Rienayesha's Raindrops & Hi Heels

Lelaki bisu dan perempuan sepi

March19

–Perempuan Sepi–

Memuakkan, membayangkan bahwa esok aku tak bisa menemuimu lagi. Bukan sayang.. bukan menyedihkan, tapi memuakkan. Bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun kita bersama akhirnya kita harus berpisah dengan cara yang jauh dari sekedar menyakitkan, cara yang amat sangat tidak pantas.

Aku tak bisa menerima ini, tapi segenap suaraku sudah kuteriakkan, segenap energiku sudah kukeluarkan, berbulan-bulan sayang… tapi tetap saja semuanya dikalahkan oleh sebuah coretan dengan tinta murahan itu. Tinta yang dibeli dengan kelicikan para penguasa. Kadang aku bertanya tak bisakah mereka membelinya dengan cara lain selain penghancuran seperti yang kita hadapi sekarang.

Bicaralah sayang… sekali saja, jika memang senja ini adalah terakhir kali kita bersama. Ingin sekali aku mendengar suaramu, sekali saja… bukankah hampir setiap hari aku datang padamu dengan banyak cerita yang mungkin bisa kujadikan puluhan novel baru jika kutuangkan diatas kertas. Lelakiku sayang, betapa setianya dirimu menemaniku…. mendengarkan semua keluh kesah dari sedih dan bahagiaku… tentang lalu lintas yang menghabiskan waktuku tiap hari, tentang udara yang membuatku terbatuk-batuk, tentang limpahan air yang menggenangi setiap sudut kota ini, tentang musim yang tak juga kunjung berganti, tentang anak anjing kecil milik tetanggaku yang menyebalkan, tentang novel-novel baruku, tentang buku-buku bacaan lusuh hasil perburuanku di pasar loak, ahh.. coba ingatlah, ternyata begitu banyak yang sudah aku bagi denganmu sayang…

Dan lihatlah betapa aku tak bisa menyelamatkanmu, menyelamatkan kita dari perpisahan ini, betapa bersalahnya aku…

–Lelaki bisu–

Perempuanku terkasih, aku sedih.. tahukan kau?? esok aku tak akan bisa menemanimu lagi. Tahukah kau betapa bahagianya diriku ketika setiap senja kau datang dengan semua cerita-ceritamu. Ingin aku membagi cerita-cerita serupa juga atau sekedar berkomentar tentang jalanan yang penuh amarah, tentang udara yang kotor, tentang banjir yang meluas, tentang musim penghujan yang katamu tak kunjung berhenti, tentang anak anjing kecil yang jorok, tentang novel-novel karanganmu, tentang buku-buku bekas yang lusuh, dan tentu saja tentang senja-senja kita.. Tapi kau tahu aku bisu kasih…

Sesekali aku ingin sekali memelukmu dan meredakan segala gundah yang mengelilingimu, membuat udara di sekitarmu begitu menyesakkan untuk kau hirup. Tapi aku tak pernah bisa… yang ku mampu hanya meminjamkan lenganku yang katamu selalu dingin, menyediakan bahuku yang katamu terlalu keras, membiarkanmu bersandar sambil memandangi anak-anak kecil yang berebut bola, mengamati gelandangan yang mengais-ngais sampah, atau sekedar berandai-andai menjadi pedangang keliling yang kadang mencuri-curi kesempatan mencari beberapa lembar ribuan di sudut taman ini sebelum lelaki-lelaki berbadan tegap itu berpatroli.

Dan sore ini, sungguh… yang kuinginkan adalah memelukmu, mengatakan beberapa kata saja. Aku sungguh menyayangimu perempuanku terkasih… sungguh… dan aku akan rela menjadi kepingan-kepingan kecil atau bahkan debu. Tak akan ada penyesalan lagi.

