Sepiring Nasi Mentega
Aia tergugu di depan layar komputer-nya, menangis karena luapan amarah tak terkira yang sudah dibendungnya selama 12 jam terakhir. Sudah berkali2 Ia mencoba menemukan kejanggalan, keanehan,dan kekurangan di deretan kode2 itu tapi tetap saja Ia tak berhasil mencari tahu apa yang salah. Matanya perih karena terus terpaku pada layar resolusi besar di hadapannya, sementara pergelangan tangannya nyeri karena terlalu banyak mengoperasikan tetikus cantik miliknya. Untuk beberapa saat tubuhnya bergetar hebat, tangannya terangkat dengan cepat dan..
Prakkkk
tetikus mungil menghantam dinginnya marmer di ruang kerja minimalis itu, hanya dalam hitungan detik dan bentuk aslinya tak lagi terlihat, berganti menjadi entah berapa puluh kepingan2 kecil. Ia yang beusaha berdiri juga tak kuasa menahan berat tubuhnya hingga akhirnya terjatuh di antara kepingan2 kecil itu.
Jauh di lubuk hatinya Ia tahu benar, kode2 itu bukan akar masalah yang membuat amarahnya meledak. Mereka hanyalah pilihannya untuk lari dari kegalauan yang menyelimuti hatinya hari itu. Hari ulang tahunnya yang ke 25, ulang tahun pertamanya tanpa rayyan…
Aia memang masih sangat muda untuk menanggung kegalauan itu. Ia baru saja mengecap manisnya pernikahan bersama kekasih yang setia disisinya selama 7 tahun terakhir. 4,5 tahun rayyan setia menunggunya siap melangkah ke dalam ikatan pernikahan dan hanya beberapa hari sebelum genap 3 tahun pernikahan mereka, rayyan dipanggil yang Maha Kuasa karena kanker otak yang terlambat disadari oleh keduanya.
Cinta selalu menyala dengan dua sisi sekaligus, membangun dan terkadang juga menghancurkan. Dan itulah yang di hadapi Aia sekarang, cintanya pada rayyan membuatnya bgitu rapuh. Meskipun sudah berbulan2 tapi Ia tetap saja belum bisa melepaskan bayangan rayyan dari hidupnya. Ia yang dulu penuh dengan keceriaan berubah 180 derajat menjadi seseorang yang tak pernah lagi tersenyum. Ia yang dulu bgitu senang bertemu dengan orang2 baru sekarang lebih memilih menutup diri dan menghindari kesempatan bertemu dengan siapapun.
Dini hari tadi Ia terbangun, penuh kesedihan karena sebuah kesadaran menelusup ke ruang bathinnya tepat ketika dia membuka mata.. Ingatannya melayang, di hari yang sama di tahun2 sebelumnya selalu ada pelukan hangat atau setidaknya telpon rayyan yang membisikkan ucapan selamat ulangtahun dengan suara yang membahagiakannya. Tapi di kegelapan pagi tadi, tak ada keduanya… hanya lamat2 didengarnya gema suara rayyan yang Ia tahu pasti hanyalah sepenggal kenangan yang tertinggal dalam memory otaknya, kerinduannya yang mewujud menjadi suara sang kekasih.
Sadar bahwa harinya akan penuh duka dilarikannya semua konsentrasi dan energinya ke baris2 kode untuk proyek terbarunya meskipun sebenarnya Ia tak punya keharusan untuk menyelesaikannya hari ini. Barisan kode, yang ternyata.. setelah 12 jam disusun tetap tak juga kunjung bekerja. Padahal itu hanyalah program sederhana serupa puluhan program yang pernah Ia buat sebelumnya. Konsentrasinya tetap kacau dan meskipun telah Ia coba, usahanya selalu berakhir kebuntuan.
