Dan saatnya telah tiba,sayang… [part II]
"Bu aya, bu… ibu… “
Aku tergagap ketika sadar ternyata satpam kantor berdiri hanya beberapa langkah di depanku.
“ehh, iya pak..”
“maaf, teman ibu sudah menunggu sejak beberapa menit yang lalu”
“ohh.. iya, makasih ya Pak”
di balik dinding kaca, tepat di depan pintu utama, sedan merah hati milik dana sudah menunggu. Kaca depannya di turunkan sehingga aku bisa melihat dengan jelas supir yang sewot disana, wajah dana tampak berkerut2. Seketika itu juga senyumku mengembang. Ada perasaan senang kalau makhluk mungil itu mulai memasang wajah cemberut, dia terlihat lucu dengan kemarahan yang tak pernah bertahan lama karena kami tahu bahwa tak pernah satupun dari kami sengaja melakukannya.
Udara yang hangat langsung terasa ketika langkah kakiku tepat melewati pintu kaca yang memisahkan drop area dan loby yang baru saja aku tiggalkan. Tapi dingin yang tadi kurasakan akhirnya kutemukan lagi dari hembusan AC di mobil dana, dan… hangat itu pergi lagi dengan cepatnya.
Kusyukuri dingin ini, aku tahu bahwa hangat itu akan berubah menjadi panas yang membakar kulitku jika aku melangkah lebih jauh lagi melewati halaman gedung ini dan berdiri lebih lama di luar sana. Bandung memang sudah banyak berubah, cuacanya menjadi ekstrem sekali. Aku tahu persis hal itu, meskipun aku bukan penghuni asli yang sudah bertahun2 disini, tapi dulu aku begitu sering mengunjungi Bandung yang pernah kutemukan dengan kesejukan menyelimuti setiap sudutnya.
“kok ngelamun aja sey, dari tadi aku dah lihat kamu tapi kamunya malah melongo aja.. ini juga masih kayak setangah sadar setengah enggak, untung satpammu dah hapal kalo aku kesini pasti jemput kamu”
tanyanya dengan wajah tersungut2
“sorry dan… lagi banyak pikiran”
“udah, urusan kerjaan itu mah lewatin aja. Kalo nggak hari ini kamu nggak akan punya waktu buat kesana, kamu sendiri yang bilang”
aku hanya mengangguk pelan, ahh.. bukan karena itu dana…
Cukup 15 menit dan mobil dana sudah terparkir di tempat yang kami tuju.FO baru ini memang bagus, setidaknya interior dan konsepnya yang terlihat sangat matang. Konsepnya yang meniru istana-istana romawi begitu kental diramu di setiap sudut bangunan, meja, rak, cermin, dan beberapa bangku berhiaskan ukiran klasik tampak tanpa cela. Gordyn, wallpaper, sampai lantainya pun digarap dengan begitu teliti mulai dari pemilihan corak dan juga warnanya. Belum lagi air mancur di tengah ruangan dan beberapa patung yang ada, rasanya seperti berada di sebuah istana marmer, hangat dan homy sekali.
Satu2nya yang membuatnya berbeda dengan sebuah istana sungguhan adalah pemandangan gantungan dan tumpukan entah berapa ribu potong baju aneka bentuk yang ditata apik sesuai warna dan jenisnya di seluruh ruangan.
Kulihat dana begitu bersemangat.
“tuhh kan apa kubilang, keren kan tempatnya.. masih banyak item yang didiskon ney”
“aku ke ujung dulu ya, kemarin ada baju yang aku taksir…”
“semoga belum ada yang nglihat ya.. soale kemaren aku sembunyiin tuh agak ke pojok , hehehe”
Ekspresi usilnya muncul, aku hanya menggelengkan kepalaku menanggapi kalimat itu, dan hanya dalam beberapa detik, tubuh mungilnya sudah menghilang di antara deretan baju2 cantik berwarna pink dan putih di sebelah kanan tempatku berdiri.
