Dan saatnya telah tiba,sayang… [part III]
“hoiii…”
lagi2 dana membuatku terkaget2, entah darimana datangnya tahu2 dia sudah berada disebelahkau lagi.
“kok ngelamun terus sih non, ampun deh.. lihat ney, aku aja dah bawa 2 kantong, ehh.. kamu masih asyik aja ngelus2 sweater itu”
“sorry.. bingung milihnya ney”
“itu yang lagi kamu elus2 bagus kok, coklatnya lucu.. buat pak dokter ya???”
aku hanya tersenyum, getir.. seandainya saja dana tahu…
kali ini aku beruntung sekali karena pembuat sweater yang kubeli sudah menyediakan kotak untuk menyimpannya, dan warnanya persis seperti yang kuinginkan.. coklat. Merk-nya tertulis dengan tinta emas di pojok atas, perfect. Hanya tinggal menambahkan sebuah kartu ucapan saja.
Kuucapkan terimakasih kepada kassa cantik yang sangat ramah kepadaku, terlihat masih muda, sekitar 20 tahun sepertinya. Jauh didasar hatiku, aku selalu berharap dulu aku bertemu dengan mas ketika aku masih seusianya. Masih punya cukup waktu untuk merancang semuanya. Aku sering berhayal tentang sebuah rumah kecil di kaki bukit dengan seorang lelaki bermata coklat disampingku tiap pagi, dia yang membangunkanku dengan secangkir kopi.
“Tapi bukankah ada garis nasib yang memang berada diluar jangkauan kita.. “ itulah kalimat penutup hayalanku.
____….____
Makan siang kali ini aku rasa tak seistimewa apa yang dana ceritakan, entahlah.. mungkin karena perasaanku yang sedang campur aduk atau karena hal yang lain lagi. Tapi tak apalah, tadi.. meskipun hanya beberapa suap saja rasanya aku sudah cukup kenyang. Dana sudah langsung mengantarkanku kembali ke kantor dan aku hampir bersorak kegirangan ketika menemukan dokumen yang tadi dibawa pak aji sudah berada di mejaku lagi, lengkap dengan tanda tangan boss besar tanpa catatan apapun. Itu artinya saatnya editing beberapa slide yang merupakan paparan dari angka2 ini, hanya tinggal mengganti beberapa bagian utama saja dan bagian lain akan menyesuaikan seperti mauku.
Semangat memang membuat segala sesuatu jadi lebih mudah, aku membuktikannya karena 3 jam sama sekali tak terasa. Tanpa kusadari banyak hal yang sudah aku selesaikan, sholat, menyempurnakan beberapa slide, memperbanyak dan mengirimkannya via email dengan beberapa penjelasan singkat, mengurus dokumen cuti dan terakhir, membereskan mejaku hingga tak terasa jarum jam sudah jauh berlari mendekati angka 4. Saatnya mundur, sudah terbayang di pelupuk mataku kamar yang nyaman dengan suara gemericik air yang menyusup lewat pintu kaca di samping tempat tidurku bersama angin sore yang menyejukkan. Rasanya, setelah seminggu penuh bergaul dengan ketegangan… momen2 seperti itu akan terasa begitu menyenangkan. Hanya tinggal esok pagi, meeting sebentar dengan boss besar untuk memberi gambaran umum lewat slide2ku. Tak ada yang perlu aku siapkan lagi, semua angka yang tertera disana rasanya sudah di luar kepala. Dan lusa.. aku bisa memulai liburanku, tak ada kewajiban bagiku untuk mengurusi urusan kantor lagi sampai seminggu ke depan.
Tapi tiba2 bayanganku buyar ketika melihat kotak coklat di sudut meja, semangat yang tadi kumiliki rasanya seolah2 langsung menguap begitu saja. Sebenarnya yang harus kulakukan adalah mengirimkannya, dan selesai…
___….___
“Aku akan pindah mas, kali ini tak bisa ditunda lagi”
“sudah setahun aku mengusahakan penundaan.. tapi kali ini tak ada alasan lagi”
airmataku menetes…
“tenanglah, kita masih bisa bertemu sayang. Kumohon.. jangan menangis”
“aku akan sering mengunjungimu meskipun jarak kita terpaut jauh”
seperti biasa, dia selalu mencoba menenangkanku
“aku tahu sebenarnya aku tak boleh bilang begini mas, tapi 2 tahun aku menahan keluh ini. Aku tak bisa membayangkan kita semakin jarang bertemu…”
“kesinilah, ke pelukanku. Aku mohon, jangan menangis lagi… lihatlah kita sekarang… meskipun di kota yang sama, dan setelah 2 tahun berlalu.. pernahkah kita melewatkan semalam saja bersama??? “
“tak akan ada yang berbeda sayang”
Digenggamnya tanganku, dia benar… sudah 2 tahun sejak pertama kali aku bertemu dengannya di sebuah gallery milik sahabatku. Saat itu aku sedang mengagumi sepasang lukisan kupu2 yang menurutku mempunyai aura yang tak terkatakan, dan tahu2.. dia sudah berada disebelahku.. bergumam sendiri tentang lukisan itu, hingga sejurus kemudian aku juga bergumam dan kami saling bertukar pendapat tentang lukisan itu.
