Rienayesha's Raindrops & Hi Heels

Keajaiban bernama ‘Sang Waktu’

December10

 11112009404

Kehidupan memang penuh keajaiban. Apa yang ada di genggaman kita saat ini bisa saja hilang hanya dalam hitungan detik dan juga sebaliknya, dalam tempo yang sama apa yang bahkan tak pernah terpikir untuk bisa kita miliki  tiba-tiba sudah di tangan. Betapa berartinya detik demi detik itu, tapi nyatanya kita [terutama aku pribadi] jauh lebih sering mengabaikannya. Detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun-tahun di belakang banyak yang berlalu begitu saja tanpa greget apa-apa.

Read the rest of this entry »

Bintang Pentas

November16

Saya…
Sang bintang pentas
Bekerja bila malam tiba
Malam kujadikan siang
Siang berlalu penuh mimpi

Dari pentas satu ke pentas yang lain
Aku nyanyikan suara hati….

Aku menyanyikan lagu yang sama, entah untuk keberapa ratus kalinya.. Masih juga diiringi orkes melayu pimpinan Mas Jarwo, orkes melayu yang sama juga. Apakah salah kalau akhirnya aku benar-benar merasa bosan. Ya.. meskipun pada awalnya lagu ini adalah lagu yang paling aku sukai. Tapi Mas Jarwo bilang banyak penonton yang meminta aku tampil dengan lagu itu, katanya suaraku sangat mirip dengan si empunya lagu. Pujian yang tadinya sempat membuatku begitu tersanjung.

Read the rest of this entry »

posted under Cerpen | 2 Comments »

Lelaki bisu dan perempuan sepi

March19

–Perempuan Sepi–

Memuakkan, membayangkan bahwa esok aku tak bisa menemuimu lagi. Bukan sayang.. bukan menyedihkan, tapi memuakkan. Bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun kita bersama akhirnya kita harus berpisah dengan cara yang jauh dari sekedar menyakitkan, cara yang amat sangat tidak pantas.

Read the rest of this entry »

posted under Cerpen | 23 Comments »

Sepotong DeJaVu Untuk Asti

February11

Asti, bagaimana kabarmu disana?? tidak terasa lima tahun sudah aku tak lagi mendengar papaun tentangmu kecuali bahwa tanah yang kita pijak saat ini tidaklah sama. Sejujurnya, lima tahun juga sesekali aku dipaksa berusaha semampuku melupakanmu, berjuang memendam kerinduan yang mengalir dan mengarus di ruang-ruang jiwaku, mencoba melawan semua kegelisahan yang sering kali menyusup diam-diam diantara hariku As. Sering.. aku berhasil menepikanmu, tapi tetap saja tempat-tempat yang dulu kita singgahi, makanan-makanan yang dulu kita nikmati, jalan-jalan yan dulu kita susuri dan entah berapa banyak hal lagi yang dulu pernah kita bagi.. selalu saja datang dan menarikku kepada ingatan akanmu.

Read the rest of this entry »

posted under Cerpen | 23 Comments »
« Older Entries