Kuikuti petunjuk di bagian tengah ruangan, tepat di sebelah tangga yang tampak begitu anggun mengular tepat di seberang air mancur dihadapanku. Hmm… men’s wear ada di lantai dua rupanya. Kuputari air mancur itu menuju ke arah tangga.
Tanpa terburu2 aku menaiki satu demi satu anak tangga marmer ini, kunikmati dingin yang pelan2 menyusup di telapak tanganku. Dingin dari pegangan tangga marmer yang aku rasa terbuat dari bahan berkualitas tinggi, tapi entahlah.. mungkin juga sebenarnya tidak bgitu. Tapi untuk awam sepertiku menyentuhnya membuatku merasa benar2 seperti menyentuh sutra, halus dan dingin… agak kontras dengan aura ruangan ini yang serba hangat dengan dominasi kuning gading dan putih
Pemandangan di lantai dua tak jauh berbeda dengan apa yang aku lihat di lantai satu, hanya saja yang kutemukan disini adalah deretan baju2 untuk pria dan anak2 dan penataan ruangan dengan beberapa ornamen yang lebih ‘lelaki’. Hanya perlu sekali mengedarkan pandangan ke penjuru ruang ini untuk menemukan apa yang kucari, deretan sweater itu tepat berada di ujung foyer yang lagi2 dibatasi marmer, persis seperti pengangan tangga yang baru saja aku lewati. Di antara deretan gantungan2 itu sebuah manekin tampan ditata dengan posisi seolah sedang duduk melamun, memandangi lantai sambil meletakkan tangan di atas dadanya. Seperti seorang lelaki dengan kesedihan yang menyesaki dadanya. Ahh… tampaknya kesan hangat dari sweater berwarna coklat yang dipakaikan kepadanya tak mampu mengusir kesan dingin dan sendiri yang dirasakan manekin itu.
Hatiku berdegup kencang ketika mengayunkan kakiku kesana. Aku sendiri tak tahu sebenarnya perasaan apa yang berkecamuk didadaku.
Kubolak balik puluhan koleksi sweater dengan berbagai warna itu. Kebanyakan menggunakan warna monochrome dan gradasi dari coklat juga biru. Sebagian lagi menggunakan bahan dengan warna2 terang seperti yang sedang kupegang sekarang, merah maroon… sepertinya bagus, tentu kalau aku yang memakainya.
Entah berapa kali kuamati tiap detail dari sweater2 itu, tapi akhirnya aku kembali menatap sweater yang sama. Sejak awal mataku sudah tertumpu pada sebuah sweater rajut berwarna coklat kopi dengan motif geometris di bagian dada. Kesan sederhana membuatnya tak terlalu mencolok diantara yang lain, tapi justru kesederhanaan itu yang membuatku terpikat. Mengingatkanku pada dia, sosok pribadi yang tampak bersahaja tapi selalu mampu menghangatkan segala suasana di sekelilingnya. Tampaknya, itulah kenapa banyak wanita yang mengaguminya. Kubayangkan dia memakai sweater itu dan aku bersandar disana. Aku yakin dia akan menyukainya…
___….___
“Ayolah.. ceritakan padaku kenapa mas tidak mau membeli sweater baru lagi?? Yang aku tahu mas selalu memakai hitam dan abu2 saja”
Aku bergelayut manja di lengannya ketika menemani dia memilih setelan jas yang akan ia kenakan untuk sebuah acara resmi di Jakarta. Setiap kali kami mempunyai waktu belanja bersama, dia terlihat tertarik dengan beberapa koleksi sweater yang kami temui. Tapi dia tak pernah membawa pulang satupun dari mereka bgitu juga dengan sweater yang baru saja kami temui.
Matanya mengerling nakal,
“ehmmm… “
“coba tebak mana yang benar.. “
“aku memang tak suka memakainya, atau… aku tak punya cukup uang atau….:
“atau apa?” tanyaku
“atau karena sweater itu kenangan dari mantan kekasihku dulu..?”