Ketika akhirnya kami saling melempar senyum dan mengulurkan tangan, tak pernah kukira bahwa akhirnya kami akan melewatkan berbagai pameran2 lain berikutnya bersama2.
Hubunganku dengannya bisa dibilang aneh, aku tahu aku begitu menyayanginya dan begitupun sebaliknya. Aku tahu dia akan melakukan apapun untukku dan aku tak akan pernah keberatan untuk memberikan semuanya untuknya. Tapi hubungan kami selama 2 tahun terakhir berwujud lukisan, gallery, kafe, restoran, buku, kopi, butik, peluk dan cium, tak pernah bisa lebih.. bahkan meskipun kami begitu menginginkannya. Tidak juga untuk membawa hubungan kami ke arah yang lebih serius, tentu saja…
Pertemuan kami biasanya hanya 2 minggu sekali, kadang hanya 2 bulan sekali ketika kami terhisap oleh kesibukan masing2. Tapi justru itulah yang membuatnya tak pernah membosankan. Aku selalu merindukan tiap detik pertemuanku dengannya. Aku bisa membagi apapun kepadanya, bercerita berjam2 di sampingnya sambil menikmati kopi adalah hal terbaik yang bisa kulakukan untuk menyembuhkan kepenatanku selama berbulan2.
Pernah kami merencanakan liburan berdua ke Indonesia timur, tapi rencana itu tak pernah terwujud karena banyak hal.
Ada satu kesepakatan tak terucap dalam hubungan kami, kesepakatan yang terbentuk oleh diamnya sang waktu.. kesepakatan yang berbunyi “kami tak boleh berpikir tentang masa depan hubungan kami”. Ya.. keadaanlah yang membuat aku tak mungkin berjalan disampingnya sebagai pendamping seumur hidupnya, meskipun bayangan itu selalu menari2 di pelupuk mataku.. bayangan yang aku yakini juga ia lihat di matanya.
Kemejanya basah oleh airmataku, tapi dia tak melepaskan pelukannya..
‘’kau harus pergi sayang, ini berat untukmu… berat juga untukku”
“kita tahu persis kemana kaki kita harus melangkah dan kita berhasil menjalaninya selama ini, kuatkan hatimu….”
“aku akan berusaha untuk mengunjungimu sesekali, aku yakin kesempatan itu akan datang kepada kita”
Diusapnya rambutku, dan ditatapnya dalam2 mataku.. menguatkan, menyuntikkan keyakinan dan energi kedalam jiwaku yang luka.
Dia selalu menepati janjinya, 3 bulan sekali dia selalu meluangkan waktunya untuk menemuiku, sekedar untuk makan siang dan menikmati kopi bersama. Terakhir… 2 bulan yang lalu ia datang, berjanji akan kembali.. minggu ini.
Wah begitu mengalir ceritanya.. sudah lama suka bikin cerpen Mba’?
Oh iya makasih udah dimasukin blogroll blog saya, Blog Mba’ Rien-pun akan saya simpan di friendlist saya
Keep writing Mba’
Sudah lama sekali mas Ihwan, dulu ketika SMP. Setelah itu sey.. rajinnya menulis surat-surat nda jelas (LOL). Sekarang.. rien mencoba lagi menulis, apapun itu.. berharap bisa memperkaya diri sendiri, semoga… terimakasih sudah sudi mampir dan terutama sekali untuk supportnya.
Wah termasuk surat untuk mantan pacar kyknya Heuheuheu… Bgmna pndpatnya mngnai manfaat menulis untuk ketajaman fikiran dan perasaan Mba’, setujukah?
Apa sudah gabung d komunitas penulis novel n cerpen?
Wahhh.. kalau pacar malah nda pernah dapet surat dari rien mas ,hehehe
Setuju sekali kalau dikatakan menulis banyak memberi manfaat untuk mengasah ketajaman fikiran dan perasaan. Proses menuangkan ide ke dalam kata2 membuka lebih banyak lagi pemahaman karena sadar atau tidak proses ini selalu melewati *perenungan*, sesuatu yang bagi kebanyakan orang *jarang* dilakukan karena terjebak oleh apa yang ada di depan mata.
Komunitas… belum terpikirkan untuk saat ini, masih menikmati autisme mas. Sampai kapan??? rien tidak tahu, mengikuti kata hati saja..
[...] Cerita sebelumnya [...]
siang mbak atau mas ya
bercanda
byme tengok juga http://webyme.co.cc
semangat