–Pedagang keliling–

Aku begitu heran dengan perempuan itu, sudah beberapa bulan Ia selalu duduk dibangku itu dengan mata berkaca-kaca bersama komputer jinjingnya. Aku tak tahu namanya, yang kutahu sudah bertahun-tahun di setiap senja Ia akan duduk di bangku panjang dibawah pohon di sudut taman itu. Sesekali aku melihatnya tertidur menyandar pada patung lelaki yang duduk diujung bangku. Lelaki yang tampan aku kira, tak serupa dengan badut yang juga duduk di bangku yang hampir sama di restoran cepat saji di belokan lampu merah didepan.

Aku tak tahu namanya dan apa yang sebenarnya ia lakukan disana, tapi sesekali ia tersenyum ketika kami kami cukup dekat untuk saling bertegur sapa. Tentu saja pedagang keliling seperti aku tak berani bertanya… Yang aku tahu perempuan itu adalah penghuni apartemen menjulang di seberang jalan. Tempat yang bahkan halamannya tak boleh aku lewati. Pernah aku sakit hati karena satpam-satpam yang siaga disana memaki-maki aku ketika aku berhenti sebentar memperbaiki roda gerobakku. Jauh lebih menyakitkan dibandingkan saat-saat aku harus berkejaran dengan tramtib yang suka berpatroli dan melarang pedagang-pedagang sepertiku mangkal di seluruh penjuru kota ini.

Kasihan perempuan itu tampaknya Ia begitu sedih, dan senja ini aku melihatnya menangis. Matanya memerah dan bengkak. Mungkin karena taman ini akan diratakan dengan tanah besok.. mau dibangun mall katanya. Ia menggandeng lengan dan meletakkan kepalanya di bahu patung itu. Kenapa tiba-tiba aku seolah melihat patung itu bersedih juga. Wajahnya tak setampan biasanya… seperti mau menangis.

Ahh, mungkin aku terlalu berlebihan. Tapi memang seharusnya taman yang tak banyak lagi di kota ini dipertahankan, terutama yang satu ini… tapi katanya penguasa-penguasa kota ini tampaknya haus uang. Begitu katanya.. toh meskipun banyak demo yang menolak alih fungsi taman ini, tetap saja akhirnya papan pengumuman itu berdiri tegak disitu…  dan perempuan itu, pasti ia akan sangat kehilangan…

–Perempuan sepi–

Sayang, hari ini aku akan keluar kota… aku sungguh tak ingin melihatmu di hantam martil-martil itu sampai kau menjadi debu. Melihat pohon-pohon besar yang biasanya menaungiku dicerabut dari tanah. Melihat rumput-rumput hijau itu dikuliti. Mungkin, setelah itu ketika aku kembali ke kota ini aku tak akan pernah menengok lagi ke sudut dimana taman kita ini pernah begitu asri dan menyediakanku tempat untuk melepaskan diri sejenak dari semua hiruk-pikuk kota metropolitan yang penuh polusi ini.

Sungguh bagiku kau tak hanya sekedar adonan semen yang menjadi penghias bangku taman, bagiku.. kau adalah lelakiku tersayang…

Maafkan aku.…  selamat tinggal…

posted under Cerpen
23 Comments to

“Lelaki bisu dan perempuan sepi”

  1. On March 20th, 2009 at 1:39 am xarom Says:

    lam kenal mbak…
    btw invite chi.mp donk mbak
    thx

  2. On March 20th, 2009 at 11:24 am risdania Says:

    wah bagus banged ney,,kata2nya juga bagus….
    i luv ur post.. ^^

  3. On March 20th, 2009 at 11:50 pm Abdul Rf Says:

    Bagus. Benar-benar kolektor kalimat yang luar biasa. Anda sepertinya hendak menyampaikan pemberontakan atas sesuatu yang mengganggu pikiran anda. Di kota yang terus merubah pohon jadi gedung-gedung bertingkat, taman jadi mall, bukit-bukit menjadi perumahan mewah para koruptor dan penjilat b*s*k. Uhmmm…tempat dibelahan bumi mana lagi yang bisa ditinggali dan dinikmati oleh orang-orang biasa seperti kami… :(

    Salam kenal. Saya suka dengan blog anda dan kalau diperkenankan akan saya masukkan dalam blogroll di blog saya.

