Bintang Pentas
Saya…
Sang bintang pentas
Bekerja bila malam tiba
Malam kujadikan siang
Siang berlalu penuh mimpiDari pentas satu ke pentas yang lain
Aku nyanyikan suara hati….
Aku menyanyikan lagu yang sama, entah untuk keberapa ratus kalinya.. Masih juga diiringi orkes melayu pimpinan Mas Jarwo, orkes melayu yang sama juga. Apakah salah kalau akhirnya aku benar-benar merasa bosan. Ya.. meskipun pada awalnya lagu ini adalah lagu yang paling aku sukai. Tapi Mas Jarwo bilang banyak penonton yang meminta aku tampil dengan lagu itu, katanya suaraku sangat mirip dengan si empunya lagu. Pujian yang tadinya sempat membuatku begitu tersanjung.
Lagu ini memang dulunya seperti curahan hatiku, penyanyi kampung yang hidup dari pentas terbuka dan panggung yang tak pernah sama. Penyanyi kampung, begitu orang-orang terbiasa menyebut profesiku . Sebutan yang aku terima dengan senang hati karena memang aku belum pernah tampil di tivi atau menyanyi di depan ribuan penonton seperti mereka yang disebut dan menyebut dirinya sebagai "artis", yang katanya dibayar dengan jumlah uang yang bisa dipakai untuk membuat pesta meriah untuk orang sekelurahan. Aku cuma berpindah dari kampung satu ke kampung lain, hajatan satu ke hajatan lain dengan bayaran yang tak tentu.
Aku, seorang gadis yang bekerja sebagai greeter di sebuah restoran di siang hari dan kemudian menjelma menjadi seorang penyanyi di malam harinya. Bukan mauku.. tapi gaji tujuh ratus ribu sebulan dikurangi dengan kewajiban membayar kost dan makan tak pernah cukup dipakai untuk mengurangi beban ibuku di kampung, membantu mewujudkan cita-cita adik lelakiku meminang istri Pak Kamituwo. Lewat menyanyi inilah keuanganku bisa terbantu, bermodal baju pinjaman Mbak Yuli yang memang cuma itu-itu saja, aku bisa menabung untuk ibu dan adikku.
Aku hanya tidak ingin pengalaman dan nasibku terulang pada adik. Dulu Mas Hermawan dilarang menikahiku karena keluargaku tidak mampu menyediakan sejumlah uang untuk pesta pernikahan kami bahkan setelah "dibantu" dengan jumlah yang cukup besar dari pihak Mas Hermawan. Entahlah apa memang itu hanya sebuah rekayasa agar pernikahan kami tak pernah terlaksana, atau memang benar keluargaku sungguh tak pantas karena ketidakmampuannya menyelenggarakan pesta yang ‘pantes’ untuk mengimbangi acara mas hermawan yang memang anak seorang lurah. Peristiwa itu sungguh menyakitkan untukku meskipun aku sadar bahwa aku cuma seorang Ranti, anak piatu dari seorang buruh tani miskin. Rasa sakit itulah yang akhirnya membawa langkahku sampai di kota ini.
Malam ini rasanya benar-benar mengesalkan, penyanyi baru bernama Ratna yang matanya kadang menjelma seperti mata ular itu mulai berulah lagi. Kemarin dia tidak menyampaikan pesen mas Jarwo yang akhirnya mengira aku malas latihan. Dia juga pernah berbohong dengan mengatakan pada mas Jarwo bahwa aku tak perlu jemputan sehingga aku terlambat datang ke pentas. Beberapa minggu yang lalu, dia juga menyebarkan isu bahwa aku akan bergabung ke grup orkes lain hanya karena aku beberapa kali terlihat bersama salah seorang penyanyi mereka yang mulai dekat denganku sejak ketidaksengajaanku bertemu dengannya di rumah mbak yuli. Padahal tidak… sungguh aku tak ingin meninggalkan mas Jarwo dan grup-nya. Mas Jarwo-lah yang sudah mengalirkan rejeki yang tak sedikit, melatihku, mengajariku dan sekaligus menjagaku. Malam ini dia membuat aku hampir tak bisa tampil karena bajuku basah karena air yang katanya ‘nda sengaja’ ia tumpahkan.
Inilah duniaku, dunia kecil yang tak kalah keras dengan dunia malam diluar sana. Demi beberapa lembar lima puluh ribuan banyak yang bersedia melakukan segala hal. Mulai dari menciptakan goyangan yang aneh-aneh, mencari pengasihan ke dukun, melontarkan fitnah atau bahkan guna-guna pada teman sendiri, dan banyak lagi hal gila lain yang jauh dari nalarku. Bagi sebagian dari penghuni dunia kecil ini, spapun akan dilakukan demi sebuah kesempatan manggung. Ya.. kesempatan yang kadang juga berarti ajang ‘menggelar dagangan’ begitu istilah sebagian teman-temanku. Disebut ‘menggelar dagangan’ karena tidak sedikit yang juga berjualan tubuh sambil menyanyi. Aku sendiri, bukan sekali atau dua kali aku menerima tawaran semacam itu.
Duh gusti… tak pernah putus aku berdoa semoga cita-citaku untuk membahagiakan orang-orang yang kusayangi tak akan membawaku kepada para pencari kepuasan yang menawarkan lebih banyak lembar uang itu. Semoga keinginanku tetap berada disini tak akan membawaku ke dukun, tak membuatkau perlu menjegal teman-temanku sendiri. Karena aku hanya ingin menjadi penyanyi kampung yang sederhana, bintang pentas kecil yang bisa membahagiakan keluarganya.. itu saja…
sudah lama tidak mendapati tulisan baru di sini, ‘akhirnya keluar juga’ hehehe…
Yang ini ada sambungannya ga teh?
Why is this cost increasing when enrollment is decreasing?