan segala sesuatu di divisiku selama setahun terakhir. Ketika berkas laporan kusodorkan, tanpa kuberitahu dia sudah mengerti bahwa ia harus membawanya ke sebuah ruangan di lantai 3. Entah sudah berapa kali ia melakukannya dalam seminggu terakhir. Kuucapkan terimakasih sebelum ia berlalu.</p>
<p align="justify"><em>&#8216;coz I&#8217;m so sick of love song&#8230; so tired of tears. So down with wishing.. u r still here&#8230;&#8217;</em></p>
<p align="justify">tiba2 terdengar suara akon mengisi udara tepat saat mataku tertumpu pada arloji di pergelangan tangan, kulirik layar handpone yang bergetar di sebelah keyboard. Telepon dari dana, sahabat karibku 3 tahun ini. Meskipun malas, aku meraihnya dan mau tak mau akhirnya menekan tombol hijau disana.</p>
<p align="justify"><em>&#8220;hi dan&#8221;</em></p>
<p align="justify"><em>&#8220;hi non.. masih sibuk ya??? aku dah on the way ke kantormu ney, kemaren aku ke FO yang pernah aku ceritain kemarin.. koleksinya joss banget tuh, blom lagi tempatnya yang homy buuuuuuanget.<br />
Jadi pokoknya hari ini kita kesana aja ya.. nda sah ke FO langganan kita dulu&#8221;</em></p>
<p align="justify">dana bgitu bersemangat di seberang sana, dan… ehh.. ohh.. ke kantor??? FO??<br />
Dohh… kupukul jidatku..</p>
<p align="justify"><em>&#8220;hei&#8230; halo&#8230;&#8221;</em></p>
<p align="justify">sambungnya penasaran setelah aku tak bereaksi apa selama sekian detik</p>
<p align="justify"><em>&#8220;eh iya.. anu.. ehh&#8230; sorry, he eh&#8221;</em></p>
<p align="justify">kataku terbata-bata</p>
<p align="justify"><em>&#8220;kamu kenapa sey??? jangan ngelamun dong, gimana ney.. jadi kan?? Ntar habis itu kita maksi di sebelahnya tuh, ada iga bakar yang lezat banget&#8221;<br />
“atau, gi sakit ya???”</em></p>
<p align="justify"><em>&#8220;enggak kok dana… oke deh, aku turun ke loby sekarang. kita bertemu disana&#8221;</em></p>
<p align="justify">Kurapikan beberapa lembar kertas yang memenuhi mejaku. Kusambar dompet dan segera aku beranjak dari ruanganku.</p>
<p align="justify">Aku baru ingat, minggu lalu aku sudah membuat rencana untuk hari ini bersama dana. Mengunjungi sebuah FO baru di pinggiran kota Bandung untuk berburu kado. Kuturuni satu persatu anak tangga yang membawaku ke lantai dasar dengan perasaan yang aneh, ada perasaan enggan dan gamang untuk pergi siang ini terutama sekali karena kado itu. Sejak 3 tahun yang lalu di tanggal yang sama dengan hari ini sebuah kado dengan kotak berwarna coklat pasti sudah tersimpan di lokerku. Kado itu…</p>
<p align="center">___….___</p>
<p align="justify"><em>“Thank you say, aku suka perpaduan warnanya. Aku rasa kalau aku memakainya aku bertambah macho ney”</em></p>
<p align="justify">dipandanginya jam tangan sport yang baru saja ia lingkarkan di pergelangan tangan kirinya sementara tangannya yang lain masih memegang kotak coklat berukuran 10 x 10 x 6 cm yang tadinya adalah kotak pembungkus jam tangan itu.</p>
<p align="justify"><em>“kalau begitu sebaiknya hadiahnya aku minta lagi”</em> kataku</p>
<p align="justify"><em>“lho.. kenapa??”</em></p>
<p align="justify"><em>“kalau mas tambah macho pasti semakin banyak wanita yang mengikuti mas, belum pake jam itu saja aku harus bersaing dengan banyak wanita di luar sana”</em></p>
<p align="justify">Meskipun tak benar2 serius.. aku sewot dan berlalu pergi, menuju rak di belakang sofa tempat ia duduk. Meneliti koleksi buku2nya dan berharap menemukan buku yang cukup menarik untukku hari ini. Tiba2 lengannya sudah melingkar di pinggangku.</p>
<p align="justify"><em>“sayang, meskipun ribuan wanita mengikutiku, aku tak akan meninggalkanmu karena mereka”</em></p>
<p align="justify"><em>“apa jaminannya? Tak akan ada yang bisa menjamin suatu hari kau tak akan berpaling dari aku mas”</em> jawabku tanpa menoleh kearahnya</p>
<p align="justify"><em>“stttt…”</em></p>
<p align="justify">Dibalikkannya tubuhku dan ditatapnya dalam2 mataku yang hanya sekian centi dari mata coklatnya. Tatapan penuh kesungguhan yang selalu membuatku meleleh dan tak berhenti berharap bahwa mata itulah yang akan kulihat ketika pertama kali aku terbangun di pagi hari.</p>
<p align="justify"><em>“kau tahu aku memang tak bisa memberikan jaminan apapun padamu,tapi aku yakin kau tahu aku mencintaimu melebihi siapapun”<br />
“dengar… jam ini memang bagus sekali, dan itu bertambah istimewa ketika kau yang memberikannya padaku… tapi sungguh aku lebih peduli bahwa ini adalah tanda cintamu, itu adalah nafasku say”<br />
“tidakkah begitu???” </em></p>
<p align="justify">Cintaku.. nafasnya… dan lagi2 matanya bersinar ketika mengangkat daguku dan mengecup bibirku meneriakkan ribuan kata cinta dalam kesenyapan.</p>
<p align="justify"><em>“terimaksih.. untuk cinta dan jam macho ini ya,”</em><br />
katanya sambil tersenyum… senyum yang membuatku tak pernah berhenti merindukannya. Kuanggukkan kepalaku mengiyakan.</p>
<p align="justify">Jam itu adalah hadiah ulang tahunnya yang ke 33, aku berkeliling Surabaya untuk mencari jam itu setelah aku melihatnya disebuah situs belanja online dan berusaha memesannya tapi mereka tidak memiliki stock lagi. Setelah menjelajahi 4 mall berbeda, aku begitu girang ketika menemukannya di mall terakhir dan… tinggal satu2nya.<br />
Begitulah aku, ketika jatuh cinta.. maka segala upaya akan aku perjuangkan. Dan ini juga tentang dia, si macho dengan jam tangan baru di pergelangan tangannya.. meskipun aku tahu bahwa kami tak akan pernah benar2 saling memiliki, meskipun pada akhirnya aku tak pernah bisa memilih upaya apapun untuk diperjuangkan.<br />
Tapi waktu membuktikan, aku memang tak menyerah tentang jam itu, tapi aku menyerah pada garis nasibku.</p>
<p align="center">___…..____</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rienayesha.com/2008/11/12/dan-saatnya-telah-tibasayang-part-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