  4. On March 21st, 2009 at 10:45 pm GIlank Says:

    wow, it is so awsome, briliant word, bener2 dah bisa nih jadi penulis buku, huehehe.. keren2 mba postingya, lam knl! :)

    I UCIF (U Comment I Follow) :)

  5. On March 23rd, 2009 at 7:51 pm slam Says:

    Abis baca.. Kok aku jadi sedih ya.

  6. On March 29th, 2009 at 8:52 am tan3a Says:

    pilihan kata yang bagus, indah, tentang suatu hal yang mungkin tak bagus

    *haiah, ngomong opo aku ini :D

  7. On April 3rd, 2009 at 5:07 pm riez Says:

    Selalu saja harus melahap sampai kalimat terakhirmu, baru ketauan isinya, hehehehe…

  8. On April 4th, 2009 at 2:58 pm Ronggo Says:

    tulisan tingkat tinggu banggeeettt niiih kebewa perasan

  9. On April 12th, 2009 at 2:57 pm ahmad Says:

    Wah salam kenal donk mba…
    Wah bagus banget nih themanya…keren abis…
    Postingannya juga keren…mba hoby di bidang sastra yah???
    Wah mau donk dibuatin puisi buat nembak cewek….hehehe

  10. On April 13th, 2009 at 1:01 am Wh Says:

    kerenn……..dah gak bisa coment yg lainnya

  11. On April 13th, 2009 at 7:26 pm gratisanboy Says:

    Welcome back rien.. Aku rindu cerita2 puitis di blognya rien..

  12. On April 21st, 2009 at 2:38 am ãñÐrî ñâwáwï Says:

    Hmmm berkali-kali mampir, dan lagi-lagi baru malem [ehhh pagi] ini bisa baca dari awal sampe akhir Rien.
    Sebuah percakapan batin yang sangat keras (kencang), ga ada suara yang keluar disitu, tapi kalo dirunut dari awal sampe akhir benernya suaranya ngalahin gigi kalo pas lagi konser :mrgreen:
    Cakep, dialek nya kaya yang nggak asing ditelinga… hehee.

  13. On April 22nd, 2009 at 12:29 am xonket Says:

    Mampir aja… :D

  14. On May 1st, 2009 at 7:50 pm ali masadi Says:

    mbak… apik tenan cerpene.. ajari mbak..

  15. On May 21st, 2009 at 7:45 pm elmoudy Says:

    bagus keren banget…mampir ke blogku juga yaa

  16. On June 8th, 2009 at 7:34 am Ardhiansyam Says:

    Selamat tinggal….setidaknya untuk sekarang….

  17. On June 9th, 2009 at 6:31 am Raffaell Says:

    Hmmm berisi tentang kosong dan hampa…..

  18. On July 1st, 2009 at 7:51 am suwung Says:

    diksinya, ceritanya runut hmmmmmm

  19. On July 20th, 2009 at 10:16 am dadang firdaosq Says:

    keren…

  20. On July 28th, 2009 at 10:39 pm budi Says:

    tempatnya cerpen dan puisi nih , salalm kenal

  21. On September 26th, 2009 at 10:31 pm SanG BaYAnG Says:

    Semoga masih ada kesempatan dan tempat pada perempuan sepi dan lelaki bisu untuk mengais rezeki walau harus menjadi korban gusuran..

    Salam.. ;)

  22. On October 14th, 2009 at 11:36 am Elang Timur Laut Says:

    Keren, mbak, cerpennya, bener2 harus dilahap sampai kalimat2 terakhir baru ketahuan maksudnya. Jadiin buku aja, mbak. ^_^
    Sukses dan teruslah berkarya ya.

  23. On October 23rd, 2009 at 9:50 am sun Says:

    salam kenal dari saya,

    sungguh asik sekali saya membaca tulisan cerpen mbk, sampai2 saya lupakan coding program saya.

    baru kali ni saya membaca dengan asiknya, untung cuma lupa coding, nah kalo lupa ngajar bisa berabe..ha..ha…

Email will not be published

Website example

Your Comment: