Rienayesha's Raindrops & Hi Heels

Dan saatnya telah tiba,sayang… [part I]

November12

Adzan baru saja terdengar dari masjid di komplek kantorku, membelah siang yang panas terik, menyiramkan dingin yang menenangkan di hati. Kulirik jam tanganku, 11.44 ehm… masih harus menunggu 15 menit lagi untuk meninggalkan meja.

Kupaksakan diri menelusuri kembali deretan angka di lembar lembar kertas di tanganku meskipun rasanya kepalaku sudah berat, menagih haknya untuk diistirahatkan. Berharap kerja kerasku ini benar2 tanpa cela sehingga aku bisa bebas mengambil cutiku lusa. Memang, sudah seminggu ini aku lembur sampai larut malam demi lembar2 laporan ini. Kata “revisi”, “konfirmasi”, “crosscheck” terasa begitu akrab denganku, begitu mudah ditemukan di lembar2 bahan laporan, di telpon , email, dan nota2 kecil yang menempel di papan yang ada disebelah kananku.

Sebenarnya ini pekerjaan rutin setiap empat bulan, tapi aku tak tahu kenapa kali ini banyak sekali kesalahan yang memaksakan brainstroming hampir di setiap saat.
meskipun aku coba, aku sudah tak bisa fokus lagi ke angka2 itu.. jadi, biarlah. Kalaupun nanti masih ada yang dipertanyakan, biar nanti saja kupikirkan lagi. Kupanggil Pak Aji, OB yang membereskan segala sesuatu di divisiku selama setahun terakhir. Ketika berkas laporan kusodorkan, tanpa kuberitahu dia sudah mengerti bahwa ia harus membawanya ke sebuah ruangan di lantai 3. Entah sudah berapa kali ia melakukannya dalam seminggu terakhir. Kuucapkan terimakasih sebelum ia berlalu.

‘coz I’m so sick of love song… so tired of tears. So down with wishing.. u r still here…’

tiba2 terdengar suara akon mengisi udara tepat saat mataku tertumpu pada arloji di pergelangan tangan, kulirik layar handpone yang bergetar di sebelah keyboard. Telepon dari dana, sahabat karibku 3 tahun ini. Meskipun malas, aku meraihnya dan mau tak mau akhirnya menekan tombol hijau disana.

“hi dan”

“hi non.. masih sibuk ya??? aku dah on the way ke kantormu ney, kemaren aku ke FO yang pernah aku ceritain kemarin.. koleksinya joss banget tuh, blom lagi tempatnya yang homy buuuuuuanget.
Jadi pokoknya hari ini kita kesana aja ya.. nda sah ke FO langganan kita dulu”

dana bgitu bersemangat di seberang sana, dan… ehh.. ohh.. ke kantor??? FO??
Dohh… kupukul jidatku..

“hei… halo…”

sambungnya penasaran setelah aku tak bereaksi apa selama sekian detik

“eh iya.. anu.. ehh… sorry, he eh”

kataku terbata-bata

“kamu kenapa sey??? jangan ngelamun dong, gimana ney.. jadi kan?? Ntar habis itu kita maksi di sebelahnya tuh, ada iga bakar yang lezat banget”
“atau, gi sakit ya???”

“enggak kok dana… oke deh, aku turun ke loby sekarang. kita bertemu disana”

Kurapikan beberapa lembar kertas yang memenuhi mejaku. Kusambar dompet dan segera aku beranjak dari ruanganku.

Aku baru ingat, minggu lalu aku sudah membuat rencana untuk hari ini bersama dana. Mengunjungi sebuah FO baru di pinggiran kota Bandung untuk berburu kado. Kuturuni satu persatu anak tangga yang membawaku ke lantai dasar dengan perasaan yang aneh, ada perasaan enggan dan gamang untuk pergi siang ini terutama sekali karena kado itu. Sejak 3 tahun yang lalu di tanggal yang sama dengan hari ini sebuah kado dengan kotak berwarna coklat pasti sudah tersimpan di lokerku. Kado itu…

___….___

“Thank you say, aku suka perpaduan warnanya. Aku rasa kalau aku memakainya aku bertambah macho ney”

dipandanginya jam tangan sport yang baru saja ia lingkarkan di pergelangan tangan kirinya sementara tangannya yang lain masih memegang kotak coklat berukuran 10 x 10 x 6 cm yang tadinya adalah kotak pembungkus jam tangan itu.