Mantan kekasih?? Ahhh, nampaknya dia memang senang sekali melihatku tersungut2. Aku tahu dia sedang menggodaku dari caranya menatapku sambil menanyakan pertanyaan itu, tapi.. bisa jadi yang dia katakan benar. Kulepaskan tanganku dari lengannya.
“tak suka memakainya, tampaknya tidak… mas beberapa kali memakai 2 sweater itu meskipun tak bisa dibilang sering”
“tak punya cukup uang apalagi, alasan yang mengada2”
“kalau kenang2an mantan sey.. mana aku tahu..”
Jawabku sambil memindahkan pandanganku ke deratan dasi2 classy di sebelah kiri kami
“hehehehe”
dia tertawa senang, kulirik sekilas wajah nakalnya yang sengaja menggodaku. sungguh.. saat2 seperti inilah saat dimana tak ingin sedetikpun aku lewatkan. Mata dan tawanya seperti bocah kecil, hanya keceriaan yang kulihat disana… kejujuran dan ekspresi yang tak pernah dia buat2.
dan selalu, sejurus kemudian dia sudah mengekori langkahku, sesekali mencubit pelan atau sengaja menggandeng lenganku, sesekali juga memelukku, dan sesekali menyenggolkan bahunya seolah tak sengaja.
Masih dengan wajah menggoda di bisikkannya beberpaa kalimat dengan logat melayu yang kental,
“adoww… adek ney, cemburu selalu… masa kerana sweater sahaja adek tak nak lagi beri abang seyum adek yang manis tu.. ”
dia masih terkekeh
“okay…. Dengar sayang. Begini, aku tak ingin membeli sweater baru karena merasa belum perlu saja. Tak ada alasan khusus yang lain. Dua sweater itu juga bukan aku sendiri yang membelinya meskipun sebenarnya, seperti yang kamu bilang, aku cukup suka memakainya. Dan.. ya…sweater itu memang kenang2an, dari para kekasihku ..”
“bukan mantan, tapi masih kekasihku , ke ka sih ku… ”
tampaknya dia menunggu perubahan ekspresiku,masih dengan senyum nakalnya. Setelah agak lama dia menatapku dan aku rasa yang dia cari tak ditemukan, dia melanjutkan kalimatnya…
“Kau tahu… satu dari mama di tahun kedua aku pindah ke Jakarta, dan satu lagi dari lisa, oleh2 dari jepang”
wajahnya berubah serius ketika menyebut nama lisa.. adik kandungnya yang meninggal beberapa tahun yang lalu karena kanker. Kurangkul lagi lengannya..
“aku tak benar2 cemburu kok mas.. meskipun itu dari mantan kekasihmu, atau bahkan kekasihmu sekalipun.. apalagi kalau itu dari mama n lisa. Aku memang tak boleh merasa begitu”
“kalau tidak. aku tak akan pernah punya kesempatan indah bersamamu”
“maafkan aku ya mas”
“dengar sayang, akulah yang harus meminta maaf kepadamu untuk semua keadaan ini..”
“ahhh…. Seandainya saja..”
wajahnya bertambah sendu, duhh.. aku rasa aku mengucapkan kata2 yang salah lagi..
Buru2 kuletakkan telunjukku di bibirnya, saat2 seperti ini selalu terasa menyesakkan. Dia mengerti, sekian tahun bersama.. ada kesepakatan tak terucap diantara kami bahwa moment sekecil apapun yang kami punya tak boleh dirusak oleh hal2 seperti ini.
“kalau suatu hari aku membelikan satu untukmu, maukah kau memakainya mas??”
“tentu saja, asal tak ada gambar kartun atau bunga-bunga besar, atau gambar2 aneh yang lain disana”
dia mengerling lagi, dan kami tertawa bersama… lepass…
Aku terus menerus tertawa bersamanya hari itu,hmmm… satu setengah tahun yang lalu dan ingatanku masih begitu segar tentang segala kejadian yang kami lalui.