Dan saatnya telah tiba,sayang… [part IV-selesai]
Ku injak gas perlahan, aku coba menikmati perjalanan pulangku sore ini. Aku beruntung karena jalur pulang dan pergi ngantor melawan arus kemacetan bandung. Sebenarnya aku khawatir, sungguh aku masih bimbang dengan pilihan untuk mengirimkan kado ini atau menyimpannya.
Kebelokkan mobilku perusahaan ekspedisi langgananku. Aku mengambil tempat parkir yang paling ujung, sore ini hanya ada 3 mobil yang parkir disana. Kuangkat hand rem dan terdiam, kupandangi lagi kotak coklat yang kuletakkan di jok belakang mobil dan kuraih ke pangkuanku. Kubuka dan kuambil sebuah amplop berwarna coklat dan stiker kecil, tertulis ALDRIAN YUANDA dengan sebuah alamat lengkap di Surabaya.
Kukeluarkan sebuah kartu dan kubaca beberapa baris ucapan selamat ulang tahun disana, dan aku menangis lagi. Rasanya air mata ini begitu akrab di pipiku, terutama setelah dua pertemuan terakhir kami. Ketika itu dia bilang ia akan datang 2 hari setelah ulang tahunnya untuk merayakannya bersamaku, aku rasa… tak akan berbeda dengan tahun2 yang lalu, sebuah makan siang .
Akhirnya, kelelahan melandaku jua… aku selalu dilanda tekanan bathin yang menyiksa ketika mengingatnya. Seringkali di tengah malam aku terbangun dengan kepala yang pusing luar biasa, sungguh.. rasanya begitu berat memikirkan dia dan hubungan kami yang serba tak pasti ini.
Sehari sebelum ulang tahunnya, hari ini.. adalah klimaks dari semua rasa pedihku. Aku begitu ingin memilikinya, kubayangkan aku sedang membukakan pintu rumah kami dan menyiapkan sebuah pesta kecil untuknya, pesta yang hanya untuk kami berdua dengan lilin di setiap sudut rumah dan hidangan istimewa yang kumasak sendiri dengan tanganku. Bayangan yang membuatku kehilangan nafasku, setiap tahun… menjelang ulang tahunnya. Aku merasa seperti orang gila ketika menginginkannya dan aku rasa tahun ini aku sudah tak tahan lagi.
Kuusap airmataku, kubuka pintu mobil. Sambil membawa kartu, amplop dan stiker itu di tanganku kulangkahkan kakiku ke sudut sebelah kanan area parkir ini. Hanya beberapa meter dari mobilku, sebuah tempat sampah.. pelan kumasukkan ketiganya kesana. Dadaku semakin sesak dan airmataku mengalir semakin deras bersama lepasnya ketiga benda itu dari tanganku, kubiarkan diriku menangis kencang ketika sudah berada di dalam mobil lagi. Entah untuk berapa lama,
Begitu aku merasa sudah bisa mengendalikan diriku akhirnya kuarahkan mobilku memutar balik lagi mengikuti kemacetan, kali ini ke sebuah klinik besar di utara Bandung. Aku rasa aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang.
___…___
Kupandangi lagi wajahku di cermin kecil yang selalu menjadi bagian dari isi tasku. Mata ini sembab, tapi untunglah dengan sedikit polesan concealer ,blush on , dan lipstik orange aku bisa meyakinkan diriku bahwa wajahku tak lagi menggambarkan apa yang baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu. Kucoba lagi mengulas sebuah senyum sebelum membuka pintu mobil dan melangkahkan kakiku ke arah loby klinik itu dengan membawa kotak coklat berisi sweater tadi.
Wajah di balik meja resepsionist itu, seperti biasa menawrkan senyum ramah ketika ku dekati.
“selamat sore ibu aya, dokter sudah tahu kalu ibu datang??”
“belum suster, tadi tidak berencana kesini” jawabku
“ohh.. tinggal satu pasien lagi ibu, mau saya beritahukan kalau ibu datang??”
kugelengkan kepalaku..
