Rienayesha's Raindrops & Hi Heels

Mengejar Mbak-Mbak

October3

Seminggu yang lalu, tepatnya sehari setelah asisten yang selama ini membantu segala pekerjaan yang berhubungan dengan rumahku mudik ke Cilacap,  aku sempat terkaget-kaget ketika membersihkan bagian belakang rumah kontrakan tersayang ini. Beberapa piring saji kesayangan sudah berjejer rapi disana. Hanya saja kali ini dalam kondisi yang mengenaskan, kotor dan tidak utuh lagi. Yang membuatku agak gusar bukanlah ihwal si cantik yang pecah, tapi mengingat selama ini ‘blass’ tidak ada laporan tentang barang rusak dirumah padahal jauh-jauh hari sudah diingatkan untuk JUJUR. Aturan sudah jelas, barang rusak tanpa faktor kesengajaan tak akan pernah diminta ganti, tapi laporan adalah keharusan. Kejadian barang-barang kesayangan tak bisa diselamatkan bukanlah yang pertama, tapi seingatku belum pernah asisten-asisten itu dihampiri amarahku gara-gara hal ini mengingat sudah terlanjur. Dan acara terkaget-kaget itu ternyata berlanjut sampai hari ini ketika menemukan ini dan itu dalam keadaan tak terduga. Akhirnya, niat untuk mengganti asisten di rumah bulat lat lat lat dan itu artinya Pe Er baru lagi buatku.

Urusan asisten yang di rumah disebut Si Mbak ini memang lumayan menguras pikiran, tenaga sesekali, dan tentu saja uang. Selama 4,5 tahun terakhir terhitung sudah 6 kali berganti Mbak. Sebelum pindah ke bandung memang rien selalu memakai jasa dua Mbak, bukan apa-apa.. tapi kekhawatiran tentang hani yang mungkin kurang terawasi membuatku melakukan usaha apa saja untuk memastikan hal itu biasa diminimalisir. Aku termasuk ibu bekerja yang beruntung karena selama ini mendapatkan mbak baru [ketika diperlukan] tanpa kesulitan apa-apa, menengok teman-teman ketika di Jakarta yang seringkali kelimpungan dengan urusan yang satu ini. Sampai-sampai seorang sahabat menobatkan masalah ini sebagai EVERLASTING WORKING MOM’S AFFAIR dan well, aku dan teman-teman yang lain-pun mengiyakan.  Ketika ada salah seorang dari kami yang bermasalah dengan Si Mbak, maka bisa dipastikan seluruh komunitas  pegawai putri menyebar bisik-bisik di kantor sibuk nanya kanan kiri membantu mencarikan pengganti… [ohh.. how I miss those moments].

Memilih Si Mbak memang gampang-gampang susah, seperti mengejar layang-layang saja. Keberuntunganlah yang pada akhirnya bicara. Ahhh…. jadi inget juga sederet nama yang pernah menyandang predikat Si Mbak yang selama ini berjasa untuk rien, mulai dari Mbak Mi, Mbak Is, Mbak Mela, Mbak Yus, Mba Yaroh, Mbak Indri [yang kesemuanya berasal dari keluarga besar yang sama] dan yang terakhir Mba Hevi. Ada yang masih sangat muda, baru lulus SMP sampe yang sudah berusia sepantaran ibu. Ada yang super duper rajin sampe bisa menyelesaikan kejar paket C dengan nilai bagus selama bersama rien, ada yang malesnya minta ampun dah menghabiskan waktu bertelpon ria sepanjang hari. Ada yang sopan pake buanget, ada yang nda ngerti unggah-ungguh juga. Ada yang sangat JUJUR dan ada juga yang hoby berbohong. Dan tentu saja, sederet nama itu berakhir dengan sebuah kriteria panjang yang sekiranya harus dimiliki the next Mbak. Memang, sejujurnya rien sendiri tak terlalu yakin ada yang sesempurna itu.. tapi apa salahnya mencoba. Lagipula, memang begitulah yang sewajarnya, kesempurnaan kadang terbantahkan ketika dilihat dari sudut berbeda… dan lagi-lagi ini  sepertinya tentang  toleransi seperti pengejaran sebelumnya.

So… saatnya berlari, Mengejar Mbak-Mbak… dan kali ini, harus dengan semangat tinggi…

 

posted under Daily life
One Comment to

“Mengejar Mbak-Mbak”

  1. On November 7th, 2008 at 3:33 pm slam Says:

    kok gak pernah diupdate mbak?

Email will not be published

Website example

Your Comment: