Rienayesha's Raindrops & Hi Heels

Doa untuk sahabatku…

September18

Hari ini longgar seperti biasa, alhamdulillah. Dan seperti biasa juga ku berlomba dengan waktu berusaha untuk mengubah detik-detik membosankan di depan mataku menjadi menyenangkan, menyulut semangatku sendiri. Setelah buku tak berhasil.. akhirnya aku putuskan membuka file-file lama yang kali ini berisi puisi, tema yang masih mengepulkan asap di kepalaku…Dan inilah salah satu yang aku temukan,

BUKAN CINTA

pagi ini…

untuk kesekian kalinya…

perempuan itu tetap diam

melangkah di jalanan yang sama

mencoba memenuhi hatinya dengan harum melati

mewarnai jiwanya dengan indah pelangi

dan mengaliri dirinya dengan segarnya embun pagi

bukan dengan rekah2 kelopak sang bunga

bukan dengan bias sang cahaya yang memayungi awan

dan bukan dengan kilau  kristal di ujung dedaunan

tapi dengan sebuah bayang berbingkai harap

meski dia tahu..

dia tak akan pernah bisa

karena nama itu,

tetap saja…

BUKAN CINTA

Bandung, 25th of April

Puisi lama yang aku buat ketika baru tiba di Bandung. Terispirasi dari seorang sahabat yang tak jua menjatuhkan tambatan hatinya meskipun usia sudah bisa dibilang lebih dari sekedar matang, gundah yang sering ia bagi kadang membuat aku bertanya2 kenapa ia seolah tak mencoba menjawabnya sendiri. Dan itu akan dia akhiri dengan kalimat yang sama “Cinta itu kan nggak bisa dipaksain rien, aku mencobanya berkali-kali dan selalu gagal” tentu saja setelah sekian jam mengalirkan cerita tentang si A dan si B yang ternyata tak berhasil menumbuhkan cinta dalam hatinya.

Glekk…  aduhh, kalau diajak berdebat tentang makhluk bernama cinta aku rasa sebaiknya aku mengalah. Sesekali hanya tergoda untuk bertanya sebenarnya dimana letak kesalahannya, takdirkah atau memang kita.. manusia yang tak tahu bagaimana cara yang benar untuk menjalaninya, atau mungkin ini hanya tentang ego dan ketidak bersediaan kita untuk melihatnya dengan cara yang berbeda, wallahu a’lam.. aku tak berani mengira-ngira lagi.

Hanya doa yang selalu aku panjatkan semoga hari yang dinanti akan tiba untuknya, dimana sang tambatan hati mengandeng tangannya untuk berjalan bersama…. melewati sebuah pintu baru untuk menyempurnakan setengah agamanya.

posted under Daily life, Renungan

Email will not be published

Website example

Your Comment: