Rienayesha's Raindrops & Hi Heels

Luka

October4

Semua hal mulai menggangguku. Layar PC, hp, buku, tas, sepatu, pakaian, teman-teman, bahkan sobekan kertas di meja ini membuatku ingin berteriak. Aku kesakitan ketika bisikan namamu yang setajam silet itu menguar di udara, dihembuskan oleh benda-benda bajingan ini. Baru selangkah, tapi tubuhku sudah penuh sayatan dan luka. Dengan sakit yang tak terkira ini, bagaimana aku bisa percaya bahwa akan ada yang bisa membantuku mengobati semua ini.

Mungkin segenggam butiran-butiran kecil itu bisa. Setidaknya aku akan punya kesibukan lain selain berusaha mengenyahkan bayanganmu, ya.. mempertanggungjawabkan keberanianku melawan kehendakNya, untuk mati dengan tanganku sendiri.

posted under Cerpen | 1 Comment »

Bintang Pentas

November16

Saya…
Sang bintang pentas
Bekerja bila malam tiba
Malam kujadikan siang
Siang berlalu penuh mimpi

Dari pentas satu ke pentas yang lain
Aku nyanyikan suara hati….

Aku menyanyikan lagu yang sama, entah untuk keberapa ratus kalinya.. Masih juga diiringi orkes melayu pimpinan Mas Jarwo, orkes melayu yang sama juga. Apakah salah kalau akhirnya aku benar-benar merasa bosan. Ya.. meskipun pada awalnya lagu ini adalah lagu yang paling aku sukai. Tapi Mas Jarwo bilang banyak penonton yang meminta aku tampil dengan lagu itu, katanya suaraku sangat mirip dengan si empunya lagu. Pujian yang tadinya sempat membuatku begitu tersanjung.

Read the rest of this entry »

posted under Cerpen | 3 Comments »

Lelaki bisu dan perempuan sepi

March19

–Perempuan Sepi–

Memuakkan, membayangkan bahwa esok aku tak bisa menemuimu lagi. Bukan sayang.. bukan menyedihkan, tapi memuakkan. Bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun kita bersama akhirnya kita harus berpisah dengan cara yang jauh dari sekedar menyakitkan, cara yang amat sangat tidak pantas.

Read the rest of this entry »

posted under Cerpen | 22 Comments »

Sepotong DeJaVu Untuk Asti

February11

Asti, bagaimana kabarmu disana?? tidak terasa lima tahun sudah aku tak lagi mendengar papaun tentangmu kecuali bahwa tanah yang kita pijak saat ini tidaklah sama. Sejujurnya, lima tahun juga sesekali aku dipaksa berusaha semampuku melupakanmu, berjuang memendam kerinduan yang mengalir dan mengarus di ruang-ruang jiwaku, mencoba melawan semua kegelisahan yang sering kali menyusup diam-diam diantara hariku As. Sering.. aku berhasil menepikanmu, tapi tetap saja tempat-tempat yang dulu kita singgahi, makanan-makanan yang dulu kita nikmati, jalan-jalan yan dulu kita susuri dan entah berapa banyak hal lagi yang dulu pernah kita bagi.. selalu saja datang dan menarikku kepada ingatan akanmu.

Read the rest of this entry »

posted under Cerpen | 23 Comments »
« Older Entries