“kalau begitu sebaiknya hadiahnya aku minta lagi” kataku

“lho.. kenapa??”

“kalau mas tambah macho pasti semakin banyak wanita yang mengikuti mas, belum pake jam itu saja aku harus bersaing dengan banyak wanita di luar sana”

Meskipun tak benar2 serius.. aku sewot dan berlalu pergi, menuju rak di belakang sofa tempat ia duduk. Meneliti koleksi buku2nya dan berharap menemukan buku yang cukup menarik untukku hari ini. Tiba2 lengannya sudah melingkar di pinggangku.

“sayang, meskipun ribuan wanita mengikutiku, aku tak akan meninggalkanmu karena mereka”

“apa jaminannya? Tak akan ada yang bisa menjamin suatu hari kau tak akan berpaling dari aku mas” jawabku tanpa menoleh kearahnya

“stttt…”

Dibalikkannya tubuhku dan ditatapnya dalam2 mataku yang hanya sekian centi dari mata coklatnya. Tatapan penuh kesungguhan yang selalu membuatku meleleh dan tak berhenti berharap bahwa mata itulah yang akan kulihat ketika pertama kali aku terbangun di pagi hari.

“kau tahu aku memang tak bisa memberikan jaminan apapun padamu,tapi aku yakin kau tahu aku mencintaimu melebihi siapapun”
“dengar… jam ini memang bagus sekali, dan itu bertambah istimewa ketika kau yang memberikannya padaku… tapi sungguh aku lebih peduli bahwa ini adalah tanda cintamu, itu adalah nafasku say”
“tidakkah begitu???”

Cintaku.. nafasnya… dan lagi2 matanya bersinar ketika mengangkat daguku dan mengecup bibirku meneriakkan ribuan kata cinta dalam kesenyapan.

“terimaksih.. untuk cinta dan jam macho ini ya,”
katanya sambil tersenyum… senyum yang membuatku tak pernah berhenti merindukannya. Kuanggukkan kepalaku mengiyakan.

Jam itu adalah hadiah ulang tahunnya yang ke 33, aku berkeliling Surabaya untuk mencari jam itu setelah aku melihatnya disebuah situs belanja online dan berusaha memesannya tapi mereka tidak memiliki stock lagi. Setelah menjelajahi 4 mall berbeda, aku begitu girang ketika menemukannya di mall terakhir dan… tinggal satu2nya.
Begitulah aku, ketika jatuh cinta.. maka segala upaya akan aku perjuangkan. Dan ini juga tentang dia, si macho dengan jam tangan baru di pergelangan tangannya.. meskipun aku tahu bahwa kami tak akan pernah benar2 saling memiliki, meskipun pada akhirnya aku tak pernah bisa memilih upaya apapun untuk diperjuangkan.
Tapi waktu membuktikan, aku memang tak menyerah tentang jam itu, tapi aku menyerah pada garis nasibku.

___…..____

posted under Cerpen
5 Comments to

“Dan saatnya telah tiba,sayang… [part I]”

  1. On November 12th, 2008 at 6:59 pm sireum Says:

    hmm… cerpen tentang cinta, tentang harapan, tentang alir peristiwa yang membuatku merasa bahwa sesuatu terjadi tidak memerlukan alasan. dia alir bersama waktu. menjadi bagian dari waktu, dari hidup.

    perempuan itu mungkin memang menyerah pada garis nasibnya, tapi kurasa selama jam itu masih hidup dan berdetak, dia belum menyerah. dia akan mengikuti ke mana pun si lelaki pergi. jam itulah kuncinya.

  2. On November 13th, 2008 at 12:17 pm rienayesha Says:

    ~smiling~ hidup penuh teka-teki kan?! selalu ada 1001 kemungkinan di luar sana..

  3. On November 15th, 2008 at 8:51 pm slam Says:

    sayang ya aku gak boleh kasih komentar

  4. On November 16th, 2008 at 9:17 am rienayesha Says:

    Hehehe, ntar ya.. klo dah selesai semua part-nya, boleh kok.

  5. On January 17th, 2009 at 9:33 pm lingkar sobat blogger naralatu » Blog Archive » Dan saatnya telah tiba,sayang… [part II] Says:

    [...] Cerita sebelumnya [...]

Email will not be published

Website example

Your Comment: