Keajaiban bernama ‘Sang Waktu’
Kehidupan memang penuh keajaiban. Apa yang ada di genggaman kita saat ini bisa saja hilang hanya dalam hitungan detik dan juga sebaliknya, dalam tempo yang sama apa yang bahkan tak pernah terpikir untuk bisa kita miliki tiba-tiba sudah di tangan. Betapa berartinya detik demi detik itu, tapi nyatanya kita [terutama aku pribadi] jauh lebih sering mengabaikannya. Detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun-tahun di belakang banyak yang berlalu begitu saja tanpa greget apa-apa.
Puisi ini adalah sebuah monumen untuk mengingat satu waktu yang pernah aku lewati di pertengahan tahun 2008, saat dimana keajaiban menyapa sejenak dalam bentuk waktu sepanjang tujuh jam dan sebuah tantangan kecil yang terlontar di sela-selanya. Aku yakin itu bukan ‘keajaiban’ yang ada di kepala kebanyakan orang tapi kejaiban itu mampu membawakan sebuah pembelajaran baru untukku. Sebuah pelajaran bahwa definisi sedih, bahagia, harapan, keputus-asaan, maya, nyata, waktu, dan entah berapa banyak hal lain yang ada di sekitar kita tak akan pernah berhenti bertransformasi bersama waktu dan apa yang kita lewati di dalamnya.
[My notepad, ketika tiba2 kutemukan ironi.. tepatnya Rabu,170908]
7 JAM BERSAMAMU
Sungguh…
Menulis tentang 7 jam bersamamu terasa seperti siksa
membuat jemariku kaku dan seolah hilang kewajarannya
lalu ia juga membawakanku atmosfer yang gelisah memenuhi udara
dan memaksaku terduduk diam, tak mampu bersuara
Kucoba membenamkan diriku dalam rentetan memori
Mengais-ngais, mencoba menemukan kesadaran yang saat itu kumiliki
Terus saja mencari makna diantara deretan gambar yang pernah tercipta
tapi… lagi-lagi
7 jam seolah tak mampu memberikanku jawaban apa2
Tak akan berani kupinta 7 jam yang sama
menyadari bahwa kadang kehidupan tak selalu seindah keinginan kita
dan mungkin… karena keputusasaanlah,
Kuputuskan untuk tak berkata2
Diam dan tak pernah berani melangkah lagi untuk mencoba
Menulis 7 jam bersamamu seperti berjalan dalam maya
Mengukir keindahan yang akhirnya hilang ketika mata terbuka
Terkikis kesadaran, anugrah yang tiba-tiba terasa bagai bencana
menghapus tiap harapan yang telah tersemat diantara baris yang ada
Kusyukuri hari ini
Saat 7 jam bersamamu kadang terasa seperti air yang mengobati
Menuangkan untukku secangkir dingin dalam panas yang tak terkira
Meski tak kumengerti bagaimana ia bekerja
Tetap saja…
Tak kuyakini kebenaran akan datang pada kita
Tapi kepercayai bahwa sebenarnya ia ada..
Entah menunggu,
Entah memang tak ingin diganggu..
Tak pernah kutahu
Yang ada dalam benakku,
bahwa harapan akan selalu menemukan jalannya
Mungkin berakhir dengan kalah
Mungkin juga suatu ketika berlangsung indah
Haruskah kuukir lagi??
7 jam bersamamu,
Mungkin,itu memang hanya mimpi..
–> Terimakasih telah memberiku ‘keajaiban’ itu. Menyadarkanku bahwa kemanapun kulangkahkan kakiku, akan selalu ada sahabat untukku
ada masanya waktu kan berulang, berselang, dan berganti walau sekedar terkias dalam balut mimpi…
apa kabarnya teh? lama ga ketemu
blogwalking…