Pelan2 Ia bangun dan beranjak ke ruang tengah, dibiarkannya rasa nyeri yang menyusup di beberapa bagian tubuhnya karena benturan dengan lantai dan serpihan2 tetikustadi. Ia menatap kosong meja yang dulu menjadi saksi hari2 bahagianya. Di meja itu hampir setiap hari tersaji masakan rayyan, sang penguasa dapur yang memang tak lain adalah seorang manager muda di sebuah restoran ternama di kota tempat mereka tinggal yang mempunyai hobi memasak. Masakan favorit Ia yang selalu tersaji di hari ulang tahunnya tiba2 membayang, indra penciumannya seolah dipenuhi aroma masakan itu membuatnya limbung. Kepalanya terasa berputar dan bayangan nasi hangat berwarna kuning pucat yang masih mengepulkan uap di meja seolah melayang2 diatasnya. Untunglah kali ini Ia bisa menguasai diri, ditariknya pelan tubuh lemahnya ke atas satu dari 6 kursi rotan yang mengelilingi meja makan.
Ia mencoba memejamkan matanya, menghadirkan lagi bayangan nasi kuning puccat yang tadi sempat memenuhi kepalanya. Masakan itu adalah ciptaan rayyan sendiri yang dulu selalu disebut2nya sebagai NASI MENTEGA. Diingatnya kembali saat2 ketika pertama kali Ia mencicipi nasi itu, Ia juga masih ingat betul ketika setelah itu.. hampir setengah hari ia berdebat tentang nama masakan itu dengan rayyan. Ia merasa bahwa NASI KEJU lebih sesuai mengingat unsur keju yang begitu kuat dan lagi, menurutnya aneh jika disebut nasi mentega karena Ia tahu dari rayyan bahwa sebenarnya tak sedikitpun ada mentega yang dipakai dalam proses pembuatannya. Tapi rayyan tak bergeming, menurutnya tetap saja Ia yang berhak menentukan karena dialah pemilik resepnya dan akhirnya Ia mengalah. Pertengkaran yang manis karena pada akhirnya sepanjang sore mereka berdua justru tak berhenti tertawa bersama menertawakan kekonyolan perdebatan mereka. Ia memang tak terlalu pintar memasak, tapi rayyan tak pernah mempermasalahkan itu. Setiap orang punya ketertarikan dan bakat sendiri, tak bisa di paksakan apalagi diberi label bahwa yang ini harus menguasai ini dan yang itu harus menguasai sisanya. Ia yang lebih banyak bergaul dengan komputer daripada alat2 dapur adalah sebuah kewajaran bagi rayyan.
Bayangan rayyan yang asyik di dapur membuat Ia tergerak menarik tubuhnya kesana, di tatapnya setiap sudut dapur yang menyimpan entah berapa ribu kenangan dalam bathinnya. Rak2 semi transparan itu menghadirkan kembali berset2 piring, gelas, pisau, panci, dan segala macam alat masak memasak beraneka ukuran yang tak pernah lagi Ia sentuh sejak rayyan tiada. Kerapian dapur ini menegaskan bahwa pemiliknya memang tak ada lagi disana. Ia tahu benar bahwa rayyan tak akan pernah membiarkan satupun sudut dapurnya tak rapi, semua hal harus tepat berada di tempat yang seharusnya. Karena itu Ia agak heran ketika melihat di salah satu rak diujung kanan samar2 tampak sesuatu yang tak seharusnya disana. Sebuah bungkusan coklat atau entah apa. Pelan2 dibukanya rak itu, ternyata yang dilihatnya tadi adalah sebuah plastik coklat berisi sebuah kotak berukuran 30x30x8cm. Kotak itu agak berat, Ia mulai menebak-nebak tentang apa isinya. Di dalah plastik itu juga masih ada sebuah nota pengiriman bertanggal 10 november 2007, 3 hari sebelum rayyan meninggal dan hanya seminggu sebelum ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga. Barang itu milik rayyan, tapi ini terasa sungguh aneh untuk Ia karena rayyan tak pernah begitu sembrono menyimpan barang2nya.
Dengan hati2 dibukanya kardus coklat itu, didalamnya Ia menemukan sbeuah piring persegi yang dibungkus dengan sterofoam transparan, sebuah penyangga dari kayu dan sebuah kartu dalam amplop coklat.
untuk Ia sayang…
namanya tertulis disana, jantungnya semakin berdebar ketika Ia mulai membuka kartu itu. Airmatanya mengalir deras ketika Ia mulai membaca kalimat demi kalimat yang tertulis diatas kartu itu, tapi kali ini.. tangisnya adalah tangis bahagia..
——4 bulan kemudian—–
Aia memandangi meja2 penuh dengan pengunjung yang sedang bersantap siang dari foyer tempatnya berdiri, aroma nasi mentega memenuhi rumah dua lantai yang disulap menjadi sebuah restoran Eropa oleh Ia 4 bulan lalu itu. Ada kebahagiaan tak terkatakan di binar matanya. Dari tempat itulah setiap hari Ia beraktifitas selama 4 bulan terakhir, mengawasi restorannya sendiri sekaligus meneruskan kecintaannya pada dunia komputer. Meskipun terhitung baru tapi restoran yang menyediakan berbagai menu eropa itu ternyata menyedot banyak sekali pengunjung, dan menu andalannya, nasi mentega.
Matanya beralih ke meja panjang di sebelah kanannya, sebuah piring pajangan sederhana tampak disana. Diatas permukaan piring itu tertulis resep nasi mentega favorit Ia yang dibuat dengan teknik grafir dan dihiasi gambar setangkai bunga mawar kuning. Disebelahnya sebuah kartu di simpan dallam figura kaca 2 sisi dengan desain minimalis, kartu yang yang membuat Ia mendapatkan lagi kebahagiaan yang hilang dari hidupnya, kartu yang membangunkannya dari keterpurukannya karena rasa kehilangan, kartu yang Ia temukan sore itu bersama piring pajangan yang sedianya disiapkan rayyan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga. Kalimat2 yang tertulis disana tak hanya indah dipandang mata, tapi juga energi tak terkira yang setiap hari menguatkan Ia.
Ia sayang,
jika suatu hari aku tak bisa menghidangkan sepiring nasi mentega untukmu di meja, percayalah bahwa itu bukan karena aku tak mau lagi melakukannya. Sungguh, jika Tuhan mengijinkan… aku ingin selalu melakukannya untukmu sepanjang hidupku demi membuatmu tersenyum.
Ingatlah juga bahwa di setiap piring yang tersaji di hadapanmu, selalu ada cintaku yang akan menemanimu, selalu…
—Jadi.. aku hadiahkan untukmu resep rahasiaku ini, kau harus mulai belajar membuatnya sendiri dari sekarang, LOL—-
Chef pujaanmu, Rayyan
Ahh.. bukankah cinta itu penuh keajaiban, sore itu.. di hari ulang tahunnya yang ke25 Ia menemukan kado terindahnya, sebuah kesempatan untuk hidup lagi bersama sebuah harapan baru, keyakinan baru dalam sebuah kotak coklat berisi piring pajangan dan kartu sederhana, ya…. keyakinan bahwa memang ada cinta yang tak pernah habis untuknya…
Dah mulai aktif online lagi ni rien…
Hai hai hai… hehehe, iya ney setelah sempet kehilangan file akhirnya bisa juga mood nulis lagi, dengan alur yang agak berbeda memang.. lebih pendek juga ney.. [pendek??? lirik ke atas.. LOL]
hurray! rin udah nulis lagi (joged seneng).
ceritanya simple tapi bisa membetot imajinasi pembaca…
hmm sebenarnya aq berharap juga tokoh rayyan digarap rin
hihihi.. tapi bagus koq ini ..
short and sweet..
terus nulis ya .. aku ikutin terus rin
nice…bagus , mengalir banget… keep writing…
keknya kata `LOL` itu yang membuat Ia menemukan kembali semangat hidupnya… hehe *paling bisa niy teteh yg satu ini*
Wah web-nya melo banget sich……. Susah dipahami oleh orang2x keras kaya’ aku….. He….. Permisi…. Blogwalkin’ mbak…..
Huhu.. terharu bacanya. Bagus, Rien..
theme-nya keyeeennn bo… kayai ada batik2nya
tapi tombol about n archive na masih ngawur kali yeeeeeee
Jadi ga tau mo nulis apa disini… mneyentuh banget.
salut & salam…
^_^ passing by again …. nice work … keep it up
Kalau memangnya habis ulang tahun, aku mau ngucapin met ultah aja?
Seneng banget bacanya euy.
salam kenal
REKANBISNISKU | blog rekan bisnis
Singkat tapi bagus… mirip “P.S. I Love You”, ya, tapi yg ini lebih ke bagaimana melanjutkan hidup… Bravo Mbak Rien…