I’m in love
Jatuh cinta memang selalu membuat kita salah tingkah, tidakkah begitu??? Membuat kita bertindak dan berpikir yang irrasional.
Setidaknya itulah yang aku alami beberapa bulan terakhir. Dan bodohnya, baru seminggu ini aku benar2 menyadarinya.
Semua berawal dari peristiwa beberapa bulan yang lalu ketika aku pindah ke Bandung, hari itu aku menyusuri jalan braga bersama beberapa sahabatku. Gerimis yang turun siang itu benar2 membuat aku terlempar ke sebuah dimensi lain dari waktu.
Dan disanalah –tanpa kusangka dan tanpa kusadari juga– cintaku padanya mulai bersemi…
Ahh.. dia..
Di sisi yang sama, sudut yang sama.. hampir setiap hari aku selalu melihatnya. Kadang ia memang tak disana. Tapi kehadirannya selalu menggoda mataku dan seolah memanggilku untuk sejenak berhenti didekatnya, bercengkrama dan mengaguminya.
Detik demi detik didekatnya selalu membuatku penuh gairah,memenuhi jiwaku dengan kebahagiaan, keingintahuan, harapan dan kekhawatiran pada saat bersamaan.
Tapi entahlah.. aku tak pernah ingin tahu lebih banyak lagi tentang dia, tidak juga untuk bertanya tentang kebenaran yang ada padanya.
Ya.. bahkan hingga hari ketika aku sadar bahwa aku mencintainya. Bukan karena apa2.. Tapi karena aku tak ingin kehilangan detik2 mendebarkan ketika setiap hari aku akan berlalu didepannya, aku tak ingin kehilangan detik2 penuh harap ketika menerka2 apakah dia disana di hari berikutnya.. dan aku tak ingin kehilangan gairah yang selalu kutemukan ketika bersamanya….
Karena begitulah cintaku hidup…
Pernah kubayangkan aku bisa melewatkan seluruh waktuku bersamanya. Tapi, tegakah aku mengambilnya dari tempat ia berada sekarang?? Mungkinkah cintaku juga bisa memberinya tempat yang lebih baik??
Mungkin suatu hari aku akan menangisinya ketika ia tak lagi terjangkau oleh pandanganku. Tapi aku yakin tak akan mengapa…
Kubiarkan saja lukisan itu disana, lukisan capung dan kupu2 berbingkai coklat yang selalu mengulas senyumku setiap sore hari ketika aku melintasi braga.. Karena aku tahu pasti, sinerginya bersama suasana Braga-lah yang sebenarnya membuatku jatuh cinta.. mungkin juga, ketika ia tak lagi tergantung disana.. cintaku tak bisa lagi setia kepadanya.
Benar-benar mengalir…
jadi pengen liat ke Braga nih!
Hayuk atuh ries, kopdar disana ajah..
Gambar lukisannya mana?
Oalah tak kirain jatuh cinta ama sapa, ternyata ama lukisan. kaya si wendy yang lagi jatuh cinta ama lukisan monalisa… (suka nonton Cagur Naik Bajaj gak?) besok beli…. kan dapet IPK
Mamet, klo dipindah dari sana.. rien justru nda yakin bisa tetep *bergairah* heheh
Btw memangnya dikira jatuh cinta ma sapa ~wink~
Mas San, I’l see wether I could post it someday..
jadi yang jelas aja, sama siapa, cowok apa cewek?
kalo tersangkanya salah satu cowok2 duktek, amit-amit jabang bayi lanang wedok……insap rien………..
Wah mama kiki, emang kita cowok apaan, cowok duktek kan keren-keren kaya pemain bola (ada yang mirip ronaldo, ronaldinho, etoo, drogba.. kecuali aku kaya kaka.. hehe).
~jedug, gedubrak, krompyang~
Mama kiki, woalah…. senes bu, senes.. lukisan bu, yakin..
Omnya sesa memang pantas mendapatkan julukan orang ternarsis sedunia keknya, hayuk atuh.. buka siganteng.com kan belum ada yang punya.
cerpen yang bagus nih ..
bagus banget ..
rasanya ada muatan hikmahnya ..
Lelouch, kalo yang ini non-fiksi..
sering denger jalan braga tp blom pernah kesana, jd penasaran nih
hehehe setelah baca berulang2, baru mudeng deh maksud tulisan ini..
*doh dasar telat mikir*
Iya mas h4rold80, kapan2 kalau memang berkenan ke Bandung mampir saja. Ada wacana untuk direvitalisasi ulang tuh.. ntar klo dah bener2 difungsikan sebagai pedestrian yang sebenarnya, pasti jadinya keren deh..
Ohh.. really, I can’t wait to walk along Braga with no disturbance from any vehicles. But when???
[...] aku mengambil RAINDROPS & HI HEELS sebagai blog title-ku, dan juga tempat yang mampu membuatku jatuh cinta lagi… tentu saja memberikan godaan luar biasa [...]