“aku tunggu aja suster.. makasih ya..”
kususuri koridor yang menghubungkan loby dengan beberapa ruangan2 kecil di sebelah kiri. Tampaknya sore ini klinik ini sama lengangnya dengan perusahaan ekspedisi yang tadi kudatangi. Kuambil tempat di sofa biru tepat di depan ruang dengan papan nama yang menunjukkan siapa pemiliknya, dr.RADITYA Sp.S dokter spesialis saraf yang cukup terkenal di bandung.
kucoba untuk merasa senyaman mungkin sambil menonton tivi di seberang sofa. Sampai akhirnya seorang ibu2 berusia 50an tahun dan seorang gadis yang masih menggunakan seragam SMP keluar dari ruangan itu, tampaknya anaknya. Dibelakang mereka muncul sebuah wajah yang ingin kutemui sore ini, wajah tampan dengan senyum khas dan tubuh atletis berbalut jas putih. Dia sempat mengeryitkan dahinya sebelum akhirnya menyongsongku.
“hai.. kok nda telpon dulu kalo mau dateng”
“mata cekung, kecapekan ya??? “
aku hanya memberikan senyuman sebagai jawaban.
“tunggu bentar ya, beres2 peralatan di dalem trus kita keluar”
“ehhmm… qta semobil aja ya ntar yang satu biar disini aja” tawarnya
buru2 kutahan langkahnya
“tunggu, ini ada sesuatu”
kusodorkan kotak coklat tadi kepadanya… lagi2 wajah seriusnya muncul, dikeryitkan dahinya, dilemparkannya sebuah senyuman lalu menghilang lagi di balik pintu ruang praktiknya.
Kuputuskan sweater itu tak akan kutitipkan ke perusahaan ekspedisi manapun, dan aku rasa.. inilah saat yang tepat untuk mengakhiri semua yang sudah kujalani selama 3 tahun terakhir ini.
Kukeluarkan handphone ku dan mulai menekan beberapa tombol. Kubuka pesan masuk bertanggal kemarin..
“maaf.. kedatanganku harus diundur sehari lebih lambat sayang, aku harus menghadiri pentas seni si kecil di sekolahnya. Tq… I luv u”
kutekan tombol reply dan kuketikkan sebuah pesan sebagai balasan,
“mas, kau tak perlu datang untuk merayakan ulang tahunmu tahun ini, tidak juga untuk tahun2 berikutnya.. ”
kutekan tombol send, memandangi layar yang menampilkan sebuah nama dan aku tersenyum tepat ketika disaat yang sama dokter tampan itu keluar dari pintu yang sama dengan dimana dia muncul dan kemudian menghilang lagi tadi, kali ini bukan lagi dengan jas putih khas dokter.. tapi dengan sweater coklat kopi yang tadi ada di dalam kotak coklat yang kuserahkan padanya.
“terimakasih,sweaternya bagus… “
kuredam rasa yang berkecamuk di kepalaku, dan kulihat layar handphoneku, ALDRIAN dan sederet nomor yang sudah sangat aku hafal, lalu kutekan tombol “OK” sambil beranjak dari sofa, menerima uluran tangan dokter tampan itu, dokter raditya, suami yang menikahiku 6 tahun yang lalu…
Dan saatnya telah tiba sayang… untuk melepas semuanya dan belajar menerima, bahwa hidup tak selalu seperti yang aku inginkan.. Saatnya pulang….
:’-( mudah-mudahan aq pun bisa melewati ini semua seperti kisah di atas…
hanya perlu sebuah niat ries.. dan keyakinan akan datang padamu, menjadi jawaban untuk segala ragu yang menyelimuti hatimu..
Dan saatnya telah tiba sayang… untuk melepas semuanya dan belajar menerima, bahwa hidup tak selalu seperti yang aku inginkan.. Saatnya pulang….
Hiks
hiks
lha… jangan *hiks hiks* disini mas, tidak sedia tisu dan air minum.. (doh)
Mbok yo diupdate, niat ngeblok ora?
Cerpennya kren…
Btw itu cerpen fiksi or non fiksi?
Non fiksi??? (doh) ini fiksi atuh mas…
hem hem hem salam kenal ya dari koe
tengok juga blog ku yang lain http://webyme.co.